Setelah puas bermain dengan indahnya pantai Indonesia, saatnya kita masuk dan menelurusi perut bumi. Menikmati indahnya stalagtit dan stalagmit goa Gong yang tercipta dari endapan kapur ratusan tahun di bawah lempeng desa Bomo, kecamatan Punung, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kota yang dijuluki sebagai kota 1001 goa.

Nama Goa Gong dianungrahkan untuk goa ini karena konon suara dentuman gong (sebuah instrumen gamelan jawa yang dipukul dan berfungsi sebagai nada pemungkas) kerap terdengar dari dalam goa. Cukup misterius memang, bagi orang yang tak mengerti, julukan angker bisa saja langsung melekat. Namun secara ilmiah hal ini memang biasa terjadi di daerah yang memiliki banyak goa. Hembusan angin yang kebetulan masuk dan terperangkap dapat menciptakan gesekan terhadap ornamen yang ada di dalam goa sehingga bisa menimbulkan bunyi sebuah nada dan suara yang menggema.
gong3Penasaran dengan mitos dan keunikannya, saya berinisiatif untuk berkunjung ke goa ini. Perjalanan saya menuju Pacitan diwarnai dengan pemandangan bebatuan karst di kanan dan kiri jalan. Akses menuju Pacitan melalui Ponorogo memang sudah beraspal mulus namun tetap saja terasa menarik. Jalanan yang berkelok dengan tanjakan dan turunan yang seakan tidak ada habisnya senantiasa mengiringi laju roda kendaraan.

Sesampainya di gerbang pintu masuk kawasan wisata, kita akan diwajibkan membayar retribusi dengan harga 5.000 rupiah. Setelah melewati pos pembelian karcis, saya melanjutkan perjalanan sekitar 100m untuk mencapai pintu masuk goa. Untuk wisatawan yang tak membawa perlengkapan apa-apa, jangan takut. Sepanjang perjalanan menuju goa Akan banyak sekali orang yang menawari jasa guide dan persewaan senter.

Begitu memasuki goa, mata saya langsung menyesuaikan perubahan intensitas cahaya dari terang menjadi gelap. Tak perlu khawatir tersesat, di dalam goa sudah dibangun tempat berjalan yang dilengkapi tangga, pagar pengaman, dan lampu. Namun tentu tetap harus berhati-hati dan bersikap sopan dalam goa. Semakin ke dalam suasana goa semakin pengap dan lembab. Untuk itu blower banyak dipasang di sudut-sudut ruangan, sehingga pengunjung tidak lemas dan tetap bisa merasakan segarnya pergantian udara yang dihembuskan.
gong2 gong1Goa Gong sempat diklaim sebagai gua terindah se-Asia Tenggara. Waktu saya berkunjung, terlihat jika pujian itu tidak berlebihan. Kawasan karst yang terbentang mulai dari Kebumen di Jawa Tengah, berlanjut hingga kabupaten Gunung Kidul, terus ke timur hingga Pacitan, lalu Ponorogo, Trenggalek, Malang, hingga berakhir di Jember membuat alam bawah tanah kota Pacitan begitu cantik.

Ornamen yang terdapat di dalam goa Gong pun begitu beragam. Mulai dari:
Stalagtit (Endapan batuan yang tumbuh dari atap sebuah gua karena tetesan air yang mengandung larutan kalsium karbonat)
Stalagmit (Tetesan dari stalagtit yang jatuh dan membentuk tonjolan batuan dari lantai goa)
Column (terbentuk bila stalagmit dan stalgatit bersatu membentuk sebuah pilar goa)
Flow Stone (Kalsit yang terdeposisi dan berbentuk seperti lilin yang meleleh dan menempel pada lorong goa)
gong6 gong5Indahnya lekukan-lekukan batuan dalam goa laksana mahakarya ukiran bernilai seni tinggi. Ditambah dengan cahaya lampu berwarna-warni menambah pesona interior goa ini. Namun tahukan kalian para pejalan bahwa dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk menambah panjang stalaktit sepanjang 1 cm. Jika sebuah goa memiliki stalaktit dan stalakmit yang sudah terbentuk, diyakini goa tersebut telah berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

Jadi, sudah saatnyalah kita ikut menjaga goa dengan tidak berbuat seenaknya dan bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan sekitar.

8 thoughts on “Mengintip Perut Bumi Pacitan”

Leave a Reply

%d bloggers like this: