Semalam hujan jatuh utuh, langit seakan meluruhkan tangisnya ke seluruh wajah bumi yang tabah, deras sekali. Guguran gemuruhnya merekah menjadi gerimis, melekat di setiap liat tanah dan pokok pepohonan, lalu meninggalkan anak-anak embun yang berkepul di tingkap atap penginapan. Pagi ini walau telah usai, tetap saja jejak lembabnya menyisakan dingin yang sangat. Aku yang tidur dengan lelapnya semakin lelap hingga dering alarm hingar berkali-kali lelah sudah, menyerah membangunkan.

Aku bersama 19 travel blogger lain sedang berada dalam sebuah piknik untuk sejenak mengistirahatkan kepala yang tak mengenal hari libur. Hari ini kita akan melihat gerak cekat, mata teduh, lerai senyum dan segala pengharapan para pemetik teh. Mereka bahkan sudah bangun dan bersiap menyiangi pagi ketika kita masih bergelut dengan selimut. Seraya memanggul keranjang rotan dan gunting pemetik daun, mereka berjalan dalam kabut yang barangkali masih dingin-dinginnya.
tambiBangunku sedikit terlambat. Setelah mencuci muka sekenanya, kuseduh secangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja beranda depan. Alunan musik “Englishman in New York” deras mengalir melalui earphone. “I don’t drink coffee, I take tea my dear.” Kuperhatikan cairan berwarna tembaga yang masih mengepul dalam cangkir. Barangkali saat ini aku yang tengah tersesat diantara segala wewangian daun teh, sedang aku pecinta kopi. Bagiku teh terlalu manis untuk mengawali hari walau tanpa gula. Menurutku hal-hal pahit harus dicicipi lebih dulu agar tahu apa rasanya manis, bukan malah sebaliknya. Kusesap perlahan sebelum terlanjur dingin. Tak lupa kutuangkan juga beberapa tetes kedalam tulisan ini, berharap hangat diriku, juga dirimu ketika membacanya.
teh pagiSegera setelah sarapan yang diiringi saling lempar gurauan, kita memasuki kawasan kebun teh Tambi. Saat itu kabut telah diuapkan hangat matahari yang meninggi. Ketika langkah kaki lunas memasuki gerbang ladang, terlihat pucuk-pucuk dedaunan terhampar jauh sampai batas kaki langit. Tanah-tanah subur disini seakan menyembulkan hijau yang tertata dalam baris-baris rapi, daun-daun teh merimbun dan berumpun. Para pemetik telah tersebar di tiap ruas perkebunan, sibuk mensyukuri pucuk-pucuk daun muda yang merelakan tunasnya.
pemetik tehpemetik“Kawasan perkebunan teh Tambi memiliki dua belas jenis teh yang akan di panen sebanyak lima belas kali dalam setahun. Perkebunan ini memiliki misi padat karya, oleh karena itu kita mempekerjakan delapan ratus pemetik untuk areal perkebunan seluas delapan ratus hektar.” Pemandu wisata yang menemani perjalanan kami mengelilingi kebun berusaha menjelaskan kawasan ini dengan semangat. Aku tak peduli, saat ini yang sangat ingin kuperhatikan adalah raut wajah dan sorot mata lelah para pemetik teh dibalik tangkup caping bambu mereka. Bagiku, kehidupan yang terdapat di dalam satu kawasan pariwisata dapat bercerita lebih banyak dari penjelasan guide manapun.

Disepanjang jalan kulihat kulit jemari para pemetik yang sudah mulai mengeriput, namun geraknya masih lincah memetik rezeki. Mereka mungkin sudah bosan diperhatikan dan diabadikan dalam jepretan kamera. Sementara kita pulang dan menjualnya dengan cerita yang tak dalam, mereka tetap tinggal, mengalami hal serupa esok hari, memetik, dijadikan objek, untuk kemudian ditinggalkan kembali. Barangkali hanya sedikit dari kita yang bersedia tinggal lebih lama, memperpendek jarak agar lebih dekat dan mendengarkan kidung kehidupan mereka lebih lekat.
pemetik2 pemetik3Sesekali mereka terlihat menepi ke pinggir jalan, mengumpulkan pucuk teh yang sudah menggunung di punggung. Sembari melepas setandan lelah, para pemetik ini beristirahat menikmati air minum yang telah dibawa. Hanya beberapa menit saja, wanita-wanita itu kembali menyusuri perdu-perdu teh untuk melanjutkan tugas, menderas pucuk dedaunan. Kita, para travel blogger yang merasa puas mendengar secukupnya dan melihat seperlunya hanya bisa bergegas pergi ke lokasi selanjutnya dengan isi kepala yang seolah hafal segalanya.
plang tambiDi penghujung jalan, ada sepenggal bangunan yang bahkan telah lahir semenjak kompeni hadir. Bangunan tadi menjelma pabrik pengolahan teh yang masih setia menghidupkan denyut nadi warga sekitar. Kesanalah derap kaki-kaki kita menuju arah, memasuki dinding-dinding dan pilar bisu berumur tua. Langit-langit atapnya terlihat tinggi ketika kita memasuki ruang pelayuan, ruang pertama pucuk dedaunan teh didiamkan seharian penuh hingga layu dengan sendirinya. Raut warna daun juga mulai berubah dari hijau cerah menjadi pekat kelat karena kandungan air dalam daun berkurang setengahnya.
pelayuan layuDaun yang sudah cukup layu dipindahkan dalam ruang selanjutnya melewati katup-katup yang terdapat di lantai ruangan. Mereka masuk dalam mesin penggilingan. Besi-besi raksasa yang tak mengenal kata henti siap menggerung dan menggulung dedaunan layu, melumatnya menjadi remah. Oksidasi senyawa polifenol kemudian dilekatkan dan diresapkan pada teh yang telah menjadi serbuk. Proses pengolahan selesai, hanya tinggal dikeringkan untuk mengurangi kadar air. Kulihat beberapa rekan lain sibuk dengan kertas dan alat tulis masing masing, siap mencatat segala informasi, aku melenggang sesukanya.
penggilingan pengeringanRuang selanjutnya adalah sortasi kering dan uji kualitas. Jika lulus uji, pengemasan dilakukan. Teh dibungkus dalam kadar tertentu siap dikirim pada para pemesan. Sejujurnya teh bukanlah tanaman asli Indonesia, teh dulunya dibawa dan kita disuruh menanam seraya dipaksa oleh Belanda. Cultuurstelsel, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka menyesap teh, sedang pucuk berkualitas rendah diberikan pada masyarakat. Beberapa ratus tahun berlalu, perilaku seperti ini masih saja terjadi. Teh paling pucuk delapan puluh persen dikirim keluar untuk memuaskan lidah negara lain, sedang kita tetap setia dengan kualitas nomor dua. Entahlah, apakah karena ingin, terpaksa atau malah telah terbiasa?
bubuk tehMenjelang tengah hari, hujan kembali mengguyur luruh. Kita basah, namun tak cukup lucup, tak pula kuyup. Kali ini bukan lagi teh yang bertugas menghangatkan, tapi kebersamaan. Hujan kemudian mendadak deras, di bibirku, bibirmu, bibir kita semua, hujan tawa.

Tulisan ini adalah bentuk partisipasi thelostraveler.com sebagai salah satu peserta  familiarization trip yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah dalam mengangkat potensi wisata daerah.

Silahkan kunjungi karya lainnya di:
Alid Abdul – Empat Kuliner Wajib Wonosobo
Alid Abdul – Bermain Sambil Belajar di Perkebunan Teh Tambi
Andika Awan –  Keseruan #FamTripJateng 2014
Ari Murdiyanto – Pondok Wisata Tambi, Tempat Bermalam di Tengah Kebun Teh
Dzofar – Wisata Jawa Tengah: Keajaiban Rambut Gimbal di Dieng
Fahmi Anhar – Kumpul Travel Bloggers di Wonosobo
Firsta Yunida – From Plant to Pot
Idah Ceris – Menunggu Untuk Menyatu
Idah Ceris – Lebih Dekat Dengan Anak Berambut Gimbal
Idah Ceris – Bonus Plus-Plus Dari Bukit Sidengkeng
Krisna KS – Cerita Anak Gimbal di Dieng
Krisna KS – Carica?? Ya Dieng!!
Oryza – Kisah Kyai Kolodete dan Rambut Gimbal di Kalangan Masyarakat Dieng
Putri Normalita – Visit Jateng : Anak Gimbal dan ‘Warna’ di Telaga Warna
Putri Normalita – Visit Jateng: Main-main Serius di Perkebunan Teh Tambi
Rijal Fahmi –  Kisah Perjalanan Teh Tambi
Rinta Dita – Mencari Hangat dalam Semangkok Mie Ongklok
Wihikanwijna – Mengenal Jawa Tengah Bareng Travel Blogger
Yus Mei – Rambut Gembel, Antara Rezeki dan Cobaan

61 thoughts on “Ayo Piknik, Jangan Kaya Orang Susah”

    1. berbeda memang, yang bilang sama siapa qy?
      dalam tulisan ini aku menggunakan kata ‘kami’ hanya sekali, saat kalimat “Pemandu wisata yang menemani perjalanan kami” yang artinya pemandu itu menemani orang-orang yang berada di lokasi saat itu.
      sedangkan yang lain aku memakai kita, agar pembaca ikut terlibat di dalamnya
      🙂

  1. selalu suka dengan foto2mu yof, at least bisa dengan mudah dinikmati daripada fatwa pujanggamu hahahaa, apalagi pas bagian yang berkecambah itu 😛

    anyway jangan kapok ya main dengan cah-cah ndeso jawa tengah ini

    1. makasih bersedia mampir kak chan 🙂
      aku bingung mau nulis apa, waktunya pendek-pendek, jadi gak bisa dalem banget nulisnya 🙁
      pengen paling enggak tinggal disini seminggu, hehe

  2. masih bisa dimengerti meski kayak puisi :p Eh, kirain cuma aku yang ngerasa kemarin terlalu cepat dan nggak banyak yang bisa ditangkap 😛 anyway~ fotonya bagus yof 😀

  3. Melambaaaai lambaaaiiii….. berbisiiik bisiikkkk… 😀 Saya lupa tanya saat itu pd Pak Puji. Padahal pertanyaan itu begitu penting buat negara. 😀

    penuh melodu tulisane yeee. . .

  4. Aaaiiiihhh pilihan diksinya ketje! (Berasa de javu klo komen begini)

    Trus yang punya blog nyahut : “orangnya lebih ketje kak”

    Trus yang komentar langsung njawab : “Kamu ketje tapi jomblo deeeek”

    *Langsung diblock*

  5. Aku yo iso lah nulis model puisi koyok ngene Yof. Tapi aku yakin fans fansku bakalan mumet ngko mocone. Maklum mereka sebagian besar kaum2 alay yg suka baca tulisan dengan penuh ledakan bom atum yg menggejolak jiwa. Hahaha

    1. yakin aku kamu bisa mas ndop, kamu khan blogger paling ketje se antero jagat raya dan alam semesta, hehe
      ojok, tetaplah menjadi dirimu, ntar kalo buat puisi juga aku disaingi 😀
      haha

  6. aku menunggu saat ada kata daun teh yang berkecambah, dan ucapan kecambah adalah proses evolusi.
    senang akhirnya ketemu denganmu dek :p
    sesama rambut gimbal dan penuh keruwetan :)))

    1. hahaha, kalo pake berkecambah lagi takut dibilang kosakataku itu-itu aja kak 😛
      senang juga bisa ketemu kak, jadi makin banyak deh ketemuan sama anak2 TBI, seruuu…

  7. Kalo ada lomba racik teh pasti menang ini tulisan… pasti menang… 😀 😀
    Jangan ragu buat balik ublek-ublek Jawa Tengah ya, Yof.
    Ehmm lain kali bawa gandengan biar mbak Dian nggak ngecap dirimu jomblo lagi hahaha

Leave a Reply

%d bloggers like this: