Aku telah lupa bagaimana rasanya bergelantungan di atas ranting yang sedimikian getas oleh kemarau. Mencicip setetes embun di bawah ketiak daun-daun pohon. Aku rindu menciumi aroma rekah pagi di tetaburan taman bunga. Menari sembari mengumpulkan daun remuk dan merajutnya menjadi sarang tempat anakku menetas. Berkicau sepuasnya, bernyanyi tanpa paksa. Terbang sebebasnya, kemanapun aku suka.
splendidKini di tempat yang kusebut penjara ini tak lagi bisa kulakukan hal demikian. Para manusia itu telah merebutku dari segala. Memasukkanku ke kerangkeng baja, diperjual belikan seenaknya. Entahlah, padahal aku dan mereka masih memiliki detak jantung yang sama, kita hanya dilahirkan berbeda, aku burung yang tak bisa apa-apa, mereka makhluk yang bengis tiada tara. Aku masih belajar menemu makna, juga masih belajar meniti logika, tentang siapa yang sebenarnya pantas mendapat predikat pemangsa.
redbird gagak bird bird2Pasar Burung Splendid Malang, begitulah tulisan itu besar terpampang. Namanya benar memang pasar burung, namun banyak kutemui saudara baru, bahkan dari spesies berbeda. Bermacam bentuk, beragam rupa, namun satu nasib. Di sini aku bisa melihat Gagak berwarna malam. Ada juga Pelatuk yang bergaris pelangi, Murai bersayap langit, Nuri berbulu matahari, juga berpunggung daun, Jalak yang berjambul awan, dan berparuh emas . Mereka terlihat sendu, lagunya tak lagi cantik, kicaunya tak lagi menarik.
owl green birdDi bawah sana terkulai lemas anak si penguasa langit, mereka menyebutnya Elang Jawa. Manusia yang berkulit lebih putih senang memanggilnya dengan Javan Hawk-Eagle, sedangkan yang berkacamata tebal punya nama sendiri, Nisaetus Bartelsi. Tak banyak yang bersisa dari keluarganya, hanya tinggal ratusan ekor, dia pasti sangat kesepian. Tak main-main, mereka masuk dalam daftar burung appendix 2, langka, terancam punah dan dilindungi. Bulunya seputih salju, aku yakin hidupnya masih hitungan minggu. Dia sangat kedinginan, umur sekecil itu tentu butuh selimut dari sayap orang tua. Kasihan, dia menunduk lebih ringkuk dari saat masih di dalam cangkang, kurasa untuk tetap membuatnya hangat.
elang jawa elang jawa2Tahukah kau, sangat tidak nyaman sekali hidup sehari-hari hanya dilewati di dalam kandang. Menunggu waktu sampai ada transaksi, lalu dibawa pembeli entah kemana. Apakah selanjutnya akan dirawat? Atau malah akan dibiarkan sekarat? Memang benar kurasa hanya Tuhanlah begitu menyayangiku, dia menciptakan pohon. Manusia yang katanya juga sayang, hanya sanggup mencipta kerangkeng. Sungguh pedih waktu aku mengetahui tentang kebengisan manusia, jangankan terhadap satwa, kepada sesamanya-pun mereka masih bisa saling aniaya.

Dari kejauhan aku melihat ratapan binatang berbulu jarum, raga mereka tak lagi punya nyawa yang utuh, terkungkung membuatnya tinggal separuh. Tak jarang juga kudengar raungan hewan bersuara gemuruh, melengking ketakutan. Dari segala penjuru hawa putus asa tercium di mana-mana. Andai saja kita bisa berbahasa, andai saja kita bisa menunjukkan rasa kecewa, andai saja kita bisa melawan tak terima. Aah, tapi sekali lagi, kita hanya sekumpulan satwa yang tak bisa apa-apa.
landak kadalHari ini begitu ramai, pasar dipenuhi oleh binatang yang kita sebut manusia. Mulutnya menggumamkan lagu yang tak kukenal. Bahasa yang tak kupahami. Hanya menatap dengan heran. Mereka mondar-mandir dan tampak senang menonton kita. Apakah mereka pernah bertanya-tanya, seperti apa rasanya hidup di balik teralis?
monyetIngin ku teriakkan kata “Selamatkan Kami”, semoga saja diluar sana masih ada yang peduli.

36 thoughts on “Binatang Yang Kusebut Manusia”

  1. Pasar splendid ini mengingatkan saya akan hunting hewan percobaan untuk praktikum fisiologi zaman kuliah dulu. Ketika itu saya mencari katak & kelinci hidup untuk dianalisa organ dalamnya. Tulisan ini setidaknya merefresh memori saya & mmeberi gambaran kondisi terkini, terima kasih sudah berbagi akan tempat yang sudah lama tidak saya kunjungi.

  2. Saya ga tega melihat wajah dan mata2 mereka yg memelas, meringkuk di kandang kecil yang tak bebas bergerak. Kalupun mereka bisa berkata pasti mereka minta dibebaskan. Pernahkan mereka membayangkan jika mereka itu berada dalam posisi hewan2 malang itu, apakah mereka mau?

    1. makanya itu, kita lah yang seharusnya membantu mereka, walau dalam bentuk sekecil apapun..
      entah siapa yang harusnya mendapat sebutan binatang jika kita, manusia, memperlakukan mereka seperti itu

    1. hehe, ini surat dari binatang untuk “binatang” yang bernama manusia 😛
      hhhmmm, tulisan ini masih belum bisa dibilang sastra mbak put
      masih berupa aksara yang ringkih sini dan sana

  3. Thanks untuk tulisannya! Saya dari dulu selalu sedih dan merasa helpless dengan kenyataan bahwa Indonesia itu alamnya kaya, flora dan faunanya beragam, tapi semua itu taken fro granted. Kalau pratik ini terus terjadi bukan mustahil suatu saat kekayaan alam Indonesia cuma jadi sejarah yang hanya bisa dibaca saja.

    1. makasih uda mampir kak bama
      iyah, udah seharusnya kita juga ikut ngejaga wildlife nya indonesia
      apalagi yang masuk dalam kategori appendix
      semoga suatu hari masyarakat bisa sadar

    1. eeehhh, sama
      saya juga pernah melihara burung hantu
      (menyelamatkan sih lebih tepatnya, burungnya masih kecil, jatuh dari sarang dan gak bisa kembali, saya pelihara beberapa saat sampai bisa terbang, lalu dilepasin, hehe)
      ular juga pernah, tapi juga langsung dilepasin
      salam kenal juga mbak kazwini 🙂

  4. Splendid Malang, ya, ditempat itu banyak dijual hewan2 macam burung. Cuman, kita sendiri nggak tau bagaimana perasaan hewan2 itu dikurung di kandang yg sempit dan mungkin pengap.

Leave a Reply

%d bloggers like this: