Bulan Mei adalah bulan penghujung bagi angin untuk menggugurkan daun-daun di jantung kota Sydney sebelum akhirnya mengalah pada musim dingin. Suhu udara berkisar di angka belasan derajad celcius, masih cukup sejuk dan menyenangkan bagi para kaukasia untuk berkelana. Sedang bagiku, yang terlahir dengan darah tropis, terpaksa rela menggigil sepanjang hari, entah itu pagi, siang terik, atau malam sekalipun. Matahari itu, yang seharian angkuh merajai langit itu, seakan tidak berguna apa-apa selain terang.bermain-caturSejak dulu, aku memang tidak pernah tahan dingin, barangkali karena jumlah timbunan lemak di balik kulit terlalu sedikit. Apa daya, agar tubuhku tetap hangat, selain mengenakan pakaian yang berlapis-lapis, hari ini kuputuskan untuk berkeliling jalan kaki saja. Setidaknya, untuk urusan berjalan, aku cukup bisa diandalkan. Jalan kaki membuatku lebih bisa memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat jika berkendara.

Jadilah Kini aku menyusuri ruas jalan George. Sesekali melewati lorong-lorong penuh graffiti, keluar di sebuah taman kecil untuk kemudian masuk lagi ke dalam kawasan pertokoan, begitu seterusnya hingga akhirnya tiba di Circular Quay, sebuah teluk kecil yang terletak di selatan Port Jackson. Sebenarnya dari tempatku menginap, jika terus berjalan lurus ke utara, maka aku akan sampai lebih cepat beberapa belas menit. Tapi hari ini aku ingin sedikit berputar-putar, kurasa itu ide yang tidak terlalu buruk. Bukankah sudah tabiatnya mata kaki selalu penasaran ingin melihat apa yang belum ditempuhnya, terlebih di benua asing?
jalanan-graffitiherald-squareBerada di Cirqular Quay, artinya berada di sisi kiri gedung opera dan di sisi kanan dermaga. Di depanku, membentang muara sungai Parramatta dengan jeram yang jinak. Secara geografis, daerah ini sebenarnya adalah lembah sungai yang tenggelam, setidak-tidaknya sampai tahun 1821 ketika pemerintah memutuskan untuk mereklamasi dan menjadikannya sebuah tanjung. Di atas tanjung itulah kemudian Sydney Opera House, bangunan yang berbentuk cangkang kerang itu dibangun. Konon, gedung rancangan arsitek kelahiran Denmark bernama Jorn Utzon tersebut berhasil mengalahkan 233 peserta lain yang berasal dari 33 negara dalam sebuah kempetisi desain.
circular-quaypenutup-airAku sebenarnya penasaran juga dengan detail struktur gedung opera itu. Maka, setelah membeli segelas cappuccino, kuputuskan untuk berjalan mengunjunginya, memenggal jarak demi jarak hingga akhirnya kami berhadap-hadapan. Kolom betonnya kasar dan liat dibungkus selubung ubin berglasir Swedia yang mengkilat. Tidak berlebihan rasanya ia dielu-elukan sebagai ikon sebuah kota, jika bukan sebuah negara. Aku kemudian mengeluarkan kamera dan memotretnya berkali-kali. Bangunan maha elok itu bergeming, seolah telah terbiasa oleh riuhnya cahaya kamera pengunjung yang bersahut-sahutan.

Sydney kuakui memang cantik dan menarik. Tapi selayaknya kota-kota tua lain di dunia, kota ini juga pasti menyimpan getirnya sendiri. Di balik eloknya taman dan gedung-gedung yang berpacu tinggi, barangkali hidup sebuah ironi. Di balik wajah kotanya nan jelita, barangkali terdapat cerita suram kaum-kaum yang binasa. Mari kita mundur ke tanggal 26 Januari dua ratusan tahun silam. Penduduk Aborigin yang telah menetap di delta Parramatta selama puluhan ribu tahun mungkin mengira hari itu akan berjalan seperti hari-hari lain dalam hidup mereka. Dugaan yang bisa saja benar, jika armada Inggris tidak mendarat di pelabuhan Sydney.
opera-housecafe-operaKlan aborigin Gadigal yang saat itu menghuni wilayah sekitar South Head hingga Petersham mengetahui belaka bahwa kedatangan 11 kapal Inggris akan berujung pada penjajahan, dan itu berarti kehilangan tanah bahkan kematian. Tidak salah, saat 1.336 penumpang yang dipimpin oleh Komodor Arthur Phillip mendarat, saat itu pula klan Gadigal tergusur. Kehilangan tempat tinggal sempat meletuskan beberapa perang kecil, namun segala sesuatu tidak berjalan semanis yang dibayangkan. Klan berjumlah kecil dan buruk siasatnya itu mudah saja dihalau oleh prajurit-prajurit bersenjata Britania Raya.

Jika saja Inggris hanya membawa prajurit yang sehat dan gagah, barangkali pemandangan berdarah-darah selanjutnya tidak akan terjadi. Tapi nasib seringkali berkata lain, selain membawa budak dan tahanan, koloni tersebut juga membawa bermacam-macam wabah mematikan. Campak, cacar air, dan variola adalah di antaranya. Nasib kaum Gadigal yang tidak memiliki kekebalan genetis bisa ditebak. Mereka terjangkit, korban jatuh satu-satu, epidemi cepat merebak. Malaikat kematian seolah berpesta, beterbangan di langit-langit kota sambil mencabut ribuan ajal. Butuh beberapa tahun saja untuk membuat penduduk klan Gadigal berkurang setengahnya. Mayat bergelimpangan di sembarang tempat, mengambang di dermaga, terombang ambing di sungai Parramatta.
gadigalKini, tanggal pendaratan Inggris itu diperingati sebagai hari kemerdekaan Australia. 26 Januari setiap tahunnya dirayakan dengan kembang api aneka warna, dengan bir dan tawa-tawa, dan dengan festival yang semarak luar biasa. Mereka lupa, bahwa pada hari yang sama ada orang-orang yang mengenang kehilangan, sebagian di antaranya bahkan masih menyimpan dendam tak berkesudahan. Mereka alpa, bahwa Australia tak hanya hidup di masa kini, tapi juga kombinasi jejak-jejak masa lalu.

Beberapa proposal pernah diajukan untuk mengganti tanggal kemerdekaan yang dianggap kelam oleh sebagian masyarakat aborigin Australia tersebut. Tapi, usaha hanya tinggal usaha, kasus itu berujung pada sebuah jalan buntu. Mustahil rupanya menyenangkan semua orang karena hidup tak melulu tentang perkara-perkara mudah.
bridgeAku masih akan terus melamun jika saja semilir angin tidak menampar kulit wajahku. Udara yang dari tadi sudah dingin kini menjadi semakin dingin. Kurapatkan jaket sambil menyesap cappucino yang tak lagi panas. Aku masih berdiri di depan gedung opera itu, memperhatikan orang lalu lalang, yang datang dan pulang, yang berasal dari segala tempat, yang terdiri dari bermacam warna kulit, berbeda-beda bahasa. Apa yang mereka cari di sini? Apa yang hendak mereka buktikan dengan berada sangat jauh dari rumah? Perihal-perihal acak kembali bermunculan di kepalaku. Senja kemudian turun, matahari undur diri pelan-pelan, lampu-lampu dihidupkan, langit berubah warna, merah, serupa darah, serupa sejarah.

6 thoughts on “Sydney dan Kaum yang Berdarah-Darah”

  1. Kemarin baca postingan ini dari apps di hape, jadinya ga sampai khatam, trus ini dibilas lagi bacanya.

    Baru sekali ini tahu kalau Sydney ternyata juga punya sejarah kelam kemanusiaan πŸ™

    Btw, tulisan dipadu cerita sejarah seperti ini asyik juga ya buat belajar sejarah
    *yang tinggal baca sih asyik2 aja, tapi yang bagian nulisnya ini lho… πŸ˜† *

    1. Dibilas? dikata lagi nyuci apa? πŸ˜€
      sebenarnya setiap tempat pasti ada cerita kaya gini mbak
      penindasan, kemiskinan, bla, bla, bla
      cuma kadang orang terlalu males ngebahasnya
      selain terlalu klise, topik ini juga ga menarik πŸ˜€

  2. Mungkin karena “langganan” thelostraveler saat sering menceritakan tempat-tempat pelosok dalam negeri, agak aneh tiba-tiba membaca cerita Yofangga berkelana di Sydney, Australia πŸ˜€

    Btw, hosting baru ya?

    1. Hwahahaha, anehnya gimana nug? gaya bahasanya beda, apa topiknya kurang bagus apa gimana?

      enggak kok, hosting lama, cuma ganti tema doang
      ada yang berubah kah?

Leave a Reply

%d bloggers like this: