Malam tadi berlangsung panjang, hitam, dan tanpa mimpi. Kini, justru ketika membuka mata, kutemukan diriku sedang berada dalam rasian. Berselimut halimun, sebuah kota tua nan sureal dipapaskan pada hadapku. Ribuan candi batu mencuat bagai tumbuh dari tanah, tidak lekang oleh usia. Menuruti peta bertarikh 1886, daerah ini pernah disebut Pagan. Setelah abad berganti, nama itu masih disandang, walau kini penulisannya sedikit berbeda: Bagan.

Jarak yang terentang antara Yangon dan Bagan adalah sekitar 700 kilometer. Usai dihentak perjalanan selama 10 jam, subuh tadi aku tiba di Shwe Pyi Highway Terminal. Dari sana, hanya ada satu angkutan umum menuju kota tua, yaitu taksi yang gemar menipu penumpang dengan ongkos mahal berlebih-lebih. Bayangkan, hanya untuk jarak tempuh sekitar 5 kilometer, mereka mematok harga sebesar 7.000 kyat atau setara tujuh puluh ribu rupiah. Siapa pun yang mulai berdoa saat menaiki taksi tersebut, boleh jadi ketika turun doanya akan langsung dijabah, sebab teraniaya betul dompet dibuatnya.
Setelah melakukan tawar menawar yang percuma, aku dan seorang kawan yang bersisian duduk saat perjalanan dari Yangon akhirnya bersepakat membagi ongkos. Pasrah, kami patuh menaiki taksi bagai lembu ditarik keluan. Kawanku itu hendak melawat ke New Bagan, kota yang dibangun di luar pagar kerajaan, lebih jauh, dan tentu saja lebih gemerlap. Sedang tujuanku adalah Old Bagan, kota yang didirikan oleh Pyinbya pada tahun 849, lebih dekat, dan sampai kini masih hidup dalam kurungan waktu yang seolah-olah tidak berjalan sama sekali.

Tak sampai lima menit berkendara, taksi kami berhenti sejenak di sebuah pos jaga, gerbang memasuki kota tua. Setiap kendaraan diperiksa dan warga asing diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 25.000 Kyat untuk kunjungan selama 5 hari. Proses administrasi selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan. Belum sempat kunyamankan posisi duduk, sang sopir telah ganti menginjak rem di sebuah persimpangan jalan. Sekonyong-konyong ia menoleh ke belakang dan berkata bahwa kami tiba di kawasan Old Bagan. Singkat betul, aku pun menyerahkan ongkos dan membiarkan kawanku melanjutkan perjalanannya ke New Bagan.

Turun dari taksi, kakiku girang bukan kepalang, dadaku berubah menjadi petasan. Bukan tanpa sebab, Setelah Champa di Vietnam, Khmer di Kamboja, dan Ayutthaya di Thailand, Bagan adalah bekas kerajaan besar terakhir yang kusambangi di daratan Indochina. Tapi bukan cuma karena itu ia menjadi istimewa, Bagan adalah jendela ke masa lalu. Kota ziarah ini merupakan warisan dari zaman ketika Myanmar masih menjadi salah satu kerajaan yang disegani. Begitu tangguh sampai-sampai kekuatan tempur mereka tersebar jauh ke selatan, menyentuh garis pantai Tenasserim di leher Semenanjung Malaka.
Jika Dagon memiliki Alaungpaya yang berjasa dalam pembentukan kota Yangon, maka di utara hiduplah Anawrahta, buyut dari Pyinbya, sekaligus pendiri kerajaan Pagan yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya negara Myanmar. Jika ingin dibandingkan, maka Pagan bolehlah disejajarkan dengan Majapahit dan Anawrahta disetarakan dengan Raden Wijaya. Barangkali yang membuat mereka berbeda hanyalah masa lalu yang dihadapi Anawrahta jelas lebih pelik.

Konon, ia merupakan anak dari raja Kunhsaw Kyaunghpyu dan ratu Myauk Pyinthe. Saat usianya baru menginjak enam tahun, sang ayah digulingkan oleh Sokkate, saudara tiri yang lahir dari rahim selir kerajaan. Tak berhenti sampai di situ, beberapa tahun kemudian si bebal Sokkate kembali membuat ulah dengan mengawini paksa janda Myauk Pyinthe, bibinya sendiri sekaligus ibu dari Anawrahta.

Demi mengetehaui perkara tersebut, Anawrahta mengamuk dan menantang Sokkate dalam duel satu lawan satu. Sebuah peristiwa monumetal yang akhirnya mengubah jalan hidup Anawrahta. Ia berhasil memagas Sokkate dari atas kuda, mendulang kemenangan, dan menyabet tahta kerajaan. Anawrahta lantas melebarkan sayap kekuasaan dengan menaklukkan banyak daerah lain. Ia membangun sistem irigasi, memperbaiki daerah danau Meiktila, membangun empat kanal di sungai Panlaung, dan tiga bendungan di Zawgyi, dan demikianlah mula sebuah kerajaan besar terbentuk.
Salah satu karya agung yang dibangun oleh sang raja kemudian adalah Shwezigon Pagoda, ke sanalah persinggahan pertamaku tertuju. Dalam bahasa lokal, Shwezigon berarti kuil yang terletak di bukit pasir. Alkisah, saat Raja Anawrahta ingin membangun kuil peribadatan, dilepaskanlah seekor gajah putih yang membagul relik tulang dahi Buddha di punggungnya. Sambil membiarkan gajah itu berkeliaran bebas, Anawrahta pun menitahkan bahwa di manapun gajah itu berhenti, di situlah kuil akan dibangun.

Maka saat gajah tersebut menghentikan langkahnya di sebuah gundukan pasir, ditetapkanlah titik tersebut sebagai lokasi pembangunan. Semasa hidupnya, Raja Anawrahta menyelesaikan tiga tingkat teras kuil, lalu putranya Raja Kyansittha menyelesaikan kubah stupanya. Proyek religius itu rampung dibangun pada tahun 1102.

Selayaknya rumah ibadah di masa silam, Shwezigon dicetak gigantik melebihi kebutuhan manusia. Ia harus memukau dan melambangkan kebesaran, dinding dibuat mengkilat, atapnya bertingkat-tingkat dibalur emas, kubahnya runcing seperti hendak menusuk langit, dan interiornya megah tak kira-kira. Usianya boleh ratusan tahun, tapi paras Shwezigon kini masih mulus bagai diseka setiap hari. Ia masih diperbaharui dan diperbaiki sehingga kokoh menanungi para biksu berlalu-lalang.
Bersama kuil Ananda, kuil ini adalah yang paling dipuja seantero Bagan. Bahkan ketika ibukota kerajaan Pagan pindah ke Ava pada abad ke 14, Shwezigon tidak pernah ditinggalkan. Hampir setiap hari para pria dan wanita datang ke sini menggilir doa. Dengan mulut berkecumik, mereka beribadah dan menyembah. Dalam pengertian yang lebih sempit, Shwezigon ibarat kakbah bagi umat Muslim dan tembok ratapan bagi umat Yahudi.

Pukul sembilan pagi aku pindah ke Candi Bulethi. Ini adalah titik paling fotogenik dari Bagan. Di bawah sana, terhampar ribuan candi batu masih ditudungi kabut di bawah sorotan matahari muda. Diperkirakan pada puncak kejayaaannya, ada sekitar 10.000 candi, 3000 kuil, dan 1000 stupa dalam area seluas 104 kilometer persegi. Kini yang masih bertahan hanya sekitar 2.200 candi saja. Sebagian hancur karena gempa pada tahun 1975, sebagian lain menyerah pada waktu.
Kuakui, sulit untuk membayangkan ada kota lain seindah Bagan. Duduk bersadai sambil menatap pada negeri yang arkais, kurasakan diriku seperti berada di alam mimpi, hanya saja dengan mata yang terbelangah. Jika saja Raden Saleh masih hidup dan pernah bertandang kemari, maka romantisisme lukisan Indie Mooi tentu tak hanya akan merujuk pada kawasan Hindia Belanda, tapi juga berkembang jauh hingga daratan asia tenggara.

8 thoughts on “Bagan dan Lorong Waktu ke Masa Lalu”

    1. Iyeessss, bener sekali, hehe
      Dagon itu namanya sebelum Yangon

      Bener Nug, susah banget kalo masaah transportasi,
      apalagi kalau sudah negaranya kepulauan, underdeveloped lagi
      bisa-bisa mahalnya ga ketulungan

  1. Hari pertama dibuat takjub dengan ribuan candinya, hari kedua aku mabuk candi. Nengok kanan candi, nengok kiri candi. Jadi sido numpak balon udara yang murah itu nggak?

    1. hwahahaha, aku mek sedino thok ya wes bosen i lid, muntah candi 😀
      podo koyok angkor wat lah, awal-awale exited, lama-lama kok ngene ae

      murah mataneeeeee 😀

  2. Begitu muncul foto kuil yang super megah itu, rasanya seperti hidup di waktu yang benar-benar berbeda. Tak seperti sekarang yang penuh dengan bangunan beton megah menjulang. Kayak bukan hidup di zaman sekarang. ahaha
    Dari cerita bagaimana Sokkete berhasil mengalahkan dan merebut tahta kerajaan. Aku jadi penasaran seperti apa sih kehidupan di zaman lalu? Apakah seperti yang di film-film yang menceritakan kehidupan kerajaan begitu? Ahh terlalu banyak angan-angan haha

    1. Indonesia sebenernya menarik kalau mau ngulik sejarah, sayang metode pengajaran sejarah kita membosankan
      jad kalau bahas-bahas kerajaan jadinya gimanaa gitu
      tambah film-film indosiar pakai naga, kesan sejarah kita jadi udik banget 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: