Ada dua perihal yang begitu kusuka dari Portland, mereka adalah ganja legal dan curah hujan. Hampir 9 bulan dalam satu tahun kota ini bermandi air, laku langitnya persis seperti laku peternak yang saban hari memberikan awan pakan terbaik. Lalu awan-awan itu seolah dibiarkan kawin secara leluasa hingga beranak pinak dan menjatuhkan hujan dari waktu ke waktu. Jika dimirip-miripkan dengan Indonesia, Portland barangkali adalah Bogor, tentu saja tanpa ditambah ribuan angkot.

Tanggal pada kalender waktu itu sudah mendekati akhir bulan Maret, saat musim semi harusnya bersiap-siap naik pentas. Namun hujan nampaknya tidak peduli, ia bergeming saja sebab tiada punya jam tangan. Ia bisa saja tiba-tiba jatuh tanpa perlu memberi tahu sebelumnya. Persis seperti hari ini, hujan telah turun semenjak pagi. Memang bukan hujan lebat yang jatuh bagai air terjun dan hendak menenggelamkan kota. Melainkan gerimis tipis yang bandel, yang turun menyerupai bedak dari langit. Kadang terlihat akan reda, tapi kemudian, seolah tiba-tiba teringat akan sesuatu, mulai menangis lagi.
Setidaknya sampai tengah hari, barulah suara rintik yang berderap-derap memukul permukaan atap rumah itu berhenti. Aku pun kemudian berangkat menyusuri jalanan yang basah kuyup. Tujuanku kali ini adalah Multnomah Falls, sebuah air terjun yang terletak di salah satu sudut Colombia River Gorge, sekitar 45 menit berkendara dari jantung kota Portland. Lalu lintas masih lancar, tidak ada kemacetan, tidak ada raungan klakson, tidak ada mobil salip menyalip, atau motor yang naik ke trotoar. Semua orang tahu apa hak dan apa kewajibannya dalam berbagi jalan raya.

Mobil masih bergerak dengan kecepatan sedang, tidak lambat, juga tidak buru-buru seperti mengejar sesuatu. Selepas melintasi jejeran rumah, mobil keluar dari kota dan masuk ke jalur freeway. Langit cerah sebentar, matahari muncul malu-malu menguapkan air pada permukaan jalan dengan sekuat tenaga. Aku yang tidak menyetir, diam-diam saja sambil mendengar lantunan lagu pop dari radio. Sesekali kubuka kaca jendela, membiarkan udara segar masuk ke dalam mobil, terus melewati tenggorok, lalu masuk ke dalam paru-paru. Wanginya masih serupa dulu, aroma tanah basah yang menenangkan.
Pemandangan di luar sana sudah berganti menjadi bukit-bukit berwarna cokelat muda. Berderet pula pohon cemara yang lebat, hijau sebatang-batangnya karena ditumbuhi lumut daun. Cicit burung bernyanyi kencang-kencang. Di salah satu sudut, sang pejantan tampak menggoda sang betina sambil menari berpindah dari satu ranting ke ranting lain. Suasananya persis bagai lagu naik gunung semasa kecil, perbedaannya barangkali hanya pada suara gemuruh air terjun yang kini samar-samar terdengar dari kejauhan, mengalir melalui celah bebatuan yang berumur lebih dari usia manusia.

Sampai di Multnomah Falls, cerah yang kukira takkan bersudah, ternyata redup kembali. Mendung muncul tiba-tiba menggelayuti langit dengan kerudung tebal. Tidak ada cahaya yang jatuh hingga ke tanah, segala tampak gelap dan remang. Entah kenapa, di sini aku berubah menjadi manusia yang begitu mendamba hangat matahari, yang jika di negeriku sana, dibuang begitu saja sebab jumlahnya berlimpah ruah. Dan begitulah, aku terpaksa keluar dari mobil dengan sambutan gerimis yang jatuh.
Kulangkahkan kaki dengan sedikit berlari, sambil merapatkan jaket untuk menahan deru angin yang mengiris ngilu tulang-tulang. Sebenarnya di balik jaket sudah kupakai dua lapis baju lagi, tapi nyatanya tidak membantu apa-apa, dingin itu tembus dan kekal. Anehnya, hanya diriku sendiri yang demikian, orang lain kulihat menerobos hujan tanpa pelindung apapun, tidak payung, tidak pula jas hujan. Alih-alih mencari tempat yang nyaman untuk berteduh, mereka biasa saja berlalu lalang dengan tubuh basah dan lembab seperti botol minuman yang baru saja dikeluarkan dari kulkas.

Mendekati kaki air terjun, ada sebuah pondok kayu yang menjual beragam oleh-oleh dan makanan. Aku singgah sebentar untuk membeli segelas cappuccino sebagai penghangat tubuh. Setelah membayar dan menerima pesanan, kulanjutkan antrean ke meja panjang tempat gula, susu, krim, madu, dan pengaduk tertata. Dari sekian banyak botol yang berjajar, kupilih satu dengan tulisan cinnamon dan mencampurkannya ke dalam minuman sambil terus mengaduk secara perlahan. Sedetik kemudian, asap cappuccino itu sudah bercampur dengan uap air dari mulutku.

Multnomah Falls, begitu misterius dalam dekapan kabut tipis. Dari kejauhan, air terjun yang terbagi menjadi dua jenjang itu tampak begitu jangkung. Jatuh dari ketinggian 189 meter menjadikannya air terjun tertinggi seantero negara bagian Oregon. Tepat di antara jenjang pertama dan jenjang ke dua, terentang sebuah jembatan pandang, tempat orang bisa melihat debur air dari dekat. Simon Benson nama jembatan batu itu, dilekatkan padanya dari nama seorang stonemason Italia, yang pada tahun 1914 menghibahkan dana cukup besar untuk biaya pembangunan jembatan.
Di bawah air terjun, mengalir sungai sebening gelas. Arusnya tidak kencang hingga menjadi tempat yang cukup nyaman bagi bayi ikan Trout dan Salmon, seolah memang sengaja diciptakan demikian. Setahuku, tiap-tiap bulan Oktober hingga Desember, Salmon yang telah dewasa beramai-ramai melawan arus dari Samudera Pasifik. Sebagian dari mereka tentu akan mati dalam perjalanan, tapi bagi yang selamat dari bahaya, akan menitipkan telurnya di sungai ini dalam jumlah ribuan.

Salmon muda yang kemudian lahir akan bertahan di air tawar selama tiga tahun. Sementara, mereka hidup dengan memakan serangga, menjadi remaja, berangsur-angsur ke muara, lalu menyusul induknya ke lautan. Setelah cukup matang, para penerus generasi ini akan sekali lagi bermigrasi, balik ke tempat dulu dilahirkan untuk kembali menitipkan telur. Garis hidup yang berulang, selalu seperti itu, hingga seterusnya.
Lama kupandangi sungai yang jernih itu di bawah gerimis. Meski kulit sudah mati rasa, tapi ada perasaan tenang yang ditimbulkan dari tempat ini. Suara serangga hutan, daun-daun yang digoyang angin, dan wajah yang diperciki butir-butir air membuatku larut dalam perenungan. Betapa tinggal di tempat seperti ini merupakan sebuah kemewahan. Menepi di pinggiran kota, jauh dari lampu sorot dan keramaian. Saat membuka jendela, yang menyambutmu justru pemandangan bernilai mahal. Lalu dengan segelas kopi dan buku bacaan, menikmati pagi yang berkabut.

Seandainya suatu saat hal itu benar-benar terjadi, maka tentu hari ini akan menjadi hari yang kelak akan kukenang kembali. Sebab di sinilah mimpi-mimpi itu bermula dan mulai diciptakan.

18 thoughts on “Berkenalan Dengan si Jangkung, Multnomah Falls”

  1. baru tahu kalau salmon hidup di air tawar selama 3 tahun, macam bang toyib yang nggak pulang 3X puasa 3X lebaran saja hehe

    tone fotonya cakep mas, bikin syahdu-syahdu sendu *laaah?apaan?

    1. hehe, iya mas. Salmon biasanya setelah menetas hidup di air tawar dulu sebelum kembali ke laut
      kalau sudah dewasa, ia kembali ke air tawar untuk bertelur lagi
      duuuh, hahaha, kebetulan lagi mendung aja, jadi tonenya agak-agak gimanaa gitu 😀

  2. Abangku idola remaja, tulisan-tulisannya selalu bikin kagum! Banyak gaya! Gaya bahasa maksudnya. Hahaha. Selalu penuh kejutan dengan diksi dan personifikasi. Ngajar nulis atuh, sayang banget kalau ga ditularin ke orang-orang, Bang.

    1. aduuuhdududuh
      apalah aku bang, siapa juga yang mau denger materi penulisan dari aku mah
      banyak yang lebih femes dan lebih kece 😀
      pemateri ngundang aku juga ujung-ujungnya rugi gegara ga ada yang dateng 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: