Bagi sebagian orang, liburan dimaknai dengan satuan kuantitas ruang dan waktu. Semakin lama, semakin banyak yang bisa dilihat. Bagi yang punya waktu sedikit, berusaha memampatkan jadwal. Mengambil paket liburan kilat, mendapat penjelasan sekadarnya dari tour guide, melihat-lihat sebentar, berfoto-foto, membeli buah tangan, lalu dengan sempritan dan bendera, dikumpulkan lagi untuk berangkat ke tujuan wisata berikutnya. Semakin banyak ruang dan semakin lama waktu, semakin bangga.

Bagi diriku yang mempunyai waktu serba tidak jelas (kadang bisa sangat sibuk dengan tidak melakukan apa-apa, kadang juga bisa sangat luang dengan juga tidak melakukan apa-apa) liburan lebih dimaknai dengan kedalaman kualitas penggunaannya. Berapapun waktu yang ada, entah itu sedikit maupun banyak, akan menimbulkan kesan mendalam selama dihabiskan dengan cara yang tepat. Garis pandang diubah dari sekadar melihat dan menikmati menjadi belajar dan memahami.

Seperti yang akan kuceritakan padamu, saat itu aku hanya memiliki waktu dua hari untuk menghadiri acara Grebek Suro. Sebuah ritual yang diadakan pada setiap awal bulan Muharram (Suro dalam penanggalan jawa) untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan laut pada masyarakat nelayan sekitar pesisir pantai Kondang Merak. Ada banyak nama yang diberikan untuk menyebut acara ini, kadang Petik Laut, kadang Larung Sesaji, namun intinya sama, bersyukur pada kemurahan hati yang kuasa.

Hari sudah hampir usai melewati garis tengah malam ketika aku dan Hamid berangkat. Kami membelah dingin dituntun oleh rasi Orion yang menengadah ke Kondang merak di pantai selatan. Perjalanan dimulai dari Malang yang bermandikan cahaya, diteruskan ke arah Kepanjen dan Sumbermanjing. Gradasi terang-gelap ruang kota sangat kentara. Di daerah suburban seperti ini penerangan berpindah dari lampu ke langit yang bersih berbintang.

Kami disambut ramah ketika sampai di Kondang Merak. Kontras dengan suasana dingin, mereka begitu hangat dengan pendatang. Malam dihabiskan dengan bertukar cerita ditemani kopi dan api unggun. Ketika gerimis mulai mengganggu percakapan, kami akhirnya memutuskan untuk memberikan sedikit lelap untuk tubuh. Berharap semoga esok langit cerah tanpa sedikitpun rintik hujan.
petik lautSaat rekah pagi menjelang, aku dibangunkan oleh anak cahaya yang mengecup kulit. Tanah masih basah, embun-embun pulang kepada tiada. Mata sebenarnya masih enggan untuk terbuka namun bubuk kopi telanjur terserak di dasar gelas. Ketika didih air menggenangi, asap wangi mengepul, membuatku terpaksa duduk dan berbenah. Kasihan, jangan biarkan mereka menjadi dingin karena menunggu. Ditambah dengan laut dan langit yang beradu biru di depanku, pagi dan segelas kopi menjadi begitu serasi, nikmatilah selagi hangat.
persiapanSemakin siang para nelayan semakin sibuk, beberapa menyiapkan sesaji, yang lain mendirikan tenda, dan mengatur musik tetabuhan. Aku membantu sebagian lain yang membuat umbul-umbul untuk dipasang di tiang kapal. Tamu banyak berdatangan, orang-orang semakin ramai, sendiri atau berdua. Ada yang menggendong bayi, ada yang menggandeng kekasih. Semua bersiap menggelar ataupun menikmati acara yang dilakukan hanya sekali dalam setahun ini.

Tengah hari datang ketika matahari menggantung di pucuk langit. Waktunya memulai acara. Ritual diawali dengan bunyi Gamelan yang terkesan mistis, lalu Gendang ditabuh bertalu talu, Bonang berbunyi ngilu. Setelah itu para penari Jaran Kepang yang entah kesetanan entah kesurupan datang. Mereka berputar, tidur, berlari dan menari dengan irama dinamis naik turun. Kemudian acara dilanjut oleh nyanyian sinden, lalu tarian lagi, sinden lagi dan doa penutup.
jaranangendangSaat sepuh nelayan memimpin doa, semua kepala tunduk mengamini. Suasana mendadak lengang dari suara. Mereka khidmad hanyut dalam lantunan puji berbahasa Jawa. Begitu usai, sesaji yang telah siap diarak menuju perahu. Semua bergegas, berlari, dan berebut untuk menaiki perahu yang akan mengangkut sesajian ke tengah laut. Acaranya memang sederhana, perahunya juga cuma dua, namun semangat mereka meluap sampai ke angkasa. Perahu didorong dari pesisir, mesin dihidupkan, menderu-deru siap membelah ombak.
melaut grebek suroo larung sesajiIring-iringan perahu berakhir di sebuah titik berair tenang, yang nyaris tak beriak. Bayangan awan bergumpal terpantul di permukaan air yang seperti cermin. Kedua perahu berhenti sejenak. Dipimpin seorang sepuh nelayan, doa kembali dipanjatkan dan sesaji pelan-pelan diturunkan. “Mugo-mugo kabeh nelayan slamet sak teruse“. Teriakan syukur dan pengharapan menggema begitu sesaji jatuh dan hanyut dibelai laut.

Tak ada perebutan, semua sesajian ikhlas diberikan pada laut. Sepintas tak ada yang istimewa, namun jika kita bisa sedikit merenung, sangat banyak nilai-nilai luhur tersirat dalam ritual ini. Dimulai dari nilai kebersamaan dan pengekalan sifat kekeluargaan yang jelas tertanam. Gotong royong dan saling membantu antar sesama nelayan dalam menyelenggarakan acara ini membuktikan bahwa manusia masihlah berupa makhluk sosial. Betapa sebuah sikap kerendahan hati dalam meminta keselamatan masih berpadu dengan kerasnya hidup di lautan.
kondang merakgrebek suro Grebek suro juga mengajarkan kita untuk bisa bersyukur atas apa yang telah diberikan alam pada manusia. Sedikit persembahan pantas diberikan untuk laut yang selama ini telah menjadi ladang penghidupan. Semua nelayan meyakini bahwa dengan pendekatan persuasif kepada alam, alam juga akan memberikan balasan.

6 thoughts on “Memetik Laut Kondang Merak”

Leave a Reply

%d bloggers like this: