Bagaimana jika kuceritakan padamu bahwa sebenar-benarnya asal-usul manusia adalah sungguh hasil evolusi makhluk sebelumnya? Bagaimana jika Adam tak pernah ada dan peradaban bukan dimulai oleh dua individu buangan surga, melainkan adaptasi sekelompok manusia purba? Bagaimana jika segala cerita nabi-nabi dalam kitab hanyalah dongeng, dan sengaja dikisahkan peradaban terdahulu agar manusia yang semakin kompleks memiliki peraturan…
Hilangnya Gema Lokananta
Jujur kukatakan padamu bahwa Solo telah berhasil membuat hatiku jatuh saat didatangi pertama kali. Kota Istimewa yang tanpa status istimewa ini hadir dalam raut sederhana tanpa hiasan nan dilebih-lebihkan. Mungkin memang begitulah seharusnya sebuah kota, dilihat dan didekati secara apa adanya. Disinggahi, dihuni, dan dicintai secara jujur tanpa harus merujuk pada hal yang serba indah.…
Pandai Besi, Seniman Gamelan Yang Dilupakan
Suara dencing besi menyambut ketika langkah kakiku memasuki dapur tempa pembuatan Gamelan di desa Bekonang, Solo. Terlihat sebuah bara logam sedang menderita dalam nyala pembakaran ditengah ruangan, menjadikannya merah sempurna. Sesekali blower listrik ditiupkan, menyebabkan percikan api melayang-layang kesegala arah. Hanya sedikit bias cahaya matahari yang menerangi. Barangkali suasana memang sengaja dipertahankan remang agar mudah…
Sekaten, Sebenar-Benarnya Pesta Rakyat
Remah hujan masih terasa dalam bentuk jalanan becek dan rerumputan basah. Senja telah habis digantikan malam berwarna kelabu. Tak ada Aldebaran, tak terlihat Canopus pun Orion yang memburu Scorpio. Awan menyelimuti langit dengan penuh, namun tidak sedikitpun mengurangi keceriaan Sekaten di alun-alun utara keraton Surakarta. Rangkaian acara yang didaulat hadir sekali dalam setahun ini rutin…
Kampung Rinca dan Nasib Para Nakhoda
Setelah melewati perjalanan panjang antara Sape dan Manggarai, akhirnya aku tiba di Labuan Bajo. Saat itu paras pagi masih bermandi embun, sebutir matahari muda merayap pelan di posisinya untuk menandai timur. Sejauh mata memandang hanya samudera biru tiada berhingga, diatasnya membentang gelanggang awan terbang melayang. Segera tercium aroma petualangan di udara, rasa senangku limpah ruah,…
Pantai Batu Kalang dan Ingatan Purba
Seorang anak dengan muka kusam dan badan bau peluh berlari menuju sebuah rumah di pojokan sawah. Dia terlihat buru-buru seolah sedang dikejar sesuatu. Tanpa sempat melepas seragam putih dan celana merah pendek, anak tersebut sudah keluar lagi dengan tangan menjinjing sepeda. Berlagak seperti montir ternama, dia memasang mimik serius dan mulai berjongkok memeriksa keadaan. Matanya…
Jembatan Akar dan Sebuah Perjalanan Kontemplatif
Sungguh aku malu tiap kali ditanya “Sudah kemana saja kalau di Padang.” Kepalaku pasti akan langsung menunduk sembari berucap “Tidak kemana-mana.” Jujur kukatakan padamu bahwa aku memang belum pernah bepergian di kampung halaman. Dibesarkan dalam ritme hidup super sibuk membuatku tak sempat melihat-lihat pekarangan rumah sendiri. Pagi sampai siang dihabiskan di sekolah, siang sampai sore…
Malin Kundang, Si Durhaka Dari Tanah Sumatera
Langit sedang mengamuk kala itu, menumpahkan badai yang sangat. Di tengah lautan terlihat sebuah kapal besar yang sibuk digoyang kemarahan samudera. Debur ombak menghantam segala yang melintas di atasnya. Layar-layar lebar dari kain terbaik mulai compang camping dihempas angin kencang. Begitu riuh, begitu menakutkan. Malin Kundang, sang kapten kapal bersimpuh menahan gentar, pucat pasi menghiasi…
Merekam Jejak Siti Nurbaya
Memang sungguhlah piawai Marah Roesli dalam mengeja aksara, menyusun deretan kata demi kata. Novelnya yang berjudul “Kasih Tak Sampai” menjadi salah satu karya sastra yang tak lapuk dimakan waktu. Dia bercerita tentang luka, getir dan cinta yang kandas antara Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri. Lilitan hutang memaksa orang tua Siti Nurbaya harus rela menjodohkan anaknya…
