Selalu ada perasaan sendu tiap kali aku mengenang kota Malang. Penyebabnya jelas bukan karena kota itu gagal berbagi cerita bahagia, melainkan apa-apa yang tuntas diberinya mustahil untuk kembali diulang. Mafhum jika tiba-tiba saja hatiku meleleh saat berkesempatan mengunjunginya sekali lagi. Agaknya Malang bagiku telah menjelma kekasih yang pintar memaksakan rindu, yang padanya hatiku sudi jatuh dan patah tak cuma sekali, tapi berkali-kali.

Hampir tujuh belas bulan sudah Malang kutinggalkan. Ia mungkin saja berubah, sebagian lebih baik seperti ruas jalan Dinoyo yang makin lebar dengan empat lajur, sebagian masih sesesak dahulu kala. Brawijaya itu masih berpacu tingi, Sawojajar itu masih berupa labirin perumahan, Sumbersari itu bahkan tampak lebih letih sejak terakhir kali aku melihatnya. Malang memang tak pandai bersolek, tapi karena itulah ia istimewa. Kesederhanaannya bukan bedak, tidak ditambal dan dibuat-buat.
Kerinduanku pada Malang semakin masif saat menaiki angkot biru tua yang membawaku dari Arjosari ke Belimbing, terus ke Rampal, berbelok ke stasiun, balaikota, lalu membelah jalan Bromo, jalan Ijen, menembus jalan Bandung untuk kemudian berhenti di Brawijaya, kampus yang dulu pernah kubanggakan. Hari masih pagi, masih dingin walau tak lagi sedingin dulu. Aku ingat betul saat pertama kali ke Malang sembilan tahun lalu, mandi adalah ujian terberat berikutnya setelah berhasil membuka mata dan memaksakan diri keluar dari selimut sebab udara yang beku sebeku-bekunya.

Karena itulah pagi di Malang adalah pagi yang tidak pernah tergesa-gesa. Mungkin bagi para pekerja, pagi adalah pengingat untuk memanaskan sepeda besi. Namun pagi bagi para mahasiswa adalah tanda untuk memejamkan mata yang mengantuk sebab semalaman tak tidur menumpang internet di sudut-sudut kampus. Pagi bagiku kini adalah momen untuk menikmati puitiknya cahaya matahari yang lahir malu-malu, dengan segelas kopi, dan kenangan-kenangan yang tercecer.
Di kampus ini jugalah aku kembali bertemu dengan beberapa kawan lama yang masih atau menyengajakan hadir untukku. Dimas salah satunya, ia kini bekerja di sebuah pabrik popok di kawasan industri Gresik. Adul, walaupun masih sesantai dulu ternyata sudah membuka toko di pesisir Lamongan. Hamid masih semangat hilir mudik menjadi pengusaha travel sambil berjuang menuntaskan kuliah. Galis, yang paling berumur di antara kami, kini tengah berbahagia menjadi ayah bagi Bumi dan suami bagi Sylvi.

Dulu kami kerap berkelakar menghabiskan malam sambil sesekali meragukan cita-cita dan mengkhawatirkan masa depan. Bersama mereka tak ada cerita yang terlalu remeh untuk diperbincangkan, baik itu tentang Tuhan, bahkan tentang gadis penjaga warung sekalipun. Kini, kami berkumpul kembali. Membicarakan hal-hal dari masa lalu, menuntaskan kisah yang belum selesai, menghidupkan lagi percakapan-percakapan yang telah mati suri. Teman-teman yang sama, denting gelas kopi yang sama, kepulan asap rokok yang sama, logat bicara yang sama. Yang berbeda hanya waktu.
Berat bagiku mengakui, tapi berada di antara kawan-kawan lama ibarat ditemani oleh keluarga sendiri. Malang memang bukan kota di mana ari-ariku ditanam di tanahnya, tapi berkat dirinya aku tumbuh jadi dewasa, tidak hanya pada angka-angka di usia namun juga isi-isi di kepala. Aku selalu percaya bahwa setiap daerah yang pernah ditinggali lama berhak disebut sebagai rumah. Layaknya rumah, ia selalu melindungi dan menguatkan. Ia juga yang membuatku sadar bahwa hidup, bagaimanapun brengseknya, tetap berharga untuk dijalani.

Tentu ada banyak hal sepele yang kadang membuat Malang bisa jadi begitu menyebalkan. Seperti kemalingan laptop, ditinggal kekasih, dikhianati kawan, buku-buku yang tak pernah kembali, serta kehilangan-kehilangan lain yang mengajarkanku untuk merawat ingatan. Namun Percayalah, dibalik sekian perkara remeh tersebut, ada banyak alasan yang bisa kuderetkan untuk selalu kembali.
Berburu nasi kucing Cak San atau sambal Mak Par, menikmati kopi unyil yang kental, menghabiskan malam di daerah Payung sambil melihat lampu-lampu kota dari ketinggian, curi-curi pandang pada mahasiswi berbaju tidur di sepanjang jalan Watugong, atau sekadar lari pagi di bundaran kampus adalah perihal-perihal kecil yang selalu bisa membuatku melengkungkan senyum sentimentil. Hanya di kota Malang kenangan bisa berubah menjadi besi berani yang menolak untuk ditinggalkan.

Cintaku pada Malang barangkali seperti aroma petrichor selepas hujan, menguarkan wangi walaupun sudah lama ditinggalkan. Malang di sisi lain adalah puisi, yang syairnya tidak menuntut semua orang untuk mengerti.

38 thoughts on “Sekali Lagi, Kota Malang”

  1. Sepertinya Malang banyak menggoreskan kenangan yang sangat indah dalam perjalanan hidupmu ya Mas, hehe. Terasa sekali kerinduan akan Malang sedikit terobati dalam tulisan ini, kendati saya yakin tak akan pernah terpuaskan #ehsotoy. Ngomong-ngomong angkotnya ADL atau AL ya Mas? Haha. Itu angkot pertama di Kota Malang yang berkenalan dengan saya, hihi. Ah, Malang memang banyak menyimpan kenangan! Moga-moga bisa segera kembali ke sana, Mas.

    1. iya Gar, soalnya pernah tinggal lama di sini
      makanya agak-agak mellow kalau nulis malang 😀
      hwahaha, angkotnya ADL gar, kalau dari terminal Arjosari, rutenya seperti yang kutulis di atas
      habis itu lanjut ke Dinoyo, baru lanjut ke terminal Landungsari

  2. Sama sepertimu, aku juga punya banyak cerita dan kenangan tentang Malang. Tapi kecintaanku pada Malang lebih pada orang-orang yang bersamaku selama di sana. Sekarang orang2 itu sudah berpencar dan Malang kembali asing.
    *itulah kenapa sekarang ga bisa lama-lama di Malang, kecuali memang padat acara*

  3. Rasa ketemu kembali sama temen lama, bercengkerama tentang nilai nilai E yang pernah didapat, tentang wanita wanita yang dulu pernah menjadi idola emang nggak tergantikan. :”)
    Apalagi mereka sekarang sedang berjuang demi perkembangan diri. Kangen rasanya.

  4. Malang selalu punya kenangan sepertinya. Baik buat yang memang harus pergi dan beberapa yang harus tinggal. Seperti tempat pulang,tapi tidak juga. Ahahaha.
    Tapi malang selalu mengingatkan, buat saya, bahwa sejauh apapun saya pergi dan seberapa lama saya tinggal di belahan benua lain seperti saat ini, malang adalah rumah tempat ibu, yang saya juga tidak tau apakah rumah buat saya juga atau bukan. Ahahaha

    1. iya, Malang emang bisa disebut sebagai rumah
      entah itu tempat lahir, menetap, singgah, atau pulang
      sebenarnya bukan hanya malang, kota-kota lain yang menyandang status rumah pun pasti akan selalu meninggalkan bekas bagi para penghuninya 🙂

  5. Ahhh saya belum pernah ke Malang, tapi kok ya bisa ikut merindukannya yaaaa.
    Paragraf kedua itu, Brawijaya berpacu tingi atau tinggi yaa? Macak jadi editor saya, hehehe.
    Sama Petrichor itu apa “ampo” dalam bahasa Jawa? Waaaahh namanya keren yak, baru tau saya.😀😁

    1. aaiiisshh, siaal
      nemu aja yang typo, huahaha
      jangan mau jadi editor, ntar dimusuhin 😀
      bukan aah, ampo itu semacam tanah liat yang bisa dimakan itu khan?
      kalau petrichor itu bau tanah yang biasanya kecium selepas hujan

      1. Hehehe, soalnya mas Yofa ini nggak pernah typo. Saya kira tingi itu sebuah sinonim atau bahasa tertentu. Jadi saya sempat cari di google, dan ia adalah bahasa Tagalog dan nama sebuah kota di Maroko. Tapi artinya nggak nyambung dengan kalimatnya. Hahaha

        Oh Ampo itu makanan! Baru tau. 😀 Tabayyun juga dari google. Pokoknya yang bau enak dan segar dari tanah setelah lama kering terus kesiram air itu kan?
        Di kampung saya nyebutnya bau ampo. Hahahaha
        Pasti selalu dapat kosa kata baru dari tulisan2 mas Yofa.

  6. padahal alasan ku untuk membersihkan tiap sudut kamar dan memasang sarung bantal yang tersegel mungkin 1 tahun ini..
    yaa lain kali lah tidur disini.

  7. Aku belum kesampaian ke Malang nih, belum berjodoh dengan kota itu tampaknya.
    Ngomong-ngomong Watugong itu daerah apa kak, kok curi-curi pandang dengan mahasiswi berbaju tidur di sana? 😀

    1. waaah, harus ke Malang kak, dijamin betah, dijamin pengen balik lagi
      hhmmm.. Watugong itu daerah kos-kosan di deket kampus,
      kalo malem mahasiswi-mahasiswi sana beli makan banyakan pake baju tidur aja kak
      Lumayan buat cuci mata 😀

      1. Kemungkinan besar iya, apalagi kalau banyak bangunan lawas yang masih utuh berdiri di sana. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah lihat foto kota Malang di jaman colonial dulu. Keren tata kotanya.

        Hahaha jadi itu salah satu daya tarik kota Malang ya. Watugong dan ‘kehidupan malamnya’ 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: