Kukira akan ada sebuah masa, di mana segala hal yang terjadi sama sekali tidak terduga dan jauh dari apa yang pernah direncanakan. Hidup memang seperti itu, penuh dengan rentetan gelombang kejut yang tak sepenuhnya bisa kita mengerti.

Aku tak pernah berani bermimpi untuk bisa ke Amerika. Bagiku negeri yang terletak di balik bumi itu, yang tiket pulang-perginya saja bisa membiayai lunas uang kuliahku selama tujuh tahun, sungguh terlalu asing. Bagiku yang lahir di sebuah kota kecil di pinggiran Sumatera, Amerika Serikat adalah apa yang hanya bisa ditonton dari layar televisi, adalah apa yang menjadi ikon peradaban dan majunya teknologi. Namun, tidak ada yang terlalu jauh bagi mimpi untuk dikabulkan.

Dengan langkah ragu-ragu, aku menuju meja imigrasi. Kupasang senyum paling tulus saat seorang petugas bermuka datar membolak-balik pasporku, sialnya ia tidak peduli. Setelah memastikan halaman visa, ia menanyakan alasanku ke Amerika, ke mana saja, dan berapa lama, semua dengan nada penuh selidik. Ia kemudian mengambil sidik jari, menyuruhku melepaskan kacamata, lantas memastikan foto yang ada di paspor benar-benar cocok dengan mukaku sekarang. Barangkali Amerika memang selektif menerima tamu, semua orang yang datang dan pergi patut dicurigai sedetail-detailnya.
San Francisco akhirnya membuka gagang pintu setelah pasporku mendapat stempel kedatangan. Kini aku berada di ruang pengambilan bagasi, menunggu koper. Sempat canggung juga mulanya, ini adalah kali pertama aku bepergian menggunakan koper. Aku pernah ke Lampung selama dua bulan hanya dengan memanggul ransel sebesar 30 liter. Ransel yang sama juga kupakai saat menyusuri Lombok sebulan penuh, ditambah perjalanan singkat ke Sumbawa dan pulau Komodo selama 15 hari. Backpack paling besar yang pernah kugendong adalah carrier seukuran 60 liter saat membelah negara-negara Indochina sekali jalan selama 20 hari.

Berkemas tentu bukan pengalaman pertama, tapi dengan koper, semua terasa berbeda. Ada baju yang minta dilipat, ada kabel yang harus digulung, ada laptop yang perlu diamankan, dan tekniknya tentu tak sama ketika menggunakan tas punggung. Namun kemudian anomali itu kupikir tidak terlalu buruk, koper maupun tas punggung sebenarnya mirip, hanya cara membawanya saja yang berbeda. Sayang, kita terlalu cepat memberi label, lalu menciptakan hirarki dengan mengkotak-kotakkan mana turis dan mana backpacker dari jenis tas yang mereka gunakan.

Aku keluar dari bandara tanpa ada penggeledahan barang-barang bawaan, kontras sekali dengan suasana di ruang imigrasi tadi. Di luar hari sudah gelap, matahari telah dimatikan, dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Angin malam sedang main gila, udara kering itu mencumbui setiap jengkal kulit, membuat tubuhku tak henti bergetar-getar dan hidung perih berair. Pusat kota masih setengah jam lagi berkendara, kuputuskan untuk memesan mobil sebelum pilek dadakan ini bertambah parah. Aku telah melewati perjalanan panjang begitu rupa dengan banyak soal-soal baru hendak dilihat, dan tak mau hal itu diganggu hanya oleh udara beku.
Sepuluh menit menunggu, aku dijemput oleh seorang laki-laki berbadan tambun yang tak cocok jika dibandingkan dengan ukuran mobilnya. Mobil itu terlalu kecil, bisa kupastikan ia tentu kesulitan saat masuk ataupun keluar dari ruang kemudi. Namun, di balik badan besar itu, ia adalah sopir yang jenaka, selama perjalanan tak habis-habis aku dibuat tertawa oleh kelakarnya.

Aku tidak ingat lagi detail-detail percakapan dengan si sopir. Selain logat Afro-Amerika, hal lain yang kuingat adalah ekspresi betapa terkejutnya dia saat mengetahui negeri asalku. Ia begitu berapi-api menceritakan bahwa istrinya juga berasal dari Indonesia dan baru mengetahui hal itu justru bertahun-tahun setelah menikah. Sebelumnya ia menganggap istrinya berasal dari Tiongkok atau suatu tempat di Cina Daratan. Sampai sekarang ia pun masih tidak bisa membedakan mana orang Korea, mana Jepang, atau Taiwan. Baginya wajah Asia sama saja, aku dibuat terkekeh mendengar pengakuan ganjil itu.

Di sela percakapan, lagu pop lamat-lamat mengalun dari radio mengisi jeda di antara keheningan kami. Saat itu terjadi, si sopir akan kembali memacu kendaraan, menyelinap di sela mobil-mobil lain yang berjalan lambat. Saat itu terjadi, aku akan diam, duduk tenang-tenang memperhatikan gemerlap lampu kota malam hari. Banyak hal yang terlintas di kepalaku, ada yang sepele, ada yang rumit, ia memang sering kali berkelana lebih jauh dari seharusnya.
Tak terasa setengah jam menguap. Aku sampai di pusat kota setelah melewati jalanan naik turun. Rumah-rumah menyembul dari tanah yang berbeda kontur, apartemen menjulang dengan tangga besi yang menggantung di samping, gang-gang gelap, tembok penuh graffiti, pria hitam berkerumun melantunkan lagu hip-hop. Semua terasa sureal dan aku bagai dihantam deja vu, suasana kota persis seperti adegan yang pernah kutonton pada film-film semasa kecil.

Sebelumnya aku membayangkan San Fransisco akan dipenuhi oleh orang-orang berkemeja licin, celana bahan, sepatu mengkilap, dan rambut yang klimis. Kutemukan diriku keliru, San Fransisco bukanlah New York yang sombong dengan gedung-gedung menjura langit, tidak ada kemeja licin, tidak ada jas tergantung pada lengan, tidak ada celana bahan atau sepatu mengkilat, tidak ada taksi kuning yang menikmati kemacetan sambil merayap memenuhi jalan, tidak ada gegas, tidak ada yang berlari.

Malam di San Fransisco adalah rumah bagi para gelandangan, pemabuk, dan pengedar narkotik. Adalah waktu bagi para pecandu menyuntik di jalanan, di emperan toko, dan di manapun tempat yang mereka sukai. Aku berjalan melintasi bar-bar berlampu temaram dengan perasaan gamang sekaligus penasaran. Selama perjalanan tak sekali dua kudengar bisikan “Man, you want some weeds?” atau sekadar kode dengan kata “weeds” diulang-ulang seperti gema. Ganja memang belum legal di kota ini, tapi mendapatkannya semudah mencari kemasan air mineral di dalam supermarket.

Malam di kota ini juga adalah perjuangan hidup bagi para pelacur, atau pekerja seks, atau apapun kata yang mungkin disebut untuk wanita yang menjajakan selangkangan. Di negeriku sana nasib mereka pasti telah dianggap sebagai wabah yang harus dibasmi. Tapi di sini mereka mendapatkan kebebasan dan tidak ada yang salah dengan itu. Lagipula siapa kita hingga bisa menghakimi orang lain dengan siar kebencian. Hidup adalah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan, hanya saja mereka mengorbankan tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut untuk bisa menyambung napas. Aku tidak sedang bicara tentang norma, melainkan bagaimana seharusya manusia lain dilihat.
Keesokan paginya, San Francisco adalah sebuah kejutan besar. Saat fajar tiba, kota pelabuhan ini menjelma menjadi apa yang disebut dengan hiruk pikuk turisme, simpang dunia. Orang-orang telah lupa bahwa seratus tahun yang lalu, kota yang terletak di jalur pengunungan aktif ini pernah menjadi tumpukan puing berjelaga karena gempa bumi dan api yang menyala-nyala. Kini San Francisco telah hidup kembali persis seperti burung phoenix yang bangkit dari abu.

Betapa kota renta ini begitu cepat berbenah. Aku ingat saat pagi duduk-duduk di depan megahnya Golden Gate Bridge sambil melihat pulau Alcatraz dari kejauhan. Aku terkesima melihat para pejalan dari segala tempat berlabuh, berbaur, dan berbicara dengan rupa-rupa bahasa. Aku tak habis pikir bagaimana Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa lahir di kota ini, dan perusahaan-perusahaan berkelas dunia memilih San Francisco sebagai rumah, Levi Strauss, Pinterest, Twitter, Uber, dan Mozilla adalah beberapa di antaranya.
Bersama dengan kontrasnya siang dan malam, gelap dan terang, San Francisco tetaplah San Francisco. Kota yang kompleks, yang ingin didengar dan dilihat dengan apa adanya. Bukankah begitu seharusnya sebuah kota dinikmati?

27 thoughts on “Tiba di San Francisco”

  1. Akhirnya…. — setelah menanti updatean cerita tentang San Fransisco.

    Membaca tulisan ini… seraya memperhatikan foto juga, tiba-tiba pikiranku melayang ke beberapa adegan film amerika yg mengambil latar San Fransisco.

    Perjalanan menyenangkan, bang. Di tunggu kejutan di cerita selanjutnya bang 🙂

    1. hehehe, akhirnya terbit juga 😛
      iya, sama, aku juga waktu pertama ke sana nginget2 lagi film apa ya yang sempat punya latar belakang San Francisco
      ingetnya malah spiderman, tapi khan spiderman di New York 😀

  2. Nah aku baru tahu ternyata dari Sumatra ya mas. Kirain dari Jawa 🙂

    Ini kota yang banyak dijadikan tempat lokasi film. Saat lihat fotonya aku sambil mengingat-ingat, di film apakah sebelumnya aku lihat 🙂

    Ditunggu cerita lainnya.

    1. iya nih bang, lumayan banyak kerjaan, baru sempat update sekarang, hehe
      enggak, gak sendirian kok, sama temenku
      pas keluar bandara langsung kaya nyasar ke negara antah barantah

  3. Wah, pas banget dapat sopir yang punya istri orang Indonesia. Tuhan sudah merancang perjalananmu dengan apik 😀

    Setuju, kita tak seharusnya memandang hina orang lain dan menganggap diri lebih soleh atau kudus. Karena semua orang berdosa, dan dosa (apapun itu) bobotnya sama, according to my belief.

    1. Iya Nug, kebetulan, dianya baru ngaku akhir-akhir pas udah mau sampai 😀
      katanya sih malu juga, udah nikah bertahun-tahun baru tau kalo istrinya orang Indonesia
      lah bagaimana bisa 😛

    1. Rasanya? macem-macem, ahaha
      kadang bahagia, kadang miris kenapa Indonesia ga bisa setertib mereka, kdang bersyukur, kadang iri juga
      tapi yah, emang begitu khan tabiat manusia

  4. Itu, Golden Gate Bridge pas lagi mendung? Atau efek editan?
    Memang, kalau ingin buktikan suatu tempat perlu dikunjungi sendiri, ya, biar nggak hanya nebak-nebak dari film aja. 😀

    1. iya Tom, pagi itu emang agak mendung sih, tapi siangnya udah terang lagi
      hahaha, mungkin bukan nebak-nebak, tapi jadi ada gambaran garis besar kotanya kaya gimana 😀

  5. suka dengan caramu bertutur kak.. bikin kangen teramat sangat dengan SF. Sayangnya bagiku SF adalah warna kelabu karena disitu tersemat kisah kasih yang tak berjalan mulus #curhat

Leave a Reply

%d bloggers like this: