Pesawat itu bahkan belum sepenuhnya berhenti ketika riuh suara besi beradu mulai terdengar. Orang-orang sudah melepas sabuk pengaman, jauh mendahului lampu yang terpajang sia-sia di atas tempat duduk. Beberapa langsung berdiri di samping kursi, mulanya satu, dua, lalu hiruk pikuk itu menular hingga celah di sepanjang lorong penuh dengan orang yang sigap menghadap kabin masing-masing, tangan lincah membuka kenop, gegas mengeluarkan barang bawaan. Pengumuman tentang kedatangan dan anjuran untuk tetap berada di tempat duduk rasanya mubazir belaka.

Biasanya saat-saat mendarat seperti itu aku masih akan disibukkan oleh ritual menggeliatkan badan, membersihkan mata yang lengket, dan merapikan rambut yang berantakan. Tapi tidak kali ini, sebentar saja sudah kutemukan diriku berada dalam kawanan manusia yang penuh dengan ketergesaan tersebut, menjadi bagian dari orang-orang yang tak mau kalah, mengantre dengan langkah teringsut, bahkan kedua kaki ini langsung mengajak berlari ketika lepas dari pintu pesawat. Persis seperti anak ayam lolos dari kandang.
Bukan tanpa sebab, arloji yang berada di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku harus sesegera mungkin menyelesaikan urusan imigrasi, menukar dollar dengan kyat Myanmar, keluar dari Bandara Internasional Yangon, mencari taksi ke terminal Aung Mingalar, membeli tiket, lalu menaiki bus terakhir yang akan berangkat ke Bagan pukul setengah sepuluh. Secara matematis, waktu yang kumiliki lebih dari sekadar cukup. Galibnya, perjalanan dari bandara ke terminal butuh waktu tiga puluh menit saja. Namun hari ini bukan hari biasa, almanak merah, hari libur nasional. Jalan penuh oleh kendaraan, gegap gempita di sana-sini, dan macet adalah perkara lain yang tak bisa dihitung duga.

Di depanku telah berjejer empat orang. Masing-masing dari mereka menyelesaikan pemeriksaan imigrasi dengan cepat, bahkan cenderung tanpa ditanya-tanya. Aku pun demikian, sebuah stempel langsung dihentakkan ke pasporku tanpa proses panjang. “Welcome to Myanmar,” ucap penjaganya sambil mempersilakanku berlalu. Sepuluh menit saja aku sudah beranjak dari antrean pemeriksaan. Masih banyak waktu.

Persis sebelum pintu keluar, kulihat tiga tempat penukaran uang. Satu di antaranya sudah tutup dan satu lagi penuh oleh pengunjung, aku menuju gerai terakhir yang tak terlalu ramai. Di dalamnya duduk dua orang penjaga yang langsung memasang senyum bisnis ketika melihat kedatanganku. “Can I help you, sir?” Tanya salah satu dari mereka ramah.

“Yes, I want to change my dollar,” jawabku sambil mengeluarkan beberapa lembar uang yang hendak ditukar.

“Sure,” sahutnya masih dalam senyuman yang sama, senyum yang perlahan redup, lalu hilang, untuk kemudian berubah menjadi gelengan kepala setelah menerima uang dariku. “I am sorry, we can’t take your money.”

“What do you mean?” Aku baru saja akan mengeluh ketika ia lantas menyodorkan kembali uang yang baru saja kuserahkan. Mereka tidak mau menerima uang yang terlipat, kusut, apalagi rusak. Selain dari yang kubeli di Jakarta, dollar yang hendak kutukar adalah sisa dari perjalananku ke Amerika beberapa bulan sebelumnya. Di negara asalnya, lipatan ini sama sekali tidak menjadi masalah. Bedebah betul.
Di dalam kepalaku, aku membayangkan sebuah transaksi yang lancar, keluar bandara dengan semangat menyala-nyala, mencari taxi, sampai di terminal, memilih bus terbaik, dan meluncur ke Bagan malam itu juga. Namun yang kutemui justru penjaga konter penuh lagak yang begitu menggilai uang licin. Sudah kucoba untuk memelas bagai petani yang meminta hujan pada kemarau panjang, tapi ia bergeming. Antrean di belakangku bertambah panjang, aku mulai gusar, punggungku basah.

“Well, do you take Australian dollar?” Aku teringat pada dollar Australia yang sempat kubawa untuk berjaga-jaga jika keadaan buruk terjadi.

“No, no, we don’t take Australian dollar.” Seketika itu juga langitku runtuh. Bedebah pangkat dua. Haruskah kumulai perjalanan dengan hal yang tidak mengenakkan ini?

Lalu tiba-tiba konter sebelah memanggilku. Rupanya mereka sempat mencuri dengar dan bersedia memeriksa kondisi uangku dengan lebih teliti. Syarat yang mereka ajukan cuma satu, aku harus kembali mengantre, tentu saja.

Antrean kedua terasa lebih lama dan lebih panjang, tapi sebuah harap tumbuh olehnya. Penjaga di konter ini memisahkan beberapa dollar yang masih licin di sebelah kiri dan dollar terlipat di sebelah kanan, yang kira-kira masih bisa ditolerir dimasukkannya ke kelompok pertama. Lalu setelah menimang-nimang barang sejenak, mereka bersedia menukar sebanyak 40 dollar. Dengan kurs per dollar seharga 1300 kyat, itu berarti aku hanya berhak mengantongi uang setara 520.000 rupiah. Aku mengangguk lemah.

Pukul sembilan dan kyat yang terbatas, mustahil melanjutkan perjalanan ke Bagan malam itu juga. Uangku tidak akan cukup untuk memesan taksi, membeli tiket bus, membayar karcis masuk kota tua, menyewa sepeda motor, dan akan habis bahkan untuk sekadar sarapan esok hari. Terlalu beresiko, belum tentu pula bisa kutemukan tempat penukaran uang selama perjalanan.

Kulangkahkan kaki menuju smoking area. Di sana, kunyalakan sebatang rokok sambil berusaha untuk tetap merasa nyaman. Malam kian larut, tak punya banyak pilihan membuat keputusanku berubah. Malam ini aku akan menginap di Yangon. Tanpa rencana, mau tidak mau, suka tidak suka.

18 thoughts on “Sambutan yang tak Begitu Ramah”

  1. Saya merasa kaya akan kosakata setiap selesai membaca tulisan-tulisanmu. Tidak termasuk efek samping (atau ini efek yang semestinya utama) tiba-tiba menghidu samar aroma asap rokok yang dirimu isap malam itu; seolah-olah saya juga berada di ruang merokok yang sama, kendati tanpa raga. Mungkin suatu hari dirimu harus menerbitkan buku khusus yang isinya semua tulisanmu Mas, ataukah sudah ada? Hehe.
    Penasaran dengan tulisan selanjutnya. Bagaimana menghadapi kejadian dan perubahan jadwal yang tidak terduga saat menentukan keberhasilan perjalanan. Apalagi, di luar negeri! Pengendalian diri akan jadi sangat penting. Saya harus belajar banyak dari sini. Hehe.

    1. Hehehe, kalau dirimu bukan perokok brati aku harus minta maaf, Gar
      Soalnya sudah bikin kamu jadi perokok pasif lewat tulisan 😀

      Belum, Gar. Belum ada, dan ga pernah pede buat buku sendiri, siapalah nanti yang mau baca

    1. tipsnya apa ya
      selain mastiin waktu beli dollar di Indonesia minta ke konternya yang mulus
      trus waktu dibawa, usahakan bawa amplop, biar ga kelipet kak

Leave a Reply

%d bloggers like this: