Tengah hari saya mendarat di bandara Ranai kepulauan Natuna, salah satu pulau di garis terluar negara Republik Indonesia. Perjalanan ditempuh selama satu jam sepuluh menit dari bandara Hang Nadim Batam. Pesawat wings air berjenis propeller yang kutumpangi terbang lancar tanpa penundaan. Landasan pendaratan masih terlihat basah, sepertinya bumi natuna baru saja diguyur hujan. Namun sekarang langit begitu biru dan bersih, matahari tak pelit membagikan sinarnya. Selamat datang di Natuna, mutiara di ujung utara. Begitulah tulisan yang terpampang besar di gerbang bandara Ranai.

Mungkin tak banyak orang yang pernah mendengar nama kepulauan ini. Walau termasuk dalam wilayah Kepulauan Riau, tetapi Kepulauan Natuna terletak jauh di utara sana. Jika kita lihat di peta mungkin kita akan menyangka bahwa kepulauan ini masuk dalam wilayah Kalimantan karena letaknya yang lebih dekat.  Dengan letaknya yang berada diantara Malaysia Barat dan Borneo, tak heran jika dulunya kepulauan ini menjadi daerah rebutan.  Apalagi simpanan minyak dan gas buminya yang masih melimpah, daerah inipun diperebutkan  oleh  tiga  negara: Indonesia, Malaysia, dan Cina.
alif lagiDaerahnya begitu sepi, seakan tak ada riak kehidupan yang kelihatan. Tak ada satupun angkutan umum, perjalanan ke pusat kota saya tempuh dengan menumpang sebuah mobil pick up. Pusat kota Ranai dan bandara ternyata tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu dua puluh menit. Di pusat kota saya meminjam sepeda motor dengan harga enam puluh ribu rupiah untuk waktu 24 jam, cukup lumayan. Dari sini, mari kita saksikan keindahan Natuna.
alifTempat pertama yang saya kunjungi adalah Alif stone park, letaknya sekitar 15 menit berkendara dari Ranai. Taman ini cukup unik, dihiasi dengan ribuan bongkah batu megalitikh super raksasa. Ungkapan raksasa saya rasa memang tidak berlebihan, satu bongkah batu bahkan bisa sampai sebesar rumah. Masyarakat sendiri masih menyimpan tanya kenapa batu berukuran besar itu sampai berada di sekitaran pantai dengan luas hampir mencapai tiga hektar. Nama Alif Stone Park konon diambil karena salah satu batu tersebut ada yang berdiri tegak lurus menyerupai huluf alif di tulisan arab.
lifalif2Destinasi kedua masih tentang batu raksasa, yaitu Batu Sindu. Jika pernah menonton film laskar pelangi dengan batu besar yang terletak di tepi pantai, Batu sindu persis seperti itu, kuyakin kedua tempat ini masih bersaudara kembar. Cukup mengherankan kenapa tempat seindah ini masih belum digarap menjadi objek wisata daerah secara maksimal. Pemerintah nampaknya lupa memoles mutiara yang disebut-sebut berasal dari utara ini. Lokasi yang paling apik untuk melihat bongkahan batu sindu ini bernama bukit Senubing. kesanalah kita akan beranjak.
senubingsinJalan untuk menuju Bukit Senubing masih berkerikil kasar. Berkelok sampai di puncak bukit. Dari atas bukit inilah kita bisa melihat hamparan laut biru luas dengan ratusan batu raksasa memagari pantainya. Begitu memikat, kuyakin tak kan ada keluh kesah yang terucap dari mulut, semua tertelan bersama ludah. Selain untuk tujuan wisata, Senubing dimanfaatkan sebagai lokasi radar penerbangan. Di puncak bukit kita dapat menyaksikan beberapa tower radar.
sinduLokasi ketiga adalah Ikon nagari Natuna. Sebuah masjid agung, orang bilang taj mahalnya indonesia. Tak berlebihan kupikir, karena memang terlihat begitu megah. Walaupun masjid ini terletak sekitar 1,5 kilometer dari jalan utama. Namun dari pintu gerbang, kita sudah bisa melihat kubah hijau yang menyala-nyala dan menara-menara yang setia di sekelilingnya. Disepanjang jalan memasuki masjid terdapat sebuah kanal besar dengan batu-batu putih yang katanya adalah untuk mengalirkan air dari gunung Ranai.
taj mahalyang membuat Masjid ini semakin agung adalah karena letaknya berada persis di kaki gunung Ranai yang tinggi menjulang. Pegunungan ini memberikan background sempurna dengan puncaknya yang lancip, tegas dan curam. Diselimuti kabut. Gagah merangkul adik-adiknya yang berbentuk lereng pegunungan. Awan tipis melingkari pundaknya, perlahan menyingsing tersapu angin kencang. Semakin dipandang, Masjid agung dan Gunung Ranai semakin cantik.
taj mahal2

19 thoughts on “Natuna, Mutiara Di Ujung Utara”

  1. Thanks untuk share informasinya, keren ya Natuna, jadi pengen kesana, boleh tau budget yang harus dipersiapkan tidak untuk kesana?berapa hari? Rencana saya ada kesana untuk tugas dan kebetulan ada free d weekend, kira2 cukuo waktu gak d weekend kesana?

    1. kalau untuk destinasi yang saya sebutkan cukup dieksplore dalam sehari, karena jaraknya yang masih deket sama pusat kota, kalau week end punya waktu 2 hari, sempatkan ke pulau senoa, nyewa kapal kecil dari desa teluk baru seharga 250rb, untuk biaya hidup disana standar kok, penginapan dan sewa motor sekitaran 60rb-70rb, gak terlalu mahal

  2. Sumatra selalu menjadi top list destinasi saya di Indonesia. beruntung bagi mereka yang pernah menjelajah Nageri Svarnadwipa ini. inspiratif uda, palagi foto batu yang ada anak tangganya itu he he he

  3. Halo…kereen…..tq bgt infonya berguna sekali.btw mau dong info penginapan yg murah tp bersih disana?sama transportasi dari bandara ke pantai alif, berapa sewa harganya?sy oktober ad rencana ke natuna.trmksh sblmnya

    1. makasih uda mampir
      untuk di daerah natuna saya g sempet nginep di penginapan, tapi di daerah ranai banyak yang nyediain ko mbak, harga bervariasi
      dari bandara naik ojek dulu ke ranai, dari ranai banyak persewaan motor dengan harga 60-80 ribu per 24 jam

    1. di kota ranai banyak penginapan kok mas, daerah sekitaran rumah makan padang setelah jembatan (tanya aja sama penduduk sekitar sana pasti langsung tau) kayaknya rumah makannya lumayan terkenal, waktu saya pertama kesana juga diarahin sama orang bandara ngomongnya kaya gitu

Leave a Reply

%d bloggers like this: