Selamat datang di thelostraveler

Silakan masuk, anggap rumah sendiri. Bagi yang baru berkunjung, kuucapkan maaf belum bisa menyuguhkan minuman. Barangkali jika kelak kita bertemu, aku akan berusaha menjadi tuan rumah yang lebih baik. Mungkin dengan menyediakan kopi, atau teh jika kau tak keberatan. Setelah itu kita akan berbicara tentang apa saja. Mulai dari buku terakhir yang kau baca atau musik terakhir yang kau dengar.

Barangkali jika kelak kita bertemu, jangan terkejut bila ternyata aku susah untuk bersikap santun. Mungkin saja ketika kau berbicara, kakiku akan sering naik ke atas kursi. Percayalah, aku sudah demikian bahkan sejak mengenal bangku Sekolah Dasar, dudukku tidak pernah baik. Kuharap kau tidak terganggu dengan itu, bukankah apa yang kita bicarakan jauh lebih penting daripada bagaimana gaya duduk yang kupilih?

Barangkali jika kelak kita bertemu, jangan terkejut bila ternyata aku tidak secerewet apa yang kutuliskan. Bukan perkara pelit suara, tapi memang kadang riuh yang ada di kepalaku, sulit untuk kuterjemahkan. Aku adalah seorang pendiam yang baik, semoga pendengar yang baik pula. Kuharap kau bisa bersabar barang beberapa menit, aku perlu mengenalmu dulu sebagaimana kau perlu mengenalku lebih jauh.

Untuk sementara, bacalah dulu apa-apa yang telah kutuangkan di halaman ini dan halaman-halaman lain. Meski kuakui, halaman yang sedang kau baca sekarang adalah halaman paling sulit yang pernah kutulis. Kau tahu, seperti berbicara pada diri sendiri, tentang diri sendiri. Namun setidaknya, cukuplah untuk bisa menjadi sebuah jabat tangan dari kejauhan.

Di thelostraveler, aku banyak menuliskan pengalaman personal. Destinasi boleh sama, pengalaman belum tentu. Ia bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain. Harapanku, dengan mencatat perenungan-perenungan yang diperoleh saat berjalan (yang sayangnya banyak dari kita enggan melakukannya), kenanganku mengenai suatu tempat dapat abadi. Sebab kuyakin menulis adalah apa yang tetap menjaga namamu di dunia ketika mati tak membawamu ke mana-mana.

Jadi, tidak perlu bersusah-susah mencari perihal apa yang harus dilihat, bagaimana cara menuju ke suatu tempat, di mana harus menginap, atau makan, atau belanja, dan sebagainya, dan seterusnya. Tidak akan ada, percayalah. Jangan buang waktumu, blog ini bukan sebuah travel guide. Apalagi jika sedang berada di kantor dan menikmati wifi perusahaan, ada baiknya blog ini ditutup saja. Tidak baik membuang jatah yang sudah dibayar kantormu untuk membaca tulisan yang kukira akan sia-sia.

Tentu setiap orang memiliki cara dan jalan sendiri dalam mengisi blognya. Ada yang berbagi kisah, berbagi tips, berkeluh kesah, berbagi rincian perjalanan, dan itu sah-sah saja. Sampai saat ini aku percaya bahwa mengisi blog ibarat mengatur perabotan di dalam rumah, setiap orang memiliki selera dan cara sendiri. Tentu tulisanku juga demikian, semoga ia dapat menemukan pembacanya sendiri, dan kelak dapat berjalan lebih jauh ketimbang langkah kakiku sendiri.

Barangkali jika kelak kita bertemu. Ah, bukan. Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya.
Salam
Yofangga Rayson
thelostraveler

Email: yofangga@gmail.com
Twitter: @yofangga
Instagram: yofangga

8 thoughts on “Author”

  1. “Tentu tulisanku juga demikian, semoga ia dapat menemukan pembacanya sendiri, dan kelak dapat berjalan lebih jauh ketimbang langkah kakiku sendiri”.

    Suka bagian ini. Thelostraveler, salah satu travel blog yang selalu saya tunggu tulisan barunya. Sudut pandang penulisan ajaib, perbendaharaan kata melimpah. Peka dan jeli meraba momen yang ada di perjalanan. Siapa pun yang baca mungkin sadar: penulisnya doyan baca.

    Terus menulis, terus jadi inspirasi!

    1. Aduh bang, berat sangat beban yang kau kasih di pundakku. hahaha
      mari kita sama-sama tetap menulis, dan belajar tentu saja.
      Anyway, terima kasih sudah bertahan jadi pembaca hingga kini ya bang 😀

  2. “Barangkali jika kelak kita bertemu, jangan terkejut bila ternyata aku susah untuk bersikap santun.” <<< Seingatku, kamu justru bersikap maniiiiis banget saat kita ketemu dan ngopi-ngopi.

    Eh, kapan kita ngobrol lagi? Seneng lho ngobrol dengan dirimu. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan sampai lupa bergibah. Tapi… aku gak mau disuguhi teh atau kopi. Maunya babeldring yang ada jeli-jelinya itu

    1. Itu dulu manis gegara mampir di Tuban mbak. Kalo ga sopan ntar aku ga bisa pulang ke Malang 😀
      Yuk lah, kapan ketemu lagi
      main-main lah ke ibukota mbak, ntar gantian aku yang traktir kopi.
      Ceileh, gaya sekarang udah nyebut-nyebut ibukota 😀

  3. untung aku baru bertemu denganmu, setelah tiga tahun berselang. tak ada yang berbeda, hanya potongan rambutmu yang memendek, dan pipi yang bertambah kurus. selebihnya, walau kau sudah bertandang ke negeri-negeri yang jauh, kau tetap yofangga yang pemikir.

    karena kau minum kopi, sih.

    1. Iya nih mbak, tambah kurus, haha
      mamaku pasti sedih kalo tau anaknya makin ga berisi 🙁
      hhmmm..
      jadi emang berlaku ya, si peminum kopi pemikir sedangkan si penyesap teh romantis 😛

Leave a Reply