Membaca dan berjalan adalah dua dari sekian anestesi yang sering kugunakan untuk bertahan di kehidupan yang semakin degil ini. Kadang aku menggunakan salah satu, bila sedang benar-benar jangar, kutenggak dua-duanya sekaligus. Jika sudah demikian, tak ada lagi yang lebih kuinginkan selain berlama-lama menikmatinya. Seperti yang tengah kuhadapi sekarang, setelah setengah hari berputar-putar di jantung kota Melbourne, langkahku tertambat begitu saja di State Library of Victoria. Perpustakaan dan tanah asing. Aah, kebahagian memang begitu ugahari, begitu sederhana.
top-viewJangan salahkan aku yang begitu girang seperti anak kecil saat memasuki bangunan tua bergaya Romawi itu. Siapapun barangkali akan merasakan hal yang sama ketika mendapati senyum ramah para penjaga seolah tengah menyambut kedatangan anak sendiri. Perpustakaan ini begitu terbuka, siapa saja berhak dan boleh masuk, tidak terkecuali penyandang disabilitas. Bahkan ada sebuah sudut bernama Assistive Technology Room yang diperuntukkan bagi para pegunjung berkebutuhan khusus. Di sana terdapat alat bantu teknologi yang diperlukan untuk mengakses buku-buku perpustakaan berupa komputer dengan peranti lunak pembaca layar dan pemutar buku digital.
chandelier-libraryBerjalan terus ke belakang pusat informasi, kutemukan tangga menuju sebuah galeri kecil. Di dalam galeri itu dipajang beberapa patung pahlawan dan banyak lukisan yang menggambarkan pemukiman mula-mula Victoria serta jalan-jalan lama kota Melbourne. Di balik galeri terdapat ruang baca Redmond Barry, rumah bagi buku-buku langka, jurnal, majalah, literatur anak-anak, peta, hingga manuskrip Australia yang hanya boleh disambangi jika sudah melapor sebelumnya.
cookchessNaik ke lantai tiga, aku disambut oleh aula besar berbentuk oktagon yang menerus hingga ke lantai enam. Setiap sisi dinding dideretkan lebih dari dua juta buku yang dikumpulkan dari seluruh dunia, bagian tengahnya terdapat ruang baca dengan bangku yang disusun simetris seolah membelah ruangan. Sepengetahuanku, aula ini dirancang untuk bisa menampung hingga enam ratus pengunjung. Aku langsung tersesat oleh lautan buku dan manusia, ada laki-laki, ada perempuan, ada yang muda, ada yang tua, ada yang berdasi, ada juga para mahasiswa. Meskipun ramai, udara aula hanya disesaki oleh keheningan, cuma gema langkah kaki yang sesekali terdengar, suara yang seolah tidak ada, tidak berarti apa-apa, dan tidak mengganggu siapa-siapa.
library-victoria aula-perpusAku terkesima memperhatikan orang-orang yang sibuk dengan kepala tertunduk menghadap buku, hampir semua yang kulihat duduk dengan sikap seragam. Meski sesekali ada yang berdiri, berjalan ke para-para kayu untuk meletakkan dan mengambil buku lain, tapi kemudian ia kembali lagi ke kursinya untuk melakukan hal yang sama, duduk, kepala tertunduk, mata menghadap buku. Beberapa kulihat sangat lelah dan tertidur berbantalkan kertas-kertas tugas, beberapa sedang menulis, beberapa yang lain menghadap layar komputer. Semuanya hanyut dalam usaha mencari pengetahuan, jika boleh dibilang seperti itu.

Berlama-lama di ruangan ini, selain membuatku betah, sebenarnya juga membuat dada sesak dan iri. Bagaimana tidak, aku jadi teringat negeri sendiri. Di Indonesia, nasib perpustakaan tidak lebih baik dari museum dan membaca adalah sebuah kelangkaan. Sungguh, budaya literasi masyarakat berada pada tingkatan menyedihkan. Jika kau pikir aku sedang mengada-ada, maka bolehlah dihitung, dari seratus atau dua ratus orang pertama yang ditemui sejak keluar rumah, berapa dari mereka yang menenteng atau membaca buku?
bookKau boleh saja mencari pembenaran apapun tentang ini, tapi untuk meyakinkan bahwa argumenku sedikit memiliki pijakan, mari kita lihat data tahun 2016 ‘Most Littered Nation In the World‘ yang diinisiasi oleh Central Connecticut State University. Hasil penelitian mereka tidak terlalu mengejutkan, bahkan cenderung mudah ditebak. Indonesia menduduki peringkat 60 dari total 61 negara peserta untuk kategori membaca. Kita memang juara dua, tapi dari bawah. Jika tadi kita sepakat untuk bertaruh soal kelangkaan, maka saat ini aku pasti telah menang besar, kecuali seorang pustakawan ikut memasang taruhan.

Barangkali membaca buku adalah sebuah pekerjaan paling sulit kedua setelah menjadi nabi, itulah kenapa tidak banyak orang mau melakukannya. Kendati demikian, sebenarya faktor utama dari sedikitnya minat membaca adalah sikap yang terlalu malas. Aku bilang ‘terlalu’, sedikit sikap malas mungkin menyenangkan, tapi ternyata batas-batas malas seringkali begitu kabur, hingga mudah saja untuk diterabas.
shakerpeareKabar baiknya, tentu masih ada orang-orang yang tidak bisa hidup tanpa buku seolah baginya buku adalah oksigen kedua. Namun sayang, mencari orang seperti itu layaknya mencari matahari saat hujan deras, hampir nihil. Yang ada, kita malah akan menemukan orang yang dengan sengaja menenteng buku kemana-mana hanya untuk terlihat lebih berbudaya daripada orang lain. Yang penting adalah bergaya dan menjadi berbeda, meski dengan otak dangkal. Sebuah usaha yang menggelikan.

Kembali ke State Library of Victoria. Aku kemudian membayangkan, bahwa pada suatu masa entah kapan, Indonesia dapat memiliki perpustakaan seperti ini. Bukan hanya sekadar tempat membaca, meminjam, dan mengembalikan buku, tapi lebih. Aku ingin perpustakaan bisa menjadi ruang publik di mana manusia di dalamnya bisa jatuh cinta lewat diskusi, melakukan kerja-kerja kreatif, berkarya, dan menelurkan ide-ide gila. Sebuah utopia tentu saja, jika tidak ingin disebut omong kosong.

Kemudian sebuah bayangan lain muncul. Atau mungkin perpustakaan memang sengaja tidak dihidupkan dan diselamatkan agar kegiatan-kegiatan yang kusebutkan tidak pernah ada, sebab ia sesuatu yang buruk. Membaca buku dan berdiskusi seringkali berarti berpengetahuan, dan memiliki pengetahuan itu berbahaya. Oleh sebab itu, tempat-tempat yang memungkinkan adanya pertukaran ilmu dipersempit, dihilangkan jika perlu. Dibuat seolah ketinggalan zaman, tidak keren, dan tidak kekinian. Lalu untuk menutupi itu semua, kita disuapi hiburan, dijejalkan acara-acara tengik, dan disuguhi koran-koran tidak bermutu. Tak perlu menjadi pintar agar manusia di dalam sebuah negara dapat diatur tanpa mereka sadari. Seperti yang Dostoevsky pernah katakan, bahwa “The best way to keep a prisoner from escaping, is to make sure he never knows he’s in prison.

Post Scriptum:
Hasil penelitianย Central Connecticut State University dapat dilihat di sini

14 thoughts on “Dua Juta Pustaka yang Menunggu Untuk Dibaca”

  1. Perpustakaan memang sudah jadi lebih dari sekedar tempat untuk pinjam buku, Mas. Saya kerja di perpustakaan di Belanda, untuk terus dapat subsidi, perpus mesti tambah pintar berperan aktif di masyarakat sekitar. Buku tetap jadi tema utama, karena sebenarnya dengan membaca, orang juga memperkaya diri dengan pengetahuan, inspirasi dan hiburan.
    Saya mengikuti kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Indonesia, itu lebih kreatif dan aktif di sekitar, kalau saya amati. Bisa belajar berkebun, bercocok tanam, keterampilan, komputer dll.

    1. Senang mendengarnya jika memang demikian. Sebuah awal yang baik, tentu saja.

      Tapi balik lagi, sebagus-bagusnya perpustakaan adalah yang berisi manusia.
      memang beberapa perpustakaan sudah berbenah, mengadakan banyak kegiatan, tapi jika budaya literasi masyarakat kita masih rendah, takutnya yang sudah susah-susah diusahakan tadi akan redup pelan-pelan. mari kita doakan saja ya mbak, semoga tidak.

      Anyway, terima kasih sudah mampir ๐Ÿ™‚

  2. Baru membaca paragraf pertama postingan ini, langsung pengin berteman sama Tesaurus dan kamus gara2 ada kata baru yang ga paham artinya apa #Tepokjidat

    Omong2 soal membaca, memang kok ya, kegiatan membaca ini makin berat dari hari ke hari, karena “hambatan samping”nya makin banyak. Apalagi kalau sudah ada pesan wasap darimu, makin teralihkanlah perhatian dari buku ๐Ÿ˜†
    (((hambatan samping! Bahasaku teknik banget ya?)))

    Lagi baca buku apa sekarang? Ngintip dong…

    1. whahahaha
      kamus yang kemarin cocok tuh mbak jadi temen, kalau jadi bantal kayaknya ketebelan ๐Ÿ˜€

      sekarang lagi baca buku Pedro Paramo mbak
      Sastra Amerika Latin
      Buseett, bacaannya berat ๐Ÿ˜€

  3. ini saya tertohok sekali, “Yang ada, kita malah akan menemukan orang yang dengan sengaja menenteng buku kemana-mana hanya untuk terlihat lebih berbudaya daripada orang lain. Sebuah usaha yang menggelikan.” ๐Ÿ˜€
    Saya bawa buku kalau bepergian sendiri, seringnya nggak dibaca. ๐Ÿ™ tapi saya niat membaca kok, hanya saja kadang lebih tertarik bisa bertegur sapa dengan orang baru di kereta. bukankah itu membaca juga? (usaha mencari pembenaran)

    1. hehehe, sama mbak
      aku juga kadang suka bawa buku kalau pergi ke mana-mana
      kadang sempat dibaca, seringnya enggak ๐Ÿ˜€
      bertegur sapa sama orang baru juga bisa dikategorikan membaca sih, tapi itu kita bicara soal ‘membaca’ konteks lain
      Terima kasih sudah mampir mbak ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

%d bloggers like this: