30 september 2009, ranah minangkabau diguncang gempa berkekuatan 7,6 skala richter. Gempa yang berpusat di 57 km dari pariaman ini telah menghancurkan infrastruktur komunikasi dan aliran listrik sehingga Padang menjadi gelap gulita.
Gempa juga menewaskan 1.117orang dan meluluhlantakkan 200.000 unit rumah pendduduk. Di Pariaman tiga desa tenggelam dimakan tanah, menjadikan lokasi ini kuburan massal. Bahkan mayat tak ditemukan walaupun berhari hari sudah digali dengan buldozer. Mereka lenyap tanpa bekas.

mayat

Entah kenapa semalam aku bermimpi tentang kejadian di tanah kelahiranku ini. Membuka lagi kenangan lama yang yang sempat terendap di memori. Pagi ini aku mencoba untuk mengumpulkan lagi beberapa serpihan kisah ketika ikut menjadi tim sukarelawan. Seminggu setelah gempa aku sampai di Bungus (sebuah pelabuhan utama kota Padang) setelah diamuk badai Samudra Hindia selama tiga hari. Lautpun sedang tak berdamai dengan manusia kala itu. Sesampainya di Bungus, aku langsung menuju kantor gubernur Sumatera Barat yang terletak di Kota Padang. Pusat semua sukarelawan ditempatkan. Selama perjalanan kulihat banyak gedung yang telah hancur di guncang gempa. Miris.

les gama

masjid

Kantor gubernur dibanjiri manusia. Sukarelawan dari berbagai negara tumpah ruah. Tak kusangka bencana alam negeriku ini sampai menjadi pusat perhatian dunia kala itu. Para sukarelawan dibagi dalam dua tugas utama, yaitu evakuasi dan rehabilitasi. Waktu itu saya ditempatkan di Pariaman, lokasi yang mengalami dampak gempa paling besar. Di Pariaman para sukarelawan melakukan beberapa pekerjaan perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, pemulihan sosial psikologis, pemberian bantuan, perbaikan rumah masyarakat, pelayanan kesehatan, dan pemulihan fungsi pelayanan publik.

masjid lg

Sesampainya di Pariaman, keadaan sangat kacau. Banyak tempat yang bahkan tak kukenali lagi karena perubahan bentuk geografis bumi disebabkan longsur dimana-mana. Tak bisa kubayangkan kengerian pada saat itu, tanah merekah, membuka diri, menghisap apapun yang ada diatasnya, setelah kenyang mengganyakng korban, lalu menutup kembali, tak meninggalkan bekas. Bahkan jeritan korban lenyap nyaris tak terdengar tertutup gemuruh longsor.

longsor

buldoser

Saya tinggal di sebuah tenda darurat pusat semua kegiatan sukarelawan ditempatkan. Penanganan evakuasi korban masih berjalan disela-sela kegiatan rehabilitasi disebabkan masih banyaknya keluarga korban yang meminta mayat ditemukan. Ditengah hiruk pikuk kengerian pasca bencana, namun ketegaran masyarakat sangat terasa. Tak semua bencana dapat dengan mudah menghancurkan mental seseorang. Bahkan malah dapat menguatkan hidup mereka.

bapak

2 thoughts on “Mengenang Padang”

  1. Gak terasa kejadian itu ternyata sudah lama ya. Perasaanku gempa Padang belum lama terjadi. Soalnya ingat waktu itu papa masih sehat, dan berniat pulang ke Bukittinggi. Tapi urung berangkat karena gempa.

    Semoga itu adalah gempa besar terakhir yang terjadi di Sumbar.

    1. Iya kak, ga kerasa udah lama.
      sebenarnya itu tak akan jadi gempa yang terakhir, walaupun kita berkata semoga
      sepanjang garis pantai barat Sumatera itu jalur lempeng yang bakal terus bergerak
      gempa itu pasti
      tinggal kitanya aja kudu bisa belajar bagaimana mitigasi yang baik,
      biar kerusakan bisa diminimalisir

Leave a Reply

%d bloggers like this: