Saya sempat terdiam ketika melihat sebuah batu hitam raksasa di daerah Watu Limo kabupaten Tulung Agung. Batuan andesit itu terlihat gagah menjulang sampai ke batas awan, dia seperti monster raksasa. Sekelebat, bayangan negeri sun gokong sang kera sakti muncul di kepalaku, sebuah panorama dengan tebing batuan yang menghujam tanah sekaligus menembus langit. Diselimuti kabut di pucuknya, begitu mistis.

“Itulah batu yang akan kita panjat” bisik Hamid mengagetkan lamunan, Hamid akan menjadi rekan sekaligus partner hidup-mati dalam memanjat tebing setinggi 425 meter ini. Mulutku masih tercekat, kata-kata tertelan bersama ludah. “Bisakah kita menyentuh langit jika berdiri di puncaknya?” hanya itu yang sempat terngiang di kepala.
sepikul2sepikul1Sepikul… begitu nama yang diberikan masyarakat untuk menyebut kawasan ini. Saat itu pagi begitu cerah dengan langit biru menghiasi angkasa. Hari ini kita akan memanjat dan merayap menempelkan tangan di celah tebing yang kemiringannya mendekati 90 derajat. Perlengkapan panjat disiapkan, Hamid yang kali ini berposisi sebagai first climber melakukan pemanasan ringan. Saya sebagai belayer mempersiapkan belay set.

Satu jam pemanjatan, Hamid sudah mencapai pitch pertama, change position dilakukan. Dia bersiap menjadi belayer dan saya berubah menjadi second climber. Harness dan chalk bag sudah terpasang di pinggang, debu magnesium beterbangan ketika saya mengoleskannya di tangan. Tepung putih bak terigu ini berfungsi untuk mencegah kelicinan pada batu ketika keringat mulai bercucuran.
yofaSatu jam berikutnya adalah satu jam paling lama dalam hidup saya. Menyusul hamid di pitch pertama tak semudah yang dibayangkan. Saya harus terbiasa dengan karakteristik batuan andesit yang mempunyai sedikit celah, crack sempit membuat jemari tak bisa sempurna dijejalkan, ditambah dengan keseimbangan dan fisik yang harus selalu dijaga agar tidak terjatuh.

Kita bahkan masih belum mencapai sepertiga dari keseluruhan tebing. Namun semua sudah terlihat begitu kecil di bawah sana. Suasana di atas sini begitu sepi, batu tetap membisu. Tak ada suara lain selain degup jantung yang memburu dan siulan angin yang menderu-deru. Pemanjatan akan menjadi sedikit sulit mulai dari titik ini, semakin sedikit cacatan batuan yang bisa dipergunakan untuk memanjat.

Hamid tetap menjadi leader, target selanjutnya adalah menyentuh titik tengah sepikul. Setengah jam pemanjatan cuaca mulai tak bersahabat. Alam menunjukkan kuasanya, awan menjadi gelap, hujan turun tak tahu permisi. Pemanjatan selama dua setengah jam berhenti di ketinggian 200 meter. Kita harus turun dengan cepat, batuan yang licin dan resiko tersambar petir adalah alasan utama menghentikan pemanjatan. Esok masih ada hari untuk melanjutkan, tak perlu terburu dengan ego yang bisa saja membahayakan.
climb sepikulMalam berteman longsor
Menjelang pertengahan malam, gerimis masih enggan untuk berhenti. Rintik hujan masih setia membasahi bumi. Suasana begitu sepi sampai tiba-tiba terdengar suara gemuruh batuan yang jatuh dari tebing. LONGSOR, reflek semua crew langsung berhamburan ke luar tenda, melihat apa yang terjadi sembari memastikan keselamatan diri. Titik longsor tak jauh dari tempat didirikannya tenda. Gemuruh batuan sebesar rumah cukup membuat sendi di sela kaki menjadi nyeri. Bagaimana tidak, satu saja batuan yang salah arah datang menyapu, tentu tak akan ada tempat untuk sembunyi.

Longsor terjadi dua kali berturut-turut, team bergegas packing peralatan. Turun ke pemukiman menjadi alternatif terbaik dalam kondisi seperti ini. Tak butuh waktu lama untuk sampai di perumahan warga, kita semua mengungsi dengan perasaan masih tak percaya. Sebuah warung kecil menjadi tempat yang pas untuk beristirahat sejenak. Beruntung pemilik warung masih belum menutup pintu.
sepikul3Perbincangan hangat mengalir begitu saja, entah kenapa di tempat-tempat seperti ini semua orang terasa seperti keluarga. Sang penjaga warung menjamu kita dengan apa adanya dan senyum ramah penuh sapa. Setelah mendengar alasan kita mengungsi, seketika meledak sebuah tawa tak henti. Ditengah kebingungan, si penjaga warung menjelaskan bahwa kejadian seperti itu bukanlah hal yang langka, bahkan bisa dikatakan disengaja.

SENGAJA?
Benar, para warga di sekitar tebing memang sengaja membuat longsoran seperti itu. Pada siang hari para warga yang berprofesi sebagai penambang batu sedikit demi sedikit meretakkan batu sebesar gunung tersebut. Begitu seterusnya sembari mereka menunggu hujan mengguyur dan melepukkan batuan. Longsur terjadi, bongkahan batuan berjatuhan, siap di jual. Mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga yang besar dalam menambang batu, cukup ketekunan tiada henti, sisanya diserahkan kepada alam.

Cukup masuk akal, namun tetap membuat pikiranku bercabang. Disatu sisi, mereka butuh penghidupan, disisi lain alam digerogoti tiada henti. Paradoks tak usai tentang cerita manusia yang mengais rejeki demi memperpanjang usia.
the crewNote: All picture taken by Wisma Bhayu “TwoHundredPhotography”

23 thoughts on “Senandung Di Ketinggian Sepikul”

  1. Bikin kangen tebing. Pertama manjat tebing beneran dulu di Parangndog. Selanjutnya hanya wall climbing 🙁

    Betewe pernah menaklukkan tebing-tebing Pantai Siung belum?

Leave a Reply

%d bloggers like this: