Para manusia bersuka cita menyambut umur bumi yang semakin tua. Berjuta kembang sebentuk api menutupi langit malam, berhamburan meluaskan mimpi. Bagi mereka, perayaan bukan hanya sebuah euforia dalam ruang, tapi juga sebentuk tanda dalam waktu. Menghantarkan doa-doa menuju langit.

Bagiku, di penghujung tahun langit tak banyak berbeda, kecuali matahari yang semakin pucat tertutup kabut akhir Desember. “Engkaukah itu yang selalu berjanji menemukan jati diri?” Tanyaku pada diri sendiri. Aku semakin pandai memutar kesibukan dan menipu diri. Jauh sudah kaki melangkah menyesatkan hari mencari jalan pulang. Aku kembali mengingat, kudapatkan semacam daftar perjalanan yang telah berlalu:

Januari : Lampung, Sumatera Selatan
danau ranaulampunggFebruari : Jakarta, Batam, Natuna, Subi besar, Subi kecil
natunaaMaret : Ranu regulo, Madura, Bromo, Goa Cina
ranu regulopenek anApril : Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapore, Surabaya
sand dunes cambodiaMay : Malang
malangJuni : Lombok, Bali
malimbu pantai pinkJuly : Kawah Ijen, Sendang Biru
kawah ijen sendang biruAgustus : Pacitan, Klayar, Goa Gong
klayarSeptember : Bromo, Ranu Kumbolo
bromo ranu kumboloOktober : Pare, Kediri
minalNovember : Kondang Merak
goa cinaDesember : Kondang Merak
maneh

Dari jarum ke detak-detak hari, aku masih mencari malam sunyi. Perlahan tanah mulai basah oleh rintik-rintik kecil yang turun dari langit. Menaburkan mimpi tentang rumah para pejalan jauh. Entah ditetes yang mana kampung halaman memilih bersembunyi. Kalaย  waktu mulai berpaling semaunya, saling melamun di ribuan cuaca walau angin malam boleh gaduh seriuh riuhnya, aku menatap pergantian tahun dengan segenap mimpi lain. Kembali ke jalan, kembali berjalan, membuat rumah disetiap persinggahan. Hingga tak lagi sepi pernah merajam di nadi.

2014, selamat datang..

2 thoughts on “2014, Selamat Datang”

Leave a Reply

%d bloggers like this: