Pagi datang dengan cepat, aku terbangun di sebuah dormitori bernama Shannakalay. Semalam pilihanku jatuh di sini karena letaknya dekat dengan pusat kota, lagipula mereka mengaku tidak keberatan jika dibayar dengan dollar. Sebuah keputusan yang pagi ini terbukti keliru. Usai menghabiskan sarapan dan bersiap-siap keluar, sang pemilik dormitori mengingkari janjinya, mereka menolak dollar yang kuserahkan. Entah kenapa, rasa-rasanya setiap warga negara di sini bersekongkol alergi pada uang terlipat, padahal arta mereka sendiri tak kalah remuk. Berat hati, kurelakan juga kyat yang sudah sedikit itu meluncur dengan enteng ke tangan mereka.
Aku pun memulai hari dengan perasaan jengkel, jengkel yang nyatanya hilang setelah melihat aktivitas pagi di kota Yangon. Kantor-kantor pemerintah menggelar upacara bendera, sementara gerai makanan mengepulkan asap dan canda tawa. Di sudut lain, orang-orang pergi ke pasar, karyawan tergesa hendak bekerja, dan anak-anak berangkat sekolah. Banyak dari mereka yang kutemui mengenakan longyi. Beberapa bahkan dengan santai melapurkan tanaka ke pipi dan kening, seolah memang demikian peraturan tidak tertulis jika hendak keluar rumah.

Yangon adalah kota terbesar seantero Myanmar. Memperhatikan tata kotanya barangkali bisa diibaratkan dengan menikmati rujak buah, campuran ragam arsitektur berbeda zaman diaduk dalam satu kota. Gedung sepuh bergaya imperialisme Inggris bergandeng-gandeng dengan kuil Buddha yang berkilau emas. Hanya berjarak sepelemparan batu, terdapat apartemen kusam dan gedung kaca modern sedang berlomba menusuk langit. Pemandangan saling sengkarut, begitu kontras dan janggal. Barangkali persamaan yang mereka miliki hanyalah sama-sama menghadapkan diri pada trotoar yang kelabu.
Tak satupun terlihat sepeda motor, sejak tahun 2005 pemakaiannya di dalam kota sudah dilarang oleh pemerintah. Namun tetap saja aku harus membiasakan diri dalam menyeberang. Mobil yang berlalu lalang di Yangon memiliki setir kanan seperti di Indonesia, tapi mereka juga berjalan di lajur sebelah kanan mengikuti tabiat Inggris. Sepele, tapi alasan itulah yang membuatku nyaris ditabrak, berkali-kali. Sebelum matahari meninggi aku sudah sampai di kawasan Sule Pagoda, di sini kutemukan sebuah konter penukaran uang. Meski nilainya sedikit berkurang, setidaknya mereka berhasil menyelamatkanku dari kebangkrutan.

Kuteruskan langkah meniti aspal ke arah utara, melintasi jalanan yang semarak oleh kepak sayap burung dara dan gedung-gedung yang kepayahan melawan waktu. Mulai dari Yangon City Hall sampai ke stasiun kota yang sekujur temboknya sudah terkelupas. Stasiun ini mengerikan, gelandangan tidur sembarang di teras pintu masuk. Suasananya bagai hunian para pemadat, jika tak ingin disebut seperti penjara. Persis di depan stasiun, terdapat patung dua perempun yang sedang menjunjung kendi. Mulanya, kendi tersebut pastilah berfungsi sebagai pancuran. Kini tak ada lagi air tercurah, meninggalkan kolam yang obsolet di bawahnya, kering sempurna.
Sulit menemukan padanan Yangon di Indonesia. Ia cantik sekaligus bobrok bagai kota yang ditinggali bromocorah. Selama berjalan, selalu dapat kucium aroma dupa bercampur dengan bacin muntah menguar di udara. Siapa yang pernah singgah di sini pastilah bersepakat, bahwa Yangon bukan merupakan kota yang bersih. Bagaimana tidak, aku bahkan sempat menemui kotoran manusia teronggok di salah satu jembatan penyeberangan, masih lunak, dan belum mengering. Barangkali wajar bila turis menjadi makhluk langka di sini. Myanmar menempati peringkat kedua terbawah dalam penerimaan turis di Asia Tenggara. Rekor ini hanya bisa dikalahkan oleh Brunei Darussalam yang betah duduk di tampuk terakhir.

Maklum saja, catatan sejarah Yangon tidaklah terlalu gemilang. Ia tidak berasal dari kejayaan masa lalu, melainkan kegetiran hidup yang terendap selama berabad-abad.
Konon, daerah yang semula bernama Dagon ini hanyalah sebuah desa nelayan kecil yang dihuni oleh penduduk suku Mon. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Mei tahun 1757 akan menjadi akhir dari perjalanan desa tersebut. Alaungpayalah penyebabnya. Raja pemberang dari utara itu membantai puluhan ribu penduduk, menakhlukkan Dagon tanpa perlawanan, lalu dengan jumawa mengganti namanya menjadi Yangon, yang dalam bahasa lokal berarti ‘akhir dari perselisihan’.

Hanya berselang dua dekade dari kedatangan Alaungpaya, Yangon kembali masuk dalam medan laga. Kekaisaran Inggris mengobarkan perselisihan baru lewat perang Anglo-Burmese yang berlangsung selama tiga babak. Pasukan Britania itu berhasil menancapkan taring kekuasaannya mulai dari pesisir Yangon sampai ke batas pegunungan. Demikianlah yang selanjutnya terjadi: daerah ini dinobatkan sebagai negara jajahan bernama Burma, dijadikan koloni terpisah di bawah naungan provinsi India.

Seorang insinyur lalu didatangkan langsung untuk menata ulang kota. Yangon disulap menjadi pusat politik dan komersial yang sibuk. Hingga pada awal abad kedua puluh, kota ini telah memiliki infrastruktur yang bahkan dapat disejajarkan dengan London. Sebuah investasi yang sepadan. Itu sebabnya, meski kini sebagian besar bangunan sudah digerinda oleh waktu, Burma tetap menjadi negara yang memiliki bangunan kolonial terbanyak di Asia Tenggara.

Burma mendapatkan kemerdekaannya seusai Perang Dunia kedua. Meski begitu, jalan kenegaraan yang mereka tempuh bukanlah jalan yang mudah. Pada tahun 1962, sebuah kudeta dikobarkan oleh Ne Win. Ia merebut kekuasaan, mengubah konstitusi negara, lalu memimpin Burma layaknya seorang diktator selama dua puluh enam tahun. Sejak saat itu, Burma menjadi rezim junta militer yang nyaris selalu dipimpin oleh para jenderal.
Pemberontakan akhirnya pecah, satu juta mahasiswa tumpah ke jalan menuntut tegaknya demokrasi. Terjadi pada tanggal 8 Agustus 1988 dan dikenal dengan peristiwa ‘8888 uprising‘. Namun sayang, gelombang demonstrasi itu mengakibatkan mala: dibalas dengan senjata dan tindak kekerasan oleh tentara. Moncong senapan menyalak di sembarang waktu, lebih brutal dan lebih sadis jika dibandingkan dengan reformasi yang terjadi di Indonesia sepuluh tahun kemudian. Buku-buku mencatat, selama enam bulan, setidaknya lebih dari tiga ribu nyawa melayang sia-sia.

Belum kering bau amis darah di tanah tersebut, seorang kepala negara baru terpilih. Tokoh yang didaulat sebagai juru selamat itu mengubah nama Burma menjadi Myanmar, ia pula yang mengganti lagu kebangsaan, bendera, hingga memindahkan ibukota negara ke Naypyidaw, 320 kilometer di sebelah utara Yangon. Alasannya sederhana, Naypyidaw berada di tengah-tengah sehingga memiliki akses yg lebih cepat ke seluruh penjuru negeri.

Namun Kisah kelam belumlah berakhir. Negeri yang jarang diliput media ini kembali dilirik dunia lantaran konflik identitas yang melanda penduduk Rohingya di negara bagian Rakhine. Daerah tersebut dibumihanguskan, ratusan ribu penduduknya mengungsi sampai ke negeri-negeri tetangga, mulai dari Bangladesh, India, Thailand, Malaysia, hingga Indonesia. Krisis kemanusiaan itu dengan cepat menuai kritik, berbagai dukungan diberikan, tagar #saverohingya bertebaran, setiap orang berlomba-lomba menunjukkan kepedulian, meskipun banyak dari mereka yang jika ditanya, tetap saja keliru menunjuk posisi Myanmar di peta dunia.
Tapi masa-masa berat itu kukira sudah lewat. Sejarah baru ditulis, untuk pertama kalinya sejak tahun 1962, Myanmar dipimpin oleh pemerintahan yang terpilih secara demokratis. Meski kepayahan, mereka mencoba untuk berbenah. Kini Yangon berusaha menjadi kota yang ramah pada siapa pun. Duduk di lapangan Maha Bandula, aku hanya melihat kedamaian, orang-orang sibuk menunggu siang runtuh sambil bermenung. Di depan mereka berdiri sebuah tugu obelisk yang tegak menantang matahari, tugu kemerdekaan, tugu yang mengingatkan setiap orang bahwa negara ini tidak akan pernah tumbang pada siapa pun.

Dalam hati, aku turut mengaminkan doa yang dirapalkan rakyat Myanmar, semoga keadaan bisa terus membaik. Bukankah dunia tak membutuhkan gejolak kebencian?

24 thoughts on “Yangon, Sang Ibukota yang Pensiun”

    1. Bukan “paling tidak ramah”, bro. Tapi “penerimaan turisnya” paling kecil, alias nggak banyak dikunjungi wisatawan.

      Btw Yangon ini kotor, kumuh, dekil, tapi kok ya ngangeni sampai pengen ke sana lagi. Oh ya, aku kalo nyeberang jalan di sana selalu nginthil sama warga lokal, hahaha.

        1. Karena banyak turis menganggap Brunei nggak menarik, bahkan mungkin pada nggak tau ada negara namanya Brunei. Selain itu, aturan syariah di Brunei juga membuat negara itu nggak bisa jadi tempat party kayak Thailand atau Singapura.

        2. Banyak sebab si
          Negaranya kecil, ga banyak spot wisata, kalaupun ada ga banyak keluar di media
          selain itu juga negara ini nuansanya muslim banget,
          untuk sebagian orang sih ga masalah, tapi buat sebagian lainnya malah jadi penghalang tersendiri

    2. hwahahaha, niat ya moto kotoran
      waktu moto juga agak-agak gimana gitu
      antara seneng, lucu, sama mual gegara bau, jadi satu

      oya, soal Brunei itu uda dijawab Nugie, bukan tidak ramah, tapi paling sedikit penerimaan turisnya

  1. Mobil yang berlalu lalang di Yangon memiliki setir kanan seperti di Indonesia, tapi mereka juga berjalan di lajur sebelah kanan mengikuti tabiat Inggris.—-> persis, aku juga pernah mengalami hal serupa saat di Yangon. Tapi, memang gak seapes dirimu yang sampai nemu tahi anget. Terus lagi dari tulisan ini aku jadi tahu jika bangunan kolonial di Myanmar ternyata paling banyak di ASEAN.

    Btw, istilah bromocorah yang kamu gunakan apakah sepadan dengan bramacorah yang memang bermakna residivis? Aku kerap mendengarnya, tapi barangkali memang maknanya berbeda.

    Oya, aku selalu salut dengan komposisi foto yang kamu bidik mas, bawa berapa lensa biasanya kalau melancong?

    1. hahaha, tahi anget 😀
      antara apes sama enggak si Toms
      apesnya ya pagi-pagi udah mual, enggak ya jadi bisa nikmatin Yangon dari sisi yang berbeda

      bukan sepadan lagi Toms, tapi emang kata bakunya adalah ‘bramacorah’
      kalau bromocorah bentuk ga bakunya

      aku cuma bawa 2 lensa kok, kit 18-55 sama fix 50
      tapi yang fix 50 jarang banget dikeluarin, biasanya aku pakai lensa kit standard

  2. selain setir yang di kanan juga ada mobil yang setirnya di kiri. Setidaknya itu yang aku liat di tahun 2016, nggak tau kalau sekarang :D. Sempat bingung juga sebenernya sama kondisi tersebut.

    Kotanya emang cenderung kumuh dan kotor, banyak orang nginang dan meludah seenaknya.

    Sepertinya cukup sekali aja ke sana. belum punya niat mau kesana lagi.

    1. sekarang sudah hampir semuanya setir kanan mas, kecuali angkutan umum masih ada beberapa yang setir kiri
      bingung juga itu kalau mau nyalip kendaraan gimana, deg-degan juga 😀

      iya mas, kotanya emang kotor, tapi kalau ada kesempatan lagi, saya masih mau ke sana sih
      masih banyak yang perlu dieksplore

  3. “Sulit menemukan padanan Yangon di Indonesia” .

    Ya, saya kira ibukota negara kita kurang lebih ‘mewakili’ kondisi Yangon yang sampean ceritakan. Hanya saja, ada aturan larangan sepeda motor dalam kota. Di ibukota kan ganjil genap. Loh he? Nguawur, lhaiyo.

Leave a Reply

%d bloggers like this: