Hutang Lama yang Tertebus

Dulu. Dulu sekali, saat masih belum mengenal sekolah, senja bagiku adalah waktu yang paling menyiksa. Terlebih ketika berserah-terimanya azan dan ikamah magrib. Aku akan sekuat tenaga diseret ke kamar mandi, ditelanjangi, dimandikan paksa, dipakaikan baju longgar, dan tiada peduli tangisku meraung, bedak itu, yang sampai sekarang masih kuingat baunya itu, akan ditaburi ke mukaku tanpa…

Sekali Lagi, Kota Malang

Selalu ada perasaan sendu tiap kali aku mengenang kota Malang. Penyebabnya jelas bukan karena kota itu gagal berbagi cerita bahagia, melainkan apa-apa yang tuntas diberinya mustahil untuk kembali diulang. Mafhum jika tiba-tiba saja hatiku meleleh saat berkesempatan mengunjunginya sekali lagi. Agaknya Malang bagiku telah menjelma kekasih yang pintar memaksakan rindu, yang padanya hatiku sudi jatuh…

Melaut dan Menakar Diri Sendiri

“Sudah biasa naik kapal, jadi tak masalah,” jawabku menyombongkan diri. Aku sama sekali tidak berbohong. Sejak dulu, telah bermacam-macam kapal kunaiki, mulai dari perahu kecil nelayan selebar dua hasta, sampai kapal besar dengan ukuran lambung bisa berdepa-depa. Mulai dari yang bercadik dua, sampai yang bermesin ganda. “Ya sudah, nanti kumpul di sana. Jam tiga.” Ucap…

Bukan Cerita Tentang Pantai

Kepalaku masih pengar mencari sudut mana yang akan diambil untuk menceritakan Sowan dan Remen, dua pantai yang kabarnya terletak di pesisir utara Tuban. Orang bilang cerita ya tinggal cerita, tapi bagiku menceritakan pantai punya kerumitannya sendiri. Kerumitan yang kukeluhkan sebenarnya bukan tanpa sebab. Pantai, di manapun letaknya, selalu memiliki pemandangan tunggal dan seragam. Jika tidak…

Tablolong dan Jabat Tangan yang Sebentar

Setelah menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, akhirnya lelaki itu datang bersama temannya. Mereka keluar dari aspal utama dan berkelok ke setapak kecil, setapak yang diselimuti pasir halus sehingga roda motor bergulir sedikit terseok-seok. Si pengendara kemudian menekan pedal rem pada salah satu sudut yang dirasa pantas, menurunkan standar motor, dan menewaskan bunyi mesin. Ia membunuhnya dengan sebilah…

Kwan Sing Bio dan Perlunya Toleransi Beragama

Sekali lagi, aku merasa begitu berutang budi pada sebuah perjalanan karena ia memberiku ruang untuk berkontemplasi. Entah bagimu, tapi bagiku berjalan adalah sebuah usaha pencarian, baik itu tentang hidup, maupun tentang Tuhan. Aku pernah sujud di Masjid sebagaimana pernah berdoa di Gereja. Aku pernah sembahyang di Pura sebagaimana pernah membakar dupa di Vihara. Meskipun hal…

Pada Akhirnya, Ia Adalah Monumen yang Percuma

Laut Jawa, lima belas mil ke utara Tanjung Pakis. Pukul satu, malam gelap, hari ke dua puluh bulan Oktober, seribu sembilan ratus tiga puluh enam. Sebuah kapal penumpang sepanjang 54 depa, bermuatan penuh manusia, miring dan berasap dan nyaris karam. Orang-orang berlarian, menolong jiwa sendiri-sendiri, dengan bermacam-macam jalan. Peluit evakuasi yang terlambat, menjerit-jerit, menggema sebagai…

Cerita Dari Pasar Kapan Yang Murung Tak Berkesudahan

Mengarahkan pandangan saat melakukan perjalanan adalah sebuah pilihan. Aku berhak memilih untuk melihat segala hal baik dan meniadakan yang lainnya. Untuk apa mahal-mahal membeli tiket, lalu bepergian ke laut dan gunung gemunung, menghabiskan uang yang dikumpulkan dengan memeras keringat jika kemudian hanya melihat perihal-perihal tengik yang kepalang sering hadir di keseharian?