Agar tak gagap lagi kau sebut cinta negeri, lihatlah mereka dalam gradasi putih dan hitam. Tetangga tak lagi berumput hijau, kita punya warna yang sama, tak lagi kaulihat mereka berbeda. Objektiflah dalam merasa, buktikan betapa indahnya nusantara.
bromooFajar telah singkap saat deras-daras angin meniup galak selendang mendung. Dari bekas gelap sembab malam, jejak mentari jelas terlukis. Pelan dan perlahan, garis merah di tatap mataku menunggal satu dengan celah bukit. Cadailah anak cahaya tadi agar tak bosan ia meniti langit. Biarkan tetap bara membakar permulaan hari.
horseDi pangkuan Bromo, dingin pagi menusuk hingga lengkung bibir sepi dari tawa. Tubuh tak henti memeluk gigil yang sangat. Kurasa sebentar lagi kawanan kuda dan para manusia bersarung akan menyanyikan kidung-kidungnya. Menyeru receh agar terkumpul, hingga asap di dapur senantiasa mengepul.
stairway to heavenMengapa pacuan detik tak pernah mau berhenti menggulung diri? Apakah ia tak lelah mendayung waktu? Cepat tak terasa siang mulai menjulang. Matahari kian sombong menggantang ubun-ubun. Dalam keluh yang bercampur peluh,  jenjang gunung Brahma tegap kudaki. Menyinggahi singgasana para dewata.
bromo blackKawah tetap menganga menantang langit, ditengahnya masih saja neraka belerang menggelegak tak henti. Mengepul juga putih asap dengan bau yang semakin tak sedap. Barangkali mereka masih haus dengan persembahan Roro Anteng dan Joko Seger yang tak genap.
cross pathBukan salah matahari atau musim yang mengangsu air dari keringnya pasir berbisik. Tetaplah menari di pelataran garis tegasnya, biar debu sibuk dengan hingar sesukanya. Mulailah memintal memori hingga kekal kepala dengan cerita, salah satu cara bijak dalam melekangkan usia.

28 thoughts on “Hitam-Putih Bromo”

  1. Suka dengan setiap deretan kata yang tersirat penuh makna,
    Terkesan dengan tiap gambar yang membuat mata semakin berpijar,
    Kagum dengan gaya penulis memapaskan bromo dengan penuh melankolis.

  2. Salam kenal.
    Tulisan-tulisan di blog ini sukses membetot perhatian saya untuk membaca isinya lebih banyak lagi. Ibarat mistisnya Toba dan Samosir, blog ini ibarat Batu Gantung yang selalu dilihat orang-orang sebelum mereka menyebrang ke Samosir.

    *saya malah ikutan mistis begini:)*

    1. terimakasih sudah terlanjur mampir dan betah berlama disini 🙂
      hehe
      salam kenal
      saya juga pernah menulis tentang samosir, ah, suatu saat semoga bisa kesana

Leave a Reply

%d bloggers like this: