Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri

Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri

Arief Yahya

Bolehkah kupanggil dengan sebutan bapak saja? Terus terang aku ingin merasa lebih akrab. Barangkali suatu hari kita benar-benar bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan berbincang banyak hal layaknya seorang anak dengan bapaknya. Aku tidak akan memulai surat ini dengan menanyakan kabar dan menyebutkan kabarku. Sebab aku tahu sekali jawabannya, bapak baik-baik saja. Ya, aku rasa kabar bapak memang akan selalu baik-baik saja.

Bapakku yang baik, aku hanyalah seorang rakyat biasa yang buta akan banyak hal, terutama masalah politik negeri ini. Kenapa aku menyebut kata politik sedang bapak adalah Menteri Pariwisata? Menurutku segala sesuatu yang bersifat massa dan melibatkan orang banyak, terlebih jika masuk dalam jajaran pemerintahan, takkan pernah lepas dari intrik politik. Maafkan bilamana mulut ini lancang menebak rupa negeri sendiri, Pak. Namun perlu dicatat bahwa negeri yang tak pernah usai melahirkan banyak pahlawan ini juga takkan pernah selesai melahirkan banyak penjahat-penjahat berjas safari.

Sekarang ada kursi baru untukmu, Pak. Kursi yang terbuat dari jati pilihan dan diukir dengan keringat rakyat. Arah hadap wisata negeri kutitipkan di pundak bapak. Tak ada yang pernah berkata bahwa pekerjaan ini akan mudah, apalagi di negeri yang bernama Indonesia, dimana harapan berbanding lurus dengan resiko penghianatan. Tapi aku yakin Pak, akan ada suatu masa dimana kita hanya bisa pasrah untuk percaya pada satu sosok yang katanya akan membawa lentera. Aku sadar sepenuhnya bahwa hidup tak menuntut kesempurnaan, tapi penerimaan.

Pak, mari kita akhiri saja rentetan cerita keluhan tentang negara atau pemerintah yang menyandera negeri ini dengan sedandang besar janji. Baiknya kita menyoal apa saja yang bisa dilakukan untuk bersama menjual Indonesia.

Bapakku, aku pernah membaca perihal negara yang menghendaki masyarakat untuk melek wisata. Jika perlu sesering dan seboros mungkin mengeksplor berbagai atraksi pun destinasi molek dalam negeri. Tak main-main, presiden pun menitahkan untuk mendatangkan dua puluh juta wisatawan mancanegara di akhir masa jabatan. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah usaha yang baik dalam mengenalkan surga-surga tersembunyi di berbagai pelosok Nusantara. Namun aku melihatnya sedikit berbeda, ini bukanlah tentang jumlah turis yang diharapkan datang ke Indonesia, melainkan angka-angka rupiah yang siap masuk ke kantong devisa. Bukankah pariwisata menjadi aset terbesar nomor empat dalam pemasukan negara? Colek aku jika salah pak.

Aku tak pernah menyebutkan ketidak setujuan, lebih tepatnya belum. Jika suatu destinasi melahirkan banyak peminat, maka investor akan masuk, jalan-jalan diperbaiki, tanah dijual murah untuk pembangunan resort, daerah yang dulunya sepi menjadi ramai. Pemuda desa yang selama ini hidup nganggur menemukan pekerjaan, paling tidak sebagai tukang parkir ataupun penjual cinderamata, masyarakat terlihat makmur. Tak ada yang salah, semua senang.

Setelahnya biarkan media sosial yang bekerja. Pelan-pelan media tersebut akan dengan sendirinya menggantikan televisi dan media cetak sebagai institusi pengarah masyarakat. Selanjutnya kata-kata indah akan berguguran seiring foto warna warni pamer langkah kaki. Euforia tumpah ruah, masyarakat dengan rela sembarangan memesan tiket perjalanan ke tempat-tempat yang diceritakan. Traveling lambat laun menjelma menjadi gaya hidup, bukan lagi mainan kaum kaya raya. Masyarakat biasapun bisa melakukan tamasya kemana saja.

Sungguh sangat menarik pemanfaatan teknologi pembagian informasi yang bapak gelontorkan. Mungkin bapak sesekali juga harus menikmati sensasi berjalan-jalan, barangkali dengan segerombolan lelaki berdasi dan perempuan-perempuan bersolek mendatangi suatu daerah yang bahkan tak mengenal listrik. Jalanan tiada beraspal, hanya tanah sampai jauh mata memandang, jika hujan lumpur semata kaki. Namun kuyakin bapak sangat sibuk dan tak punya waktu. Bapak akan sangat kehilangan telepon-telepon penting kenegaraan karena daerah terpencil acapkali berada diluar jangkauan sinyal. Bapak juga akan kerepotan sendiri sebab tak ada yang istimewa dari rumput basah, tanah becek, udara lembab, dan suara katak ribut sana-sini.

Jika boleh kuberi saran, ada baiknya tempat-tempat yang kuceritakan tadi cukup dijual saja tanpa perlu disinggahi, Pak. Tinggal beri sedikit bumbu, dipoles dengan kata-kata alami dan tak tersentuh peradaban, yakinlah masyarakat kita berebut mendatanginya. Memang akan ada beberapa orang yang bersuara sedikit nyaring tentang rusaknya alam dan lunturnya budaya. Agar terlihat pintar, barangkali celotehan mereka ditutup dengan kutipan-kutipan Paul Theroux yang berbunyi “It is almost axiomatic that as soon as a place gets a reputation for being paradise it goes to hell.”.

Jangan khawatir pak, tahu apa mereka soal wisata. Bukankah berbicara mengenai manusia dan perubahannya itu teramat pelik? Dengan ataupun tanpa wisata, perubahan akan tetap terjadi. Perihal Theroux, bukankah surga dan neraka kadang lebih tepat disebut sebagai kata sifat yang relatif. Surga bagi sebagian orang mungkin neraka bagi yang lain, begitupun juga sebaliknya. Tak masalah bukan? Selama uang lancar, degradasi banyak hal bisa dibeli dan dipoles kembali

Sejujurnya aku juga pernah seperti mereka Pak, menyalahkan dan membentak negara yang lepas tangan sesaat setelah melempar brosur pariwisata tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemudian aku kembali melakukan perjalanan lain untuk melihat dan bertanya macam-macam. Pertanyaan-pertanyaan mungkin tak seluruhnya terjawab sempurna. Namun inilah yang membuat diriku sadar dan menerima kenyataan bahwa tak semua pertanyaan menghasilkan jawaban. Bahwa mustahil menghilangkan dampak negatif pariwisata, yang bisa kulakukan dan bapak lakukan hanyalah berusaha mencegah agar dampak negatif tersebut tidak teramat buruk ataupun berkembang menjadi lebih buruk.

Bapak yang baik, maafkan aku jika telah meracau dan membuang banyak waktu bapak yang berharga. Barangkali surat ini hanyalah sebuah basa-basi yang tidak pernah bapak sukai. Baiknya kuakhiri saja surat ini dengan mendoakan bapak seribu kebahagiaan. Semoga surat sederhana ini bisa sedikit membuatmu tersenyum, paling tidak menjadiΒ  obat setelah lelah bekerja seharian.

Tabik

Hormat saya
Yofangga Rayson

———————————————————————————————————————-
Post Scriptum: Gambar dipinjam dari www.heartsandmindsbooks.com

Tulisan ini adalah bentuk partisipasi thelostraveler.com sebagai salah satu bagian dari keluarga besar Travel Bloggers Indonesia dalam kegiatan Menulis Surat Untuk Menteri Pariwisata.
Silahkan kunjungi surat lainnya di:
Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka Kepada Menteri Pariwisata
Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat Untuk Menteri Pariwisata
Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia, Dan Segala Problematikanya
Parahita Satiti – Surat Untuk Pak Arief Yahya
Titi Akmar – Secercah Asa Untuk Pariwisata Indonesia
Vika Octavia – Pariwisata Indonesia; Telur dulu, atau Ayam dulu?
Lenny Lim – Surat untuk menteri pariwisata
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal Untuk Pariwisata Indonesia
Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah pada Malaysia
Matius Teguh Nugroho – Merenda Asa Untuk Pariwisata Kota Indonesia
Bobby Ertanto – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
Danan Wahyu – Repackage Visit Indonesia Year
Firsta Yunida – Tourism in Indonesia
Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan dan Blogger