ROCKS…. kiri mundur, kanan dayung maju, begitu aba-aba yang diteriakkan oleh skipper dari belakang perahu. Saya yang berada di mulut perahu bagian kiri seketika mendayung mundur, membiarkan rekan yang dikanan mendayung maju. Perahu berbelok ke kiri, menghindari setumpuk batu yang terlihat mencuat dari dasar sungai, mempengaruhi arus di sekitarnya, deras.

Disinilah saya berada, di kuatnya arus sungai Lekso, Wlingi, Blitar. Sungai yang terbentuk dari aliran lahar ini memiliki panjang sekitar tujuh kilometer, butuh dua setengah jam untuk tuntas mengarunginya. Kanan kiri sungai dihiasi oleh bebatuan andesit dan granit yang selalu siap menerima hantaman perahu jika sempat lepas kendali. Sudah dua hari berturut-turut saya berkenalan dengan sungai ini, namun tak sebersit ada rasa bosan. Jeramnya yang menyenangkan membuat saya ketagihan. Cukup banyak standing wave yang dapat membuat perahu melompat dan berayun ke depan, ke belakang, maupun kesamping kiri dan kanan. Tak cuma sekali ada yang terlempar dari perahu, diseret ganasnya arus Lekso. Namun tetap, bagi kita sekumpulan orang gila, ini menyenangkan.
orad2Kita turun tanpa didampingi operator, berbahaya, namun memang itulah tujuan saya dan beberapa rekan berada di atas perahu ini. Kita semua sedang mendapat pelatihan skipper, pelatihan agar mampu mengendalikan perahu. Tak semudah yang dibayangkan. Basah sudah jadi biasa, terhempas ke sungai jangan ditanya, keringat sudah tak lagi terasa, semua tenaga dikuras sampai tak bersisa. Butuh sebuah stamina yang bagus untuk bisa menjadi skipper perahu rafting. Semakin deras sungainya, semakin berat tugas dan tanggung jawabnya.

Setengah perjalanan berlalu, kita berhenti di sebuah eddies, yaitu kondisi aliran tenang yang biasanya terdapat di pinggir sungai. Arus yang tertahan karena belokan sungai membuat air mengalir sebaliknya, bertabrakan, menetralkan arus dan membuatnya menjadi tenang. Saya melompat keluar, menambatkan perahu, waktunya istirahat. Camilan seadanya dikeluarkan, mengisi kembali tenaga yang terkuras seharian.
orad3Disela rehat, saya menyandarkan kepala, sedikit berimajinasi tentang semua. Hidup bagiku kadang mirip dengan melayarkan perahu. Terkadang arus deras, terkadang air tenang dengan angin semilir. Kita boleh berdiam mengikuti arus, boleh menambatkan perahu, boleh mendayung kuat-kuat. Semua hanya untuk bertahan demi lintasan perjalanan. Ada yang karam, kapal terbalik, terlempar, babak belur, ada yang mencapai tepian. Kita tidak pernah punya kuasa untuk mencegah air berkemelut, bahkan terkadang sesekali bah datang menerjang. Namun selama menyerah tak terbesit di cangkang kepala. Percayalah bahwa dalam hidup, takkan ada usaha yang sia-sia.

Jangan membenci hidup, jangan mengutuk keadaan. Perahu memang lebih aman di tepian, namun bukan untuk itu dia diciptakan, selesaikan semua rintangan. Pada akhirnya semua bekas luka, ataupun compang sana-sini di sisi perahu adalah sebuah bukti bahwa kita manusia pernah jatuh, tersungkur, sakit, bertahan, lalu sembuh dan melanjutkan perjalanan.
orad4Saya tersentak. Aaaah, memang sudah waktunya melanjutkan perjalanan. Portaging dilakukan, yaitu mengangkat perahu kembali ke air. Kembali ke gelak tawa, kembali ke arus yang mendera. Senang susah sudah biasa, Arus tetap deras, tangan tetap mendayung.
Kembali ke pelajaran mengemudikan perahu. Mengendalikan hidup.

11 thoughts on “Perahu Kita Oleng Ke Kiri Kapten”

Leave a Reply

%d bloggers like this: