Tulisan ini MENJADI PEMENANG dalamย kompetisi Awal Mula oleh Travellin dan Travellers.web.id

Kepulan kopi panas mulai bercampur dengan asap tembakau dari rokok kretek yang setia menyala-nyala disampingku. Aku masih terpatung di depan laptop mengutuki isi kepala sendiri, berusaha menulis sebuah cerita tentang awal-mula. Entah akan kumulai darimana, aku bukanlah orang yang cakap menuntaskan aksara sekata demi sekata.

Kuingat lagi saat pertama kali melakukan perjalanan, yaitu ketika merantau dari tanah Sumatera untuk berkuliah di salah satu sudut Pulau Jawa. Perjalanan ini bagiku adalah sebuah bentuk pelarian. Tak ada yang melepas selain isak tangis ibuku. Aku lari dari segala jenis lelah karena dipaksa tunduk oleh kekerasan lelaki yang enggan kusebut ayah. Benar, aku dibesarkan oleh memar cambuk dan luka baku hantam.

Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang bengis. Aku diajarkan memupuk benci sedari dini, hingga akhirnya terbiasa dan bisa menertawakan luka milik sendiri. Jauh dari orang tua, aku menemukan kemerdekaan. Dalam pelarian, aku belajar tersenyum menghadapi apapun, belajar bagaimana cara tetap berjalan dengan kepala tegak walau masa lalu sekelam malam. Seperti hidup, begitu jugalah perjalanan. Sebuah jalinan tak henti, saling susul. Sebuah awal merupakan mula dari awalan yang lain.

Aku masih ingat betapa perjalanan lain lahir dari sebuah isak tangis kota Padang di penghujung 2009. Ranah minangkabau diguncang gempa berkekuatan 7,6 skala richter, menewaskan ribuan orang, meluluh lantakkan ratusan ribu bangunan. Aku menjadi salah satu relawan bencana, meninggalkan segala yang kucintai untuk sejenak saja mengabdi pada negeri. Namun kukira tuhan lupa mencatat niat baikku. Aku yang mencoba membantu sesama, berusaha berguna bagi manusia lainnya, namun harus pulang hanya untuk menyadari bahwa ternyata kekasihku telah berselingkuh dengan karibku sendiri.
mobilPerjalanan yang akhirnya kusesali ini menjadikanku manusia dengan dendam sekeras batu. Aku belajar memar lain, bahwa perih yang paling pedih bukanlah luka badan, melainkan perasaan. Cinta bagiku adalah remeh temeh yang diciptakan untuk melenakan rasa sakit manusia. Untuk menggadaikan sementaranya senyuman kepada abadinya ditinggalkan dan ditanggalkan. Hidup memang ternyata tak pernah mudah dan tertebak. Tuhan tidak sedang duduk dengan tangan menggenggam dadu yang semua sisinya bertuliskan takdir.

Pernah perjalanan lain kuawali dari sebuah bentuk ketidakterimaan, sebuah manifestasi dari ketidakpuasan karena menyadari bahwa selalu ada pengasingan manusia dinegeri yang katanya kaya. Bermula dari kemirisan melihat keluarga kecil yang tinggal dalam rumah kardus di kotaku. Para bocah meraung lapar, si ibu resah menanak batu. Aku bepergian ke kota besar dengan gedung gedung yang juga besar, Surabaya, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Namun hanya untuk menyerah dan mengakui bahwa proletar selalu menemukan rumah dimana-mana. Selain Nietsche, merekalah pembunuh tuhan sebenar-benarnya. Sebuah kemiskinan akut yang disebabkan oleh korporasi yang carut marut. Mereka menjadi saksi bawha nama baik tuhan hanyalah sebuah panggilan, bukanlah jabatan.
2Aku bisa saja menuliskan cerita yang lebih indah dengan segala lengkung garis pelangi ataupun tebaran bintang di langit Ranu Kumbolo. Aku berkuasa atas apa yang ingin dan akan aku tulis. Namun sahabat, dunia bukanlah histeria pasar malam yang sempurna. Disetiap perjalanan yang baik-baik saja, jika kita mau sedikit memahami, melihat kehidupan secara lebih dekat, membaur dengan sesama lebih lekat dan merasakan atmosfir kehidupan apa adanya, kita akan menemukan wajah-wajah yang nyata, sebuah realita yang sebenarnya. Inilah kebenaran, sebuah kata yang sebagian orang takut mengatakannya, sebagian lagi takut mendengarnya.

Aku kembali salah jika mengira daerah kecil di tempat terpencil akan menemukan kebahagiannya sendiri. Seperti kisahku saat mengunjungi pulau Natuna di perbatasan utara Indonesia. Dibalik merahnya pemakaman senja terdapat raut muka lelah namun penuh harap orang-orang yang bekerja seharian, dengan mata yang percaya bahwa besok bisa lebih baik. Ritme dan energi terbentang di senyum tegar, bulir peluh dan pijar kulit legam, yang mungkin sekali tak pernah terlihat didiri manusia-manusia yang hidup serba berkecukupan. Oleh manusia yang bosan, walaupun hidup sudah berkelimpahan uang.
strive for familiesPerjalanan hendaknya tidak berasal dari sebuah tujuan menikmati eloknyaย  destinasi. Dia berawal dari sebuah niat yang dibawa oleh sang pejalan. Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan dilakukan untuk lari dari rutinitas dan lepas dari hiruk pikuk kemonotonan. Bagi sebagian lainnya, adalah sebuah bentuk eksplorasi mengenal diri sendiri. Namun yang lebih penting, perjalanan seharusnya berangkat dari sebuah empati untuk dunia yang makin tak peduli. Jika saat itu tiba, maka kita akan lupa, asing, bahkan pada diri sendiri. Bukankah dalam keterasingan baru kita bisa berbicara jujur, tentang apa yang bisa dan telah kita perbuat?

Awal-mula menentukan seperti apa bentuk perjalananmu kelak. Tak perlu kusebut, engkaupun pasti paham benar bahwa masih banyak orang diluar sana yang melakukan perjalanan hanya sekedar untuk melepaskan hasrat penasaran, memuaskan rasa keingintahuan. Menemukan tempat tersembunyi, berburu destinasi perawan nan jarang wisatawan. Manusia memang makhluk kecil yang ingin menaklukkan segala. Tidakkah mereka sadar sepenuhnya bahwa perjalanan bukanlah tindakan untuk menjauhi sesuatu, melainkan untuk mendekati sesuatu.

Kuhisap rokok perlahan, menyembulkan asap putih ke udara. Seratus lima belas menit sudah kuhabiskan dengan diam. Ini kopi gelas ketiga, namun belum juga satupun kisah yang kupilih untuk dituliskan. Aahhh… awal mula adalah segala bentuk alasan yang dibenar-benarkan dan ditulisakan dengan segala pengertian yang kompleks. Padahal sesederhana kata Plato, bahwasanya semua hanya berasal dari sebuah ide. Jika kamu tidak pergi, bagaimana kamu akan tahu jalan pulang?

Artikel ini diikutkan dalam kompetisi Awal Mula
banner lomba

26 thoughts on “Kegelisahan Yang Lain”

Leave a Reply

%d bloggers like this: