“May I take a picture?” Tanyaku akhirnya memberanikan diri.

“Yeah, sure. It’s legal, you can take any pictures.”

“Thanks,” balasku bahagia mendengar jawabannya.

“Please, tag us on facebook, if you don’t mind.”

Sepuluh menit sebelum percakapan itu terjadi, aku masih gamang memutuskan apakah masuk atau surut sama sekali. Dari luar, bangunan bercat putih itu terlihat biasa saja, serupa toko-toko lain di pinggiran jalan kota Portland. Barangkali satu-satunya perihal yang membuatnya tidak biasa dan sempat meragukan langkahku barang sebentar adalah sebuah tanda palang berwarna hijau, yang terpampang jelas di depan pintu. Orang menyebutnya dispensary. Tempat membeli ganja, baik untuk tujuan medikal maupun rekreasional, secara legal.
Berbeda dengan San Francisco, terhitung sejak tanggal 1 juli 2015, pemerintah Oregon menghapus segala pantang dan larang terhadap kepemilikan ganja. Tiga bulan sesudahnya, sang gubernur melegalkan transaksi jual-beli serta mengatur konsumsinya dengan cara yang mirip dengan alkohol. Itu berarti, meski menghisapnya di tempat umum masih akan mengundang celaka, tapi membawa dan menyimpan ganja dalam takaran tertentu, dibenarkan oleh hukum, dilindungi undang-undang.

Pendeknya, dalam satu hari di satu dispensary, penduduk Oregon yang berusia di atas 21 tahun boleh membeli ganja rekreasional sebanyak satu ons, setara dengan 28,3 gram. Sedangkan yang memiliki kartu identitas pengguna ganja sebagai obat, diizinkan untuk membeli sampai delapan ons. Jika dulu orang harus sembunyi-sembunyi menanam ganja, kini pemerintah memaklumatkan izin budidaya maksimal sampai 4 pohon bagi pegguna rekreasional dan 6 pohon bagi pengguna medikal.
Sebuah langkah besar bagi negara bagian yang namanya jarang terdengar. Selain Oregon, adalah Colorado, Maine, Massachusetts, Nevada, dan Washington yang sampai saat ini telah memperbolehkan penduduknya memiliki ganja. Peraturan ini jelas mengubah banyak perkara, mulai dari gaya hidup sampai pada sektor yang rumit-rumit seperti ekonomi. Kini terdapat 168 dispensary seantero kota Portland saja, jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Starbucks yang cuma berjumlah 50 gerai. Bahkan sempat kutemukan beberapa agen perjalanan yang khusus mengajak tamunya berkeliling dari satu dispensary ke dispensary lain.

“May I see your passport?” Perempuan itu meluruhkan lamunanku. Demikianlah, kuputuskan untuk masuk juga akhirnya, entah kenapa tiba-tiba aku merasa harus. Ruangan tempatku berada sekarang sama putihnya dengan warna dinding depan. Suasananya persis bagai ruang tunggu rumah sakit, tapi tanpa kursi pasien. Tidak ada apa-apa kecuali satu meja resepsionis dengan penjaga yang selalu tersenyum. Ia lekas memeriksa paspor, memastikan umur, dan mencatat identitasku tanpa lupa melengkungkan bibir.

“Have you ever been to Portland before?”

“Nope, this is my first time.”

“Welcome to Portland,” balasnya dengan nada riang sambil mengembalikan pasporku. Ia lalu menunjuk sebuah pintu ke mana selanjutnya aku harus bertolak.

Setelah berterima kasih dan memberikan anggukan kecil, aku mengikuti arah yang dimaksud. Tepat pada waktu pintu dibuka, bau yang selalu membuatku bahagia itu tercium begitu saja tanpa tercegah. Semakin dalam aku masuk, semakin tenggelamlah tubuhku pada lautan kegembiraan. Langsung kutemukan diriku bagai anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru, senang tak tertanggungkan.
“Hey, can I help You?” Tanya orang yang berada di ruangan itu, dialah sang penjual.

“Yeah, I want to buy something, give me an option.”

Maka bergegaslah ia bercerita tentang apa-apa yang dimiliki. Sebutlah namanya dengan Cannabis indica, tanaman militan ini tumbuh cepat, rendah, dan bergerombol bagai rimbunan semak. Kuncup bunganya rapat dan tebal dengan daun pendek tapi lebar. Sedangkan saudaranya, Cannabis sativa, bagai mengayuh biduk ke hulu, bertolak dengan pohon lebih jangkung dan daun lebih panjang serta ramping. Ganja terakhir berjenis Hybrid, dari namanya jelas ia merupakan kawin silang atara Sativa dan Indica dalam kadar tertentu. Setengah dirinya adalah dia yang lain. Ia adalah Sativa, juga Indica secara bersamaan.

Setali tiga uang dengan bentuk, perangai ke tiganya pun berbeda. Hybrid agaknya boleh jika dikelompokkan dalam golongan ganja berkepribadian ganda. Sativa membuatmu tiba-tiba merasa kelebihan energi dan konsentrasi. Sekeping demi sekeping lagi kebahagiaan akan jatuh di dalam kepala sementara daya pikirmu terbang melayang-layang. Indica adalah pemalas yang renta. Ia membuatmu santai dan tak mau melakukan apa-apa, persis bagai Sabtu pagi yang tenang. Sesekali mungkin dia akan melandamu dengan rasa kantuk yang tak dapat ditawar-tawar. Maka terimalah, tak ada lagi yang lebih baik dari rebah dan pulas hingga esok hari.
Harganya bermacam-macam, mulai dari sembilah hingga tujuh belas dollar untuk pembelian satu gram, tergantung kesulitan mendapat maupun proses pembibitan. Ia kemudian menutup ceramahnya dengan menyorongkan berbotol-botol bunga ganja ke bawah kaca pembesar dan menyuruhku mengamati. Persis dari balik suryakanta itu dapat kulihat tumbuhan yang begitu cantik. Masih sempurna di kepalaku bentuk kelopaknya yang berkilat keemasan, meledaklah kekagumanku tanpa harus merasa salah dan mengendap-endap. “I plant this one on my backyard,” ucapnya santai seolah sedang menanam pepaya saja di belakang rumah.

Lepas dari apa yang dijual, harus kuakui tempat ini menarik. Ia menghadirkan keintiman antara penjual dan pembeli. Penuh obrolan, hangat dan bersahabat. Relasinya bukan tentang siapa raja dan siapa pelayan, melainkan teman baik yang selalu siap berbagi cerita. Pantas kiranya banyak yang datang dan pergi sejak tadi. Setelahku sudah bermacam-macam, mulai dari wanita cantik dengan rambut diikat ekor kuda, pemuda yang pulang mengajak anjingnya berjalan-jalan, bapak-bapak dengan pakaian kantor, sampai ibu-ibu tua yang berumur senja. Siapapun, selama berumur lebih dari 21 tahun, apapun ras mu, agamamu, pilihan sexualmu, kau diterima di tempat ini.
Selama sekian petang di Portland, ada sekitar lima dispensary yang berhasil kusambangi. Bagiku, peraturan ini justru menarik jika dilihat dari bagaimana masyarakat Portland memandangnya. Tiap-tiap orang yang kutemui akan menyatakan bahwa ganja membuat tingkat kriminalitas di Oregon menurun. Aku bahkan memiliki seorang sahabat yang mengambil kuliah kedokteran dan menghisap ganja setiap hari. Menurutnya dan banyak peneliti lain, ganja bisa berfungsi sebagai anti depresan serta dapat menghilangkan rasa nyeri. Tidak sedikit yang akhirnya mengkonsumsi ganja karena alasan medis.

Benar atau tidaknya cerita yang kudapat, tentu itu lain soal. Setidaknya Oregon berhasil memproklamirkan dirinya sebagai negara bagian yang mampu beradaptasi dengan perkembangan. Kapan Indonesia bisa seperti Oregon? Entahlah, mustahil rasanya ganja bisa dilegalkan. Sesuatu yang baik di satu tempat belum tentu bisa baik di tempat lain. Lagipula negeri kita masih kanak-kanak. Masih belum cukup dewasa. Biarlah ia sementara bermain-main dulu dengan demo atau aksi protes bertanggal cantik.

20 thoughts on “Kota yang Tahu Cara Bersenang-senang”

  1. Aku pernah baca ulsan tentang Ganja yang legal di Luar Negeri. Kalau tidak salah Majalah Natgeo edisi ganja itu bulan mei 2016. Di asna memang dilegalkan dan dipergunakan untuk medis. Tetap ada aturan yang harus dipatuhi. Menarik memang membaca tentang Ganja di luar negeri, mereka menjadikan sebagai obat, bukan hanya sekedar untuk mengilangkan stres semata dan disalahgunakan.

    1. Iya, Natgeo pernah bahas soal ganja, aku juga lupa di edisi berapa
      kalo menurutku, selama masih ikut peraturan sih harusnya ga masalah
      dalam dosis tertentu ganja malah bagus kok, beda kalau sudah berlebihan
      tapi, apa sih yang baik kalau berlebihan? oksigen aja bisa jadi racun kalau berlebihan 😀

  2. Tulisan yang apik untuk ulasan yang jarang diulik orang.
    Membaca tulisan ini, membuat ganja menjadi seeksotis kopi dan teh yang kini marak dibahas dimana-mana.

    Jadi betah ya bang di Oregon? hehehe 🙂

    1. hehehehe, ganja emang eksotis sih kak, buat sebagian orang 😀
      iya kak, betah banget, orang-orangnya juga sih, salah satu yang bikin betah
      mereka udah nganggep ganja itu barang umum, jadi kalau tau ada yang lagi teler gitu ya mereka cuek aja
      ga ikut campur

  3. Ulasan yg menarik mas. Bagaimana di sebuah kota yg sudah melegalkan ganja. Menariknya bahkan di jual di kedai layaknya kedai kopi dan semacamnya ya?
    Kukira hanya dikonsumsi seperti rokok saja

  4. Terkadang apa yang dilarang dengan ketat justru membuat masusia itu penasaran dan setelah sekali mencoba jadi kebablasan, tanpa rem karena melanggar peraturan itu HARUS. Justru dengan aturan pemerintah yang sedikit melonggarkan penggunaan ganja, sama halnya mengizinkan majalah porno beredar di pasaran. Tentu sesuai kebutuhan. Eh bener nggak ya opiniku? Hahahaha. Jangan sampai seperti negeri kita yang gambar puting sapi aja disensor, kan jadi penasaran kepingin sesap langsung dari putingnya. #ehhh

    1. jadi gimana ni ko? kita buat gerakal pelegalan majalah porno?
      eh, gimana tadi?
      hahahaha
      ya balik lagi ke masyarakatnya sih ko, di sana agama udah ga ikut campur kehidupan sosial
      mereka pikirnya udah rasional aja, kalau di sini..
      HARAAMMM.. bakarr.. hancurkan… 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: