Sesampainya di pinggir dermaga, kedai kopi sederhana adalah tempat pertama kaki melangkah. Aku memesan segelas, kental dan panas. Ada sesuatu yang beda ketika menyicip kopinya pertama kali. Harumnya tinggal lama di liang hidung sewaktu gelegak air dituang ke dasar gelas. Rasanya yang tebal duduk nyaman di lidah sebelum turun pelan-pelan melewati kerongkongan. Pahitnya memenuhi rongga mulut, menempel tak mau lepas dari bintil saraf pengecap. As long as there was coffee in the world, how bad things could be?

Sembari mengecap kopi, pemilik warung menyapaku. Aku memiliki banyak sekali luang untuk menghidupi hari. Percakapan lain mengalir begitu saja menemani sengat matahari muda. Menderaikan pertanyaan, berantai-rantai keluar dari pikiran. Akibatnya, semakin riuh saja kepalaku. Dia bercerita tentang hidupnya dan hidup orang-orang lain di pulau ini.
subbiDisini, semua orang begitu mudah akrab dan tak pelit berbagi. Bukan cuma cerita dan nasib, tapi juga ruang. Dalam sebuah pulau terpencil di tengah lautan, semua hal tampak dipadatkan dan dirapatkan. Rumah, warung, masjid, dermaga, tempat pelelangan, sekolah, jembatan, jalan, juga manusia. Berbagi adalah sebuah keharusan yang telah membangun semua garis keakraban.

Darinya ku juga menyadari bahwa kita yang terbiasa hidup di kota besar, mungkin takkan pernah benar-benar merasa gelap. Ada baiknya sedikit memberanikan diri melihat kenyataan di pulau ini. Listrik hanya tersedia lima jam, tak lebih. Dimulai pada pukul enam sore, dan berakhir pukul sebelas malam. Selebihnya? Masyarakat harus puas dengan ketiadaan listrik dan terbiasa berkawan kelam. Kita yang telah menjadikan penerangan sebagai kebutuhan dasar yang lumrah dalam setiap aktifitas sehari-hari akhirnya lupa bahwa betapa ternyata hidup kita sangat bahagia dengan adanya segala.

Obrolan berlanjut, bermacam-macam topik bahasan. Kadang diselingi sedikit canda, diakhiri dengan tawa bersama, sangat khas diskusi warung kopi. Sejenak loncat ke politik “Hukuman yang pantas untuk korupsi di negeri ini adalah tali gantung boy”, sejenak lain pindah ke profesi “Kita orang laut, jangan paksa bertani, tak bisalah kita menanam”, atau obrolan tentang potensi pariwisata “Kita punya banyak harta, namun bingung mau dibuat apa”.

Benderang perlahan naik ke tengah putih lampu dunia. Aku pamit keluar dari warung dan melanjutkan berjalan kaki mengelilingi pulau, hanya sendiri dengan beberapa pikiran di kepala. Menggunakan sedikit jenak untuk melarikan diri ke arah inginku sendiri. Bukankah dengan penduduk bumi yang sudah mencapai tujuh milyar harusnya membuat kita sadar bahwa kesunyian adalah hadiah luar biasa. Dengan  sendiri pikiran kita dapat berkembang ke dalam, memikirkan lagi apa yang sudah mulai hilang.
bridgeDalam menyeret langkah, seketika sorotku terbujuk oleh tawa-tawa riang yang memadatkan perhatian. Beberapa anak duduk di tanah membangun benteng dari pasir, yang lain bermain dengan ranting patah dan kemuning daun. Dunia yang penuh kegembiraan imajinasi. Aku duduk pada kejauhan yang terdekat, mencuri sedikit riang dan menikmatinya. Tak sedikitpun gerak gerik mereka lepas dariku, tingkahnya yang begitu menyenangkan ikut menyumbang selengkung senyum di bibirku.

Tak banyak anak di perkotaan yang masih bisa hidup dengan ruang gerak bebas seperti ini. Para orang tua mereka secara tidak sadar menerapkan “geometri” pada anak-anak. Ia menjelma garis, bidang, sudut, dan berbagai benda dengan bentuk baku. Dimasukkan ke playgroup, taman kanak-kanak atau apapun itu namanya yang seringkali hanya menyisakan sedikit ruang untuk bisa bereksplorasi, berkreasi, mengubah, bereksperimen, membongkar dan membentuk sesuatu. Dalam ruang, bahkan yang untuk anak-anak sekalipun, seringkali anak-anak tidak diijinkan untuk menjadi anak-anak.

Sangat banyak peristiwa disekitar kita yang terlihat biasa-biasa saja ternyata memiliki berbagai makna. Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. Seringkali kita enggan untuk tahu, malas dengan remeh temeh tak tentu. Apakah ini karena kita sama-sama telah membatu? Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil?

Panas semakin terik, aku berteduh dibawah rindang pohon. Angin terasa berlarian di helai rambut ketika rebah tubuh serendah tanah. Ada waktu sekerat untuk menjauh dari lalu lalang penat. Aku menengadah, lama tak kurasakan udara sesejuk ini, pepohonan semakin lama semakin terlupakan. Sekedar wacana ringan, ayo kita bermain tebak-tebakan. Jika kutanyakan padamu tentang perbedaan bentuk daun dari pohon mangga dan pohon jambu? masihkah ada yang bisa menjawab?

Daun Jambu lebih lebar, teksturnya sedikit kasar, hijaunya muda. Sedangkan daun Mangga punya proporsi lebih panjang, dengan tepi yang bergelombang, permukaannya licin dan mengkilap, warnanya juga lebih gelap. Tinggal berapa dari kita yang masih tau tentang hal ini? Dahulu, pohon-pohon adalah hal yang kita kenal dekat. Mereka selalu menjadi teman bergelantungan, atau bahkan rela cabangnya dibuatkan rumah-rumahan. Kini tidak lagi, pohon menjadi semakin langka, bisakah kita melihat masalah dari pertanyaan sepele tadi?
subiiTak perlulah ku cerita tentang hijaunya subi, masyarakat sini masih akrab dengan geliat alam. Namun bagaimana dengan kota tempat kita hidup, masih adakah ruang terbuka hijau yang dapat dinikmati? Setidaknya untuk sedikit menyegarkan mata dari belantara beton yang tumbuh semakin riuh. Semua hijau lenyap karena pembangunan jalan layang atupun gedung yang tinggi menjulang. Dengan bertambahnya manusia penghuni, bertambah pula jumlah dan kompleksitas kebutuhan akan pemukiman serta segala macam sarana penunjangnya.

Jika kita sadar, sebenarnya 30 hektar lahan yang dipenuhi pepohonan dapat mengubah 111 ton CO2 menjadi 60 ton O2, menyaring kandungan debu di udara sebesar 9000 partikel/liter dan menurunkan suhu lingkungan kurang lebih 2,5° celcius. Pepohonan rindang adalah kanopi yang menahan radiasi panas matahari hingga tak mencapai tanah yang diteduhinya. Jika kita bekerja di lingkungan yang dipenuhi pohon, mungkin kita tak lagi memerlukan mesin pendingin.

Aaahh, semoga saja pohon tak pernah bergegas pergi sebelum kita mengerti bahwa kehadiran mereka sebenarnya sungguh berarti. Aku memejamkan mata, menikmati segala bincang dengan sendiri, lalu tertidur.
merdeka

Leave a Reply

%d bloggers like this: