Bagaimana jika kuceritakan padamu bahwa sebenar-benarnya asal-usul manusia adalah sungguh hasil evolusi makhluk sebelumnya? Bagaimana jika Adam tak pernah ada dan peradaban bukan dimulai oleh dua individu buangan surga, melainkan adaptasi sekelompok manusia purba? Bagaimana jika segala cerita nabi-nabi dalam kitab hanyalah dongeng, dan sengaja dikisahkan peradaban terdahulu agar manusia yang semakin kompleks memiliki peraturan tak cuma dari pemerintahan, namun dari kuasa lebih tinggi yang kita kenal dengan nama Tuhan?

Kadang terlalu banyak “bagaimana jika” lainnya yang mungkin tak pernah kan terjawab hingga akhir zaman. Di negeri tercinta ini, kita seringkali terlalu canggung untuk bertanya dan ditanya mengenai iman, demikian adanya. Keyakinan memiliki tempatnya sendiri, sedari kecil kita diajarkan untuk merawat kepercayaan di dada masing-masing. Aku tak akan berbicara tentang benar-salah, karena menurutku, selama masih berada dibawah matahari, tak ada yang namanya benar mutlak dan salah mutlak. Kita semua hanya membenarkan dan menyalahkan.

Lantas bagaimana semestinya memilah dan memilih yang terbaik sedang umur begitu singkat untuk memahami segala? Manusia akan lahir dan pergi lagi, begitu seterusnya dan selebihnya. Pasrah saja tentu bukan sebuah jawaban, jika ingin kaya sudut pandang, maka belajarlah dari sejarah. Belajarlah dari museum. Belajarlah lewat jejak-jejak penciptaan yang telah sedia mengabadikan kisah-kisah masa lalu, tentu saja dengan kepala terbuka tanpa diikuti dogma-dogma agama.
museum sangiranSaat sempat mengunjungi Solo beberapa pekan lalu, kuluangkan waktu untuk menjenguk barang sejenak museum Sangiran yang berada kalijambe. Situs purbakala ini mulai dilirik sebagai lokasi penelitian semenjak Von Koenigswald menuliskan laporan mengenai penemuan sejumlah alat serpih dari batuan jaspis dan kalsedon di sekitar Bukit Ngebung. Nama ahli paleontologi Belanda ini kembali diapresiasi saat penggalian selanjutnya berhasil menemukan mandibula manusia purba Pithecanthropus Erectus, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Homo Erectus. Sepeninggal masa Koenigswald, ekskavasi fosil-fosil hominid Sangiran diambil alih oleh para peneliti Indonesia, yang terus berlanjut hingga kini
penelitiSampai di penghujung jalan saat hendak memasuki loket pembayaran retribusi, aku disambut oleh gerbang portik berbentuk dua gading gajah purba raksasa. Dibawah gapura megah ini, aku mendecakkan beberapa kekaguman perihal perjuangan para ahli arkeologi dan pemerintah Indonesia agar museum Sangiran diakui Unesco sebagai salah satu situs warisan budaya dunia. Tak sia-sia memang.

Mengembara di museum ini memanglah serupa melintasi lorong waktu kehidupan. Dalam ruang paling mula, aku disambut dengan rupa-rupa kekayaan situs Sangiran. Selain fosil Homo Erectus dan perkakasnya, sebagian besar fosil berupa sisa-sisa tulang vertebrata, seperti gajah purba, kerbau, banteng dan badak. Barangkali hewan-hewan inilah yang dahulu dijadikan mangsa buruan mereka. Aku berjalan mengitari ruangan ini secara betah, melirik satu-satu diorama maupun foto-foto dan grafis pendukung ilustrasi.
tulangtulang bantengMenyambung langkah masuk dalam ruang pamer kedua. Tema yang diusung adalah “Steps of Humanity”, bercerita tentang awal dunia dan semesta yang bermula berdasarkan skala waktu geologis. Mulai dari zaman precambrian penuh bakteri mikroskopis, proses evolusi dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan penyebaran manusia keluar dari Afrika hingga mendominasi dunia.

Pembabakan waktu inipun digenapi oleh dokumentasi visual yang runut dan lengkap. Mulanya terdapat Lucy dari genus Australopithecus Afarensis sang hominid paling primitif, dilanjutkan kisah pemburu pertama bernama Australopithecus Africanus dan Australopithecus Robustus nan berbadan kekar. Lalu kemudian genus baru muncul dalam kebudayaan Olduvai, yaitu Homo Habilis yang mulai membuat perkakas dari batu. Semakin menjauhnya waktu, hadir sekumpulan hominid pintar bertukang yang menjadi pengembara pertama keluar dari Afrika, Homo Erectus.
sangiranDijelaskan pula tentang turunan Homo Erectus yang berhasil migrasi sampai ke Eropa melewati semenanjung Arabia, yakni Homo Neanderthalensis dan Homo Cromagnon. Mereka hidup dalam kelompok kecil hingga akhirnya punah karena perubahan iklim dan persaingan lahan jajahan dengan Homo Sapiens, manusia modern yang juga keluar dari Afrika dan sampai di Eropa empat puluh lima ribu tahun yang lalu. Sebuah perjalanan yang teramat panjang dalam sejarah kehidupan manusia.
erectusBagiku, museum sangiran berhasil menjadi seorang pencerita yang baik. Ia mengurai banyak benang kusut dan keraguan masa lalu satu persatu hingga jelas. Seumpama kisah Manusia Piltdown dari dusun Sussex, sebuah penipuan mengesalkan yang sempat mekar dan membohongi paleontologis selama empat puluh tahun. Hingga pada tahun 1949 dilakukan uji penyerapan florin dan diketahui bahwa fosil ini adalah gabungan antara fosil kepala manusia dengan rahang kera.
homo erectusPerjalanan belum selesai, selepas ruang dua aku dihantarkan pada zona terakhir yang berisi beberapa fosil dan diorama besar menggambarkan masa keemasan Homo Erectus. Perhatianku jatuh agak lama pada tengkorak-tengkorak batu Homo Erectus. Aku tak bisa berpura-pura buta dan tak percaya, bukti sejarah ini nyata hanya berjarak beberapa jengkal dari mata. Lamunanku akhirnya menguap ketika tak sengaja melirik diorama Homo Floresiensis yang ditemukan di Liang Bua. Sesambi sibuk mengokang kamera, langkah kakiku berpindah ditemani senyum yang tak mengenal henti. Pasalnya, fosil yang berumur delapan belas ribu tahun ini adalah salah genus Homo yang mengalami pengerdilan karena paleogeografi pulau terisolasi. Sungguh sebuah penemuan dengan harga tak hingga.
skullDisini kisahku usai, saatnya menuju pintu keluar. Dalam perjalanan pulang, diam-diam aku sepakat untuk membenarkan dongeng-dongeng museum Sangiran. Mungkin kesimpulan ini akan berbeda jika yang berkunjung lain kepala. Bukankah di awal sudah kusebutkan bahwa kita hanya bisa membenarkan dan menyalahkan?

“Res serias omnes extollo ex hoc die in alium diem” ucapku menirukan Platinus sebagai penutup. Apa-apa yang terasa susah pada hari ini, belum tentulah susah pada hari lain.

16 thoughts on “Museum Sangiran Dan Jejak Purbakala”

  1. Bolak-balik anter temen ke Sangiran ehh baru kemarin sama dirimu jadi tahu banyak dongeng, termasuk kisah si Lucy yang ternyata wow banget. Banyak yang ke Sangiran cuma “ooh” “cuma gitu ya” aja tanpa mendalami dongeng di museum tsb. Memang kerasa beda kalau jalan dengan teman yang suka dengan objek yang dikunjungi yah hehehe

    1. Site interpreter, ini yang masih jarang ada di lokasi pariwisata kita, kak Hal. Padahal kehadiran mereka bisa menjadi nilai tambah suatu destinasi.

      Btw seperti biasa postingan pujangga kita kak Yofangga sungguhlah melenakan, thumbs up! 🙂

    2. hehe, kebetulan aja ko, aku tertarik sama bidang ini
      beda lagi kalo diajak ke museum yang aku gak tahu apa2 paling juga bakal diem aja
      hehehe
      😀
      jadi, kapan nih ubek2 solo lagi?

  2. Teori penemuan manusia ini memnag penuh misteri sih. Kalau sampai ada bukti2 yg ditemukan, khan semakin masuk akal. Lha trus dibenturkan dengan kitab suci. Orang jadi bingung to ya. haha tapi nggak papa, itulah gunanya hidup, biar kita belajar terus menggali ilmu.

    1. hahaha, abis ini aku bakal nulis evolusi
      nah, mungkin pertanyaan mas ndob bisa nemuin titik terang
      yang jelas sih dua hal itu berbeda, sains dan agama jangan dipertentangkan, ntar gila 😀

  3. Kita membenarkan dan menyalahkan, maka kita berpikir, untuk tahu mana yang benar (dengan membenarkan), dan mana yang salah (kita menyalahkan). Kita berpikir, maka kita hidup. Cogito ergo sum 🙂

    Sangiran memang pencerita yang apik. Disajikan dengan begitu menggugah seperti ini malah bikin saya semakin penasaran untuk mendengar ceritanya langsung! Terima kasih sudah menuturkan sedikit curhatan Sangiran!! 😀

    1. hehe, selamat datang Gara 🙂
      Rene Descartes, benar, aku berfikir maka aku ada
      kita berfikir, untuk tahu mana yang benar tapi hanya untuk diri sendiri, bagi sebagian lain belum tentu
      karenanya kebenaran itu relatif, tak ada kebenaran mutlak disini 🙂
      terima kasih, senang kamu menikmati tulisan ini gara..

  4. Dulu saya pingin kesini om, tapi nyasar. Padahal deket tuh dari rumah sekitar 50 kman lah

    Wkakakkaka

    Padahal dulu ke wgm gak nyasar. Akibat terlalu percaya gps tuh bukanya nyampe sangiran malah masuk pelosol yang saya sendiri tidak tahu jalanya

    Wkwkwkwk

    Njemur om

Leave a Reply

%d bloggers like this: