Teruntuk kekasih kecilku dimasa depan..
Kumulai beberapa lembar catatan ini dengan dorongan semacam entah. Bagaimana kabarmu sekarang, kekasihku yang akan datang? Aku tak pernah tahu kapan engkau akan membaca suratku ini, kita tak saling mengenal juga bahkan tak pernah bertemu. Setidaknya untuk saat ini masih belum.
Yang bisa dan terbiasa kulakukan sekarang hanyalah membayangkan bagaimana lengkung senyummu yang menyenangkan dengan tawa-tawamu yang renyah. Beruntunglah sebagian orang yang hanya dipisahkan jarak. Sedang kita dipasung waktu, tak ada yang perlu dilakukan kecuali menunggu.
Kekasihku, jika sampai suatu waktu dimana jari kita genap saling bertemu, kan kuajak engkau berkeliling. Kutunjukkan indahnya Indonesia padamu, kulekatkan megahnya nusantara dibenakmu. Kita akan mengisi digit-digit terkecil pergeseran waktu dengan mengunjungi setiap jengkal tanah negeri ini. Kuharap dirimu sudi menemaniku melangkahkan kaki kesana kemari.
Kita akan mulai perjalanan dengan menapakkan jejak di Serambi Mekkah. Pernahkah kau mendengar nama itu? Benar, sebuah sebutan untuk tanah permai nun jauh di ujung utara Sumatera, Nangroe Aceh Darussalam. Negeri yang sempat hancur karena tsunami namun cepat menata diri.
Aku masih ingat bagaimana pasang gelombang menerjang mereka pada penghujung tahun 2004. Minggu pagi kala itu, gempanya terasa kesegala penjuru. Kuyakin gema ketakutan disemprotkan ke udara bagai tinta gurita, para mayat jatuh bergelimpangan dengan perut penuh air. Jerit putus asa menyesaki ruang. Lautan marah luar biasa. Rumah-rumah, pohon-pohon, pucuk gunung di kejauhan, jadi remuk tak jelas bentuk. Rata tanah. Kecuali satu masjid yang berdiri tegak tak bergerak. Masjid Raya Baiturrahman namanya.
Walau telah berselang sepuluh tahun, kenangan pahit itu masih jelas membekas. Manusia tak pandai dan takkan pernah sempurna dalam melupa. Kini sebuah museum didirikan untuk mengenang kejadian tersebut. Disana kita akan disambut dengan Lorong tsunami, Ruang Kenangan, Sumur Doa, Lorong Cerobong, dan berakhir di Jembatan Harapan. Sebuah bangunan filosofi yang menggambarkan ketegaran dan mengajarkan rakyatnya untuk terus tegak menatap hari.
Lelah berkeliling seharian, mari kuajak engkau berehat menikmati merahnya pemakaman senja paling akhir Indonesia, dengan matahari yang siap layang ke pucuk barat langit Alue Naga. Begitu manis dan melankolis. Kuharap engkau menyukainya, kekasih.
Pada malam yang tak lega, mari berpindah ke jalanan kota. Walau terasa gelap, tapi sinar bulan kuyakin cukup untuk meremangkan ruang yang ditinggalkan matahari senja. Disini kopinya sangat istimewa, Tak percaya? Ayo kita berhenti di salah satu warung kaki lima dan buktikan sendiri. Aku berani bertaruh bibirmu takkan berhenti mengecap, kopi disini adalah candu nomor satu. Silahkan dinikmati, sembari duduk berhadapan tanpa banyak bicara, biarkan kosakata pindah ke tatapan mata.
Jika hari telah habis, akan lahir harapan baru yang kita kenal dengan esok. Kekasihku, apakah kau menyukai keluasan biru laut? Jika iya marilah Kita menghabiskan hari berenang dan menyelam di jernihnya perairan pulau Weh. Membuat tubuh lekat dengan bau garam yang tak bisa hilang begitu saja. Kehidupan tak hanya beranak pinak diatas sana, saksikan berjuta warni-warna nyawa yang terendam di bawah permukaan. Percayalah, sensasinya akan berbeda.
Masih di Sabang dengan burung-burung kecil berparuh kuning muda yang sibuk berceriap. Pernah mendengar Tugu Nol Kilometer? Disinilah tempatnya, sebuah batas administrasi negara. Memang sabang bukanlah yang paling utara, masih ada pulau Rondo jauh di seberang sana. Namun Sabang tetaplah Sabang, yang akan terus menjadi kota yang istimewa.
Tunggu sebentar, akan kupetikkan kelapa muda untukmu. Mari ciptakan beberapa waktu berharga untuk disimpan di dalam kenang, agar tak selalu ia layang kepada tiada. Kupasangkan hammock pada dua pohon berbatang rendah. Sembari meneguk segar, biarlah perlahan lelap diri dan damai mimpi merekah disepoi angin jinak.
Bagaimana kekasih?
Akankah kau kan segera datang?
Jika belum, dilain waktu ku kan menyapamu kembali dengan surat lain. Aku akan terus menulis, melanjutkan cerita dengan destinasi yang berbeda. Jangan pernah takut dituding sang pemimpi, katakan pada mereka bahwa imajinasi adalah tiket pesawat paling murah bagi para petualang.
Sampai jumpa
Barangkali kita bertemu, mungkin pada suatu besok atau sebentar lagi?
All photos was taken from www.google.com

Menarik tulisannya. Belakangan makin banyak yg nulis tentang Aceh..ikut senang 😀
makasih makasih, iya nih, lagi demen banget sama aceh, semoga nanti bisa kesana 🙂
Aku juga cinta Aceh dan Sabang. Selalu ingin kembali seperti pulang kampung. Yg blm kesampaian liat danau laut (air?) tawar di Takengon.
mari kita mencintai indonesia sama-sama 🙂
semoga keinginannya cepet kesampean mbak, amiinnn
Romantis…
hahaha, iya duuuunk 😀
Manis 🙂
dan juga puitis, kuharap 🙂
mas Yofangga juara bgt deh! <3 sama tulisan ini.. bikin mata bersinar-sinar nahan nangis :')
eeehhh.. eehh..
lha kok malah nangis? hehe
khan tulisannya ngajakin jalan2, jadi jgn sedih 😀
Tulisannya bagus mas, jadi pengen ke Aceh lagi ketemu temen – temen lama disana..:)
Sukses terus buat anda mas… salam…
makasi apresiasinya mas
wah, asli aceh yah?
semoga tulisannya bisa sedikit mengobati kerinduan
halaahh…
hehe 😀
awesome….
sumpah keren 😀 ada bukunya ga om??
gak ada bukunya mas
masih belum berani nulis buku
hehe
😀
Semoga bisa segera ke Aceh ya Yofangga 🙂
makasi mas ari, yah, semoga suatu saat nanti kesampean 🙂
Membaca tulisan ini mengingatkan saya akan hilangnya hampir seluruh keluarga dari Ibu yang tinggal di pesisir Meulaboh.
Tulisan yang bagus Mas, sukses terus ya 🙂
saya turut berbela sungkawa
yakinlah setiap doa takkan putus kepada semua korban 🙂
makasih udah mampir yah
salam kenal