Selamat Datang Di Masa Depan

Selamat Datang Di Masa Depan

Selamat datang di Indonesia tahun 2050, dimana hidup semakin maju dan praktis. Semua aktivitas dimudahkan dengan adanya teknologi. Mulai dari bangun pagi karena pijatan pelan kasur yang diatur otomatis. Dilanjutkan dengan lambaian tangan atau perintah suara untuk mengatur temperatur udara, kelembapan, pencahayaan ruangan, sampai musik yang melantun pelan.

Masuk ke kamar mandi, sensor sinar x ray siap men-scan dan menampilkan statistik kondisi tubuh, jika ada tanda-tanda penyakit, akan timbul peringatan untuk segera menghubungi dokter. Jika ingin mandi, shower langsung hidup dengan suhu yang bisa diatur semaunya. Sementara itu pakaian akan langsung disiapkan secara otomatis dari dalam lemari, tentu saja sesuai dengan pengaturan yang telah dilakukan sebelumnya.

Jika membutuhkan sesuatu, kopi arabika hangat misalnya, tinggal memencet remote bergambar kopi. Sebuah robot android akan datang membawakan pesanan. Sekarang robot hadir sangat dekat dengan kehidupan. Mereka ada dimana-mana dan sangat berguna, walau reaksinya sedikit terlambat dengan senyum yang terhambat.
masa depan 3Melihat keluar jendela, jika bosan dengan pemandangan, tinggal memencet tombol saja. Seketika gambar akan berubah sesuai dengan keinginan. Ada hologram yang dipasang persis tepat di depan jendela. Apakah itu langit biru ataupun hijaunya pegunungan, ada ribuan gambar yang siap diganti seenak hati.

Namun, namun, semua tentu ada konsekuensinya. Sekarang tak ada lagi jalan. Alamat telah berubah jadi deret koordinat. Titik nol Jakarta terletak di 06°10′ LS – 106°49′ BT, Surabaya 07°15′ LS – 112°45′ BT, sedangkan rumahku 07°92′ LS – 112°61′ BT. Tambahkan: 89/10 (lantai 89, unit 10) maka kamu akan sampai tepat di depan pintu kamar. Koordinat memang penting. Kalau tidak, kita akan tersesat di belantara ribuan menara.

Benar ribuan menara, engkau tak salah baca. Belantara beton tumbuh semakin riuh dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang. Antara satu gedung dengan gedung lainnya dihubungkan oleh monorail tertutup. Jika malas antri, kita bisa naik kendaraan terbang pribadi. Namun jangan lupa, keluar rumah harus dilakukan dengan masker dan baju khusus anti polusi. Udara sangat kotor, sudah terlalu pekat dengan bau seperti bubuk mesiu. Atmosfer bumi dipenuhi karbon monoksida dan dioksida,  40% lebih banyak dibandingkan zaman awal Revolusi industri.

Tak ada lagi tanah dibawah sana, yang ada cuma air. Indonesia telah lama menjadi Big Venice semenjak es meleleh di Alaska dan utara Asia. Permukaan air laut naik 7,4 meter merendam kota, menenggelamkan 2000 pulau kecil. Rel-rel kereta dibangun di atas air, melintas dan membentang ke seluruh penjuru. Kabar baiknya, kita  takkan pernah benar-benar merasa haus. Takkan lagi ada istilah kekurangan air, air ada dimana-mana. Tinggal memutar keran atau memencet kenop, segelas air siap diminum. Para ilmuan berhasil menyuling laut menjadi air bersih, namun tentu saja pajak yang kita bayarkan semakin melangit. Orang miskin yang tak sanggup bayar sudah lama mati, yang kaya adalah yang bertahan.
masa depan 1Tak ada lagi pepohonan, tak ada lagi taman, tak ada lagi hutan. Tak ada deretan koridor hijau di sepanjang jalan. Taman tak mendatangkan uang. Bertahun-tahun yang lalu, para birokrat kita yang sangat-sangat-pandai telah mengubah ruang terbuka hijau menjadi mall. Sebagai gantinya, atau mungkin sebagai penghibur, gambar pohon ditempel dimana-mana. Di dinding bangunan, di billboard, di balon udara. Memang sebuah kebohongan besar, karena pohon tak tumbuh melayang di atas balon.

Kita memang masih punya sedikit ruang hijau di atap-atap dan kulit bangunan. Sedikit rumput di atas dak beton, sedikit tanaman rambat, sedikit hutan kecil, sedikit burung-burung dan tupai, semua serba sedikit. Yang banyak hanyalah wabah penyakit dengan segala variasinya, merebak dimana-mana. Apa boleh buat, semua sudah terlambat. Tak ada yang bisa dirubah, kita bukan superman penyelamat dunia. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah memenjara diri dalam kotak-kotak vertikal berpuluh lantai yang bersesakan menghunjam tanah.

Hari mulai malam dengan langit yang tak banyak berbeda. Tidak, tidak ada sunset merah merona, matahari pucat tertutup limbah. Bumi telah menjadi sedemikian buruk rupa. Diluar sana Indonesia seperti kota mati tak berpenghuni. Masyarakatnya memilih hidup di apartemen sendiri-sendiri, dengan kemewahan sendiri-sendiri, menyesali perbuatan mereka yang telah lama merusak bumi.

KKKKRRRIIIIINNNNGGGGGG…….
Bel dari depan pintu kamarku berbunyi, sepertinya ada tamu yang datang.
KKKKKKRRRIIIIIIIINNNNGGGGGGG, aaahh, bunyi itu menyebalkan. Tak bisakah dia memencet bel sekali saja? Bel ini memekakkan telinga.
KKKKRRRIIIIIINGGGG, semakin lama bunyi bel itu semakin keras, membuat sakit kepala, seakan dunia berputar. Ada pusing yang aneh menyerangku. Penglihatanku menghitam, aku tak sadarkan diri. Hal terakhir yang ku ingat hanyalah:

KKKKRRRIIIIIIINNNNGGGG….

Alarm di Handphoneku berteriak nyaring. Perlahan aku mengangkat kepala, membersihkan mata dan mengingat-ingat mimpi yang barusan ku alami. Kulihat tanggal 5 Juni 2014 tertulis di layar handphone dengan note kecil “Hari Lingkungan Hidup Sedunia”. Aku meluruskan punggung, sepertinya aku tertidur di meja kerja, kopi semalam sudah dingin. “Mimpi yang aneh” gumamku dalam hati. Semoga hari di mimpiku tak akan pernah datang. Mari kita selamatkan bumi dari sekarang.

All photos was taken from www.google.com
Tulisan ini adalah bentuk kepedulian thelostraveler.com sebagai salah satu bagian dari keluarga besar Travel Bloggers Indonesia dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Silahkan kunjungi karya lainnya di:
Danan Wahyu : Menjelajah Negeri Orang Laut
Rijal Fahmi Mohamadi : Tentang Cagar Alam dan Etika Jalan-Jalan di Alam
Indri Juwono : Jatuh Cinta Kepada Hijau
Firsta Yunida : Interview with Tiza Mafira: Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP)
Fahmi Anhar : Dilema Wisata Karimunjawa
Wisnu Yuwandono : Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan
Felicia Lasmana : Apa itu Green Tourism?
Wira Nurmansyah : 5 Dosa Para Pendaki Gunung Yang Harus Dihindari
Indra Setiawan : Hutan Kalimantan, Nasibmu Kini
Olyvia Bendon : Ber-Ekowisata Bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran
Rembulan Indira Soetrisno : Bersihnya Situ Gunung
Farchan Noor Rachman : Menjaga Etika Perjalanan Menjaga Alam
Atrasina Adlina : Musuh Abadi, Plastik
Taufan Gio : How Environment-Friendly Are You?
Sutiknyo : Ekosistem Pesisir Di Ujung Negeri