Memang sungguhlah piawai Marah Roesli dalam mengeja aksara, menyusun deretan kata demi kata. Novelnya yang berjudul “Kasih Tak Sampai” menjadi salah satu karya sastra yang tak lapuk dimakan waktu. Dia bercerita tentang luka, getir dan cinta yang kandas antara Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri. Lilitan hutang memaksa orang tua Siti Nurbaya harus rela menjodohkan anaknya kepada seorang saudagar tua kaya raya bernama Datuak Maringgih. Nafas adat diselipkan dengan kental dalam tulisannya, sehingga kisah ini terasa begitu hidup dan terus dikenang ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.

Sang penulis menyajikan kekolotan budaya yang sebenar-benarnya. Dia seolah ingin menunjukkan perihal penindasan terhadap wanita yang merupakan bentuk perbudakan tertua, ternyata masih berlangsung tak kasat mata. Menyadarkan kita bahwa hidup tak selamanya memberikan kebahagiaan dan bahwa tidak semua mimpi dapat diraih. Siti Nurbaya mati diracun suruhan Datuak Maringgih, Samsyul Bahri pun akhirnya berajal karena terkena parang saat berusaha membunuh sang Datuak.
atas jembatanKini sebuah jembatan bernama Siti Nurbaya dibangun untuk mengenang mereka. Membelah sungai Batang Arau dan menghubungkan kawasan Kota Tua Berok Nipah dengan kaki Gunung Padang. Jika saja kisah Siti Nurbaya benar adanya, mungkin jembatan ini akan menjadi tempat temu istimewa dirinya dengan Syamsul Bahri. Aku kerap membayangkan mereka berdua melepas rindu di atas lengan jembatan yang terentang, seolah merangkulkan jemari yang terpisah sambil menatap lagit senja berwarna merah saga.

Satu dasawarsa lebih dua tahun sudah jembatan ini kokoh berdiri, menjadi saksi beberapa peristiwa cinta lain. Sore ini aku memperhatikan lusinan muda mudi bergandengan tangan, seakan ingin membuktikan bahwa tak selamanya rindu tak berbalas, tak selamanya perasaan tak digenapi, dan cinta tak ditanggapi. Ada yang sekedar menikmati jagung bakar sambil sesekali genit mengusapkan tisu, membersihkan sambal di bibir kekasih masing-masing. Ada yang cuma duduk diam dengan kepala tersandar pada bahu, menikmati sepoi angin laut mencumbu dedaunan penuh goda. Ada yang mengokang kamera, memotret tiap sudut jembatan, mengabadikan kenangan dalam bentuk gambar-gambar diam.
lampuBeberapa orang lain terlihat sigap melompat ke motor mereka, kemudian melaju pulang. Meninggalkan jembatan yang diam. Manusia datang dan pergi, menitipkan ingatan yang lekang di deretan tiang listrik, di lampu jalan, di besi pegangan jembatan, di trotoar, di bangku-bangku pedagang, disemua tempat. Sedangkan jembatan masih setia menemani sungai Batang Arau di bawahnya.
jembatan siti nurbayaSaat malam datang dan anakan bintang mulai mengangkasa, kehidupan di atas jembatan tak kalah riuhnya. Permukaan sungai Batang Arau yang tenang berubah menjadi sebuah cermin besar memantulkan kerlap kerlip lampu jembatan. Begitu megah dengan warna warni yang benderang. Kapal-kapal berbagai macam ukuran mengangkat sauh, siap tinggalkan tempat tambat.

Marah Roesli. Sang penulis Siti Nurbaya memang telah lama sirna, tetapi guratan penanya tajam tertoreh di nama jembatan, selalu dikenang. Sebuah nama mungkin hanyalah nama, namun karenanya kita bisa memelihara ingatan, dan tanpanya ingatan tidak berarti apapun.
kapal kayu

18 thoughts on “Merekam Jejak Siti Nurbaya”

  1. Dijodohkan? Hari gini? Ini kan bukan zamannya Sitti Nurabaya lagi..
    Kira-kira begitu ya bukti betapa melegendanya novel karangan Marah Rusli itu. Entah generasi muda masa kini masih tahu siapa itu Sitti Nurbaya.

  2. Saya iri sekali pas baca posting ini. Iri sama diksinya, iri sama alurnya, iri sama ceritanya, yang paling utama iri banget sama photonyaaaa… Itu pake camera apa mas bisa tajem banget gambarnya?

    Keep on writting mas yofangga, saya sepertinya jatuh cinta sama blog ini, hahaha, padahal baru 2x visit 😀

    1. hehe, pake kamera DSLR kak, canon 500 D, lensa kit 18-55 🙂
      masih belajar2 foto juga sih
      siaaappp, bakalan terus menulis kok
      selamat tersesat di rumah sederhanaku
      feels like home

  3. Cakep banget penyajian tulisan nya, kaya akan kosakata makna. Duch jadi pingin pandai menulis seperti uda 😉
    Eh kalo malam seru nongkrong di jembatan siti nurbaya makan jagung bakar hahaa

Leave a Reply

%d bloggers like this: