Sekali lagi, aku merasa begitu berutang budi pada sebuah perjalanan karena ia memberiku ruang untuk berkontemplasi. Entah bagimu, tapi bagiku berjalan adalah sebuah usaha pencarian, baik itu tentang hidup, maupun tentang Tuhan. Aku pernah sujud di Masjid sebagaimana pernah berdoa di Gereja. Aku pernah sembahyang di Pura sebagaimana pernah membakar dupa di Vihara. Meskipun hal…
Kwan Sing Bio dan Perlunya Toleransi Beragama
Pada Akhirnya, Ia Adalah Monumen yang Percuma
Laut Jawa, lima belas mil ke utara Tanjung Pakis. Pukul satu, malam gelap, hari ke dua puluh bulan Oktober, seribu sembilan ratus tiga puluh enam. Sebuah kapal penumpang sepanjang 54 depa, bermuatan penuh manusia, miring dan berasap dan nyaris karam. Orang-orang berlarian, menolong jiwa sendiri-sendiri, dengan bermacam-macam jalan. Peluit evakuasi yang terlambat, menjerit-jerit, menggema sebagai…
Dua Juta Pustaka yang Menunggu Untuk Dibaca
Membaca dan berjalan adalah dua dari sekian anestesi yang sering kugunakan untuk bertahan di kehidupan yang semakin degil ini. Kadang aku menggunakan salah satu, bila sedang benar-benar jangar, kutenggak dua-duanya sekaligus. Jika sudah demikian, tak ada lagi yang lebih kuinginkan selain berlama-lama menikmatinya. Seperti yang tengah kuhadapi sekarang, setelah setengah hari berputar-putar di jantung kota…
Sydney dan Kaum yang Berdarah-Darah
Bulan Mei adalah bulan penghujung bagi angin untuk menggugurkan daun-daun di jantung kota Sydney sebelum akhirnya mengalah pada musim dingin. Suhu udara berkisar di angka belasan derajad celcius, masih cukup sejuk dan menyenangkan bagi para kaukasia untuk berkelana. Sedang bagiku, yang terlahir dengan darah tropis, terpaksa rela menggigil sepanjang hari, entah itu pagi, siang terik,…
Cerita Dari Pasar Kapan Yang Murung Tak Berkesudahan
Mengarahkan pandangan saat melakukan perjalanan adalah sebuah pilihan. Aku berhak memilih untuk melihat segala hal baik dan meniadakan yang lainnya. Untuk apa mahal-mahal membeli tiket, lalu bepergian ke laut dan gunung gemunung, menghabiskan uang yang dikumpulkan dengan memeras keringat jika kemudian hanya melihat perihal-perihal tengik yang kepalang sering hadir di keseharian?
Nada-Nada Sendu Sasando
Seluruh bulu remang yang tumbuh di tengkuk, di lengan, juga di betis kakiku berdiri mendengar lantunan nada dari alat musik petik yang dimainkan oleh papa Jeremias. Sejuk, denting suara sasando itu sejuk sekali, seperti gemericik air di hulu kali.
Batu Tua Itu Bernama Fatumnasi
Motor yang kami tumpangi terus bergerak ke utara menjauhi Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pelan saja, sebab tak mungkin menipu batas kecepatan yang setia dijaga oleh kerikil dan aspal rusak. Selain itu, kontur tanah yang kami lewati juga semakin lama semakin menanjak, semakin tinggi menjemput matahari. Kasihan jika harus memaksanya mendaki sambil…
SMESCO dan Harapan yang Diusung
Saat kepercayaan masyarakat mulai porak poranda sebab janji penguasa hanya terselip waktu kampanye, SMESCO hadir bagai oase di tengah ladang gurun tak bertepi. Benar, lembaga yang bekerja di bawah kementerian negara koperasi usaha kecil dan menengah ini gencar mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada muka dunia. Mereka memberikan perhatian yang lebih bermakna dari sekadar kata-kata. Mereka…
Melelang Nurani di Brondong, Lamongan
Jika kau sebut pagi adalah keheningan, maka itu tak berlaku di pesisir Lamongan. Saat itu matahari bahkan belum menetas ketika kami (Aku, Adul dan Royan) mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan Brondong. Sisa-sisa remang malam nyata masih terasa, siluet kapal besar dengan latar merah darah masih menyala-nyala, namun tempat pelelangan itu sudah ramai saja layaknya semarak lebaran.…
