Travel writing adalah menceritakan pengalaman pribadi penulis yang dapat membawa pembaca dan memberikan mereka pemahaman yang lebih luas tentang makna berjalan dan melakukan perpindahan. Travel writer tak bisa hanya sekedar menuliskan informasi, tak ada yang istimewa dengan itu, lebih jauh lagi, seorang travel writer harus bisa terkoneksi dengan para pembacanya.

Ketika semua orang semakin gampang bepergian, tuntutan untuk para travel writer juga semakin tinggi. Mereka tak hanya harus belajar dari pengalamannya selama di jalan, namun juga harus bisa membagikannya kepada orang lain. Setiap orang dapat bercerita, lebih mudah lagi jika hanya mendengar dan membacanya. Namun bagaimanakah cara bercerita atau membuat tulisan yang bagus dan menarik tentang perjalanan?

Berikut beberapa tips yang mungkin dapat membantu para pejalan menuliskan pengalamannya. Silahkan disimak, dari thelostraveler, untuk semua:

1. Eksotisme sudah tak lagi laku.
Kita sudah tak hidup di zaman Marco polo dan Christopher Columbus dimana dunia luar serba asing dan eksotik. Perkembangan travel writing belakangan ini sudah tak lagi sekedar menjual keindahan, namun lebih berkembang ke masalah sudut pandang. Para pembaca membutuhkan sesuatu yang berbeda, bukan hanya sekedar “pamer” lokasi dengan beragam spesifikasi indahnya destinasi. Belajarlah menggali makna yang lebih dalam, unsur-unsur kebudayaan, kearifan masyarakat adat, kehidupan sosial, perekonomian sekitar, bahasa daerah, dan sejarah lokal bisa menjadi alternatif pembahasan.

2. Carilah objek random yang menarik.
Ketika melakukan perjalanan, selalu perhatikan sekeliling, belajarlah melihat hal-hal yang luar biasa pada hal-hal yang biasa. Mencari objek random untuk dibahas dapat membuat cerita tak tertebak. Saat para pejalan hanya sanggup mengulas eksotisme danau Ranu Kumbolo di Semeru, luaskan pandanganmu. Sampah, plakat kematian yang bertebaran, kabut yang datang tiap pagi dan sore hari, kehidupan para porter adalah beberapa hal yang bisa dibahas lebih jauh. Ini akan membuat ceritamu berbeda.

3. Deskripsikan cerita dengan memasukkan semua unsur panca indra.
Syarat paling mendasar bagi travel writer yang baik adalah mampu membuat pembaca ikut merasakan apa yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, dan disentuh oleh ke lima panca indra. Suguhkan tulisan yang dapat memberikan ransangan pada semua indra pembaca untuk ikut terlibat. Visualisasikan tempat dengan akurat, beri detail pada aroma yang tercium di lokasi, suarakan bebunyian, gambarkan rasa saat mengecap, dan jelaskan tekstur kasar-lembut pada beberapa kontur. Selanjutnya, biarkan imajinasi mereka yang bekerja.

4. Hidupkan cerita dengan dialog.
Menyisipkan beberapa dialog pada artikel perjalanan adalah salah satu cara dalam menghidupkan cerita. Pembaca akan dibawa untuk ikut terlibat dalam pembicaraan yang dilakukan si penulis dengan narasumber, entah siapapun itu. Koneksi yang terjalin antara penulis dan pembaca adalah level tertinggi dalam menyampaikan cerita.

5. Hindari pemilihan kata mainstream.
Tentu kita pernah membaca artikel perjalanan yang banyak menggunakan frasa “indah, surga, eksotis, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata”. Kemonotonan kalimat membuat pembaca tak lagi terpikat. Suguhkan beberapa kata yang baru dan asing didengar agar memberikan pembaca rasa penasaran. Perbanyak kosa kata, variasi kata mencegah kejenuhan.

6. Semua pembaca tertarik dengan rahasia, jadikan pemantik cerita.
Setiap destinasi pasti memiliki rahasia-rahasia kecil. Manusia cendrung menyukai sebuah cerita jika itu bertentangan dengan norma dan hukum yang berlaku. Sebut saja “legalitas” ganja di Gili Trawangan, pengeboman ikan di sekitar perairan Komodo, dan pemakaian kompresor dalam penyelaman di Kondang Merak. Penulis berhak memaparkan kontradiksi yang terjadi di lapangan. Biarkan pembaca menganalisa mana yang benar dan mana yang salah

7. Sisipkan beberapa nasehat.
Hujan dapat menjadi hujan yang biasa bagi sebagian orang, namun bisa jadi sebuah pelajaran dan nasehat berguna bagi orang lain. “Meskipun jatuh dari tempat setinggi itu, hujan akan bangkit dan kembali lagi ke langit”. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik hanya dari sebuah kata “Hujan”. Berikan nasehat-nasehat tersembunyi kepada pembaca. Yang baik mengajarkan hal-hal yang harus dilakukan, yang jahat menunjukkan yang harus dihindari. Semuanya pengalaman bisa menjadi pelajaran.

8. Jangan mendikte pembaca, biarkan mereka tahu sendiri.
Setiap orang mempunyai imajinasi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ini adalah tiket pesawat paling murah bagi petualang. Dalam mengungkapkan cerita, jangan pernah mendikte pembaca, cukup berikan rambu-rambu dan biarkan mereka tahu sendiri. Penulis tak harus menyebut kata “Susah”, cukup deskripsikan hal-hal yang mendukung, biarkan pembaca yang merekonstruksi cerita hingga mereka tak hanya mengerti, namun lebih dari itu, yaitu paham. Remember, show them, don’t tell.

9. Membuat catatan kecil.
Biasakan membawa dan mencatat hal-hal menarik selama perjalanan. Membuat catatan bisa sangat membantu waktu menulis dalam mengingat hal kecil. Kelihatan remeh, namun ini yang biasanya terlewatkan oleh kebanyakan pejalan. Walaupun bukan seorang penulis, namun percayalah, ini merupakan hal yang cukup penting. Kita takkan pernah tahu apa manfaat coretan sederhana itu diwaktu mendatang. Mungkin bisa membantumu mengingat lagi jika ada temanmu yang bertanya tentang referensi wisata yang telah kamu kunjungi, who knows?

10. Dokumentasi yang bagus, menambah nilai jual.
Fotografi perjalanan adalah cara berkomunikasi secara visual. Sebuah foto dapat menggambarkan lebih banyak dari seribu kata. Karena itulah dokumentasi yang apik dapat membuat cerita lebih menarik. Tak perlu bergadget canggih, tak perlu berkamera mahal, sebuah dokumentasi yang bagus berasal dari “Man Behind The Gun”. Belajarlah teknik fotografi dasar. Exposure triangle (Aperture, Shutter speed dan ISO), Komposisi (Point of Interest, Background-Foreground, Angle) adalah beberapa dasar yang dapat dipelajari untuk menghasilkan foto yang bagus.

11. Setelah melakukan perjalanan, endapkan dulu.
Saat atau sepulang dari sebuah perjalanan, jangan langsung menulis. Berikan beberapa jarak untuk mengendapkan rasa. Jika kita masih berada di lokasi atau tak memberikan waktu yang cukup, emosi penulis akan cendrung mempengaruhi jalan cerita yang ditulis. Artikel yang baik adalah sebuah informasi yang diberikan secara objektif tanpa memasukkan unsur subjektif dari penulis.

12. Ceritalah dengan alur yang berbeda.
Alur adalah salah satu unsur terpenting dalam sebuah cerita. Alur inilah yang nantinya dapat membantu penulis dalam mengatur struktur, urutan kejadian, plot dan konflik yang berlangsung. Alur cerita perjalanan kebanyakan adalah alur maju, yaitu persiapan, berangkat dan pulang. Sebuah alur yang telah sangat biasa dan membosankan. Coba sesekali mengeksplor alur berbeda, alur mundur dan alur campuran bisa menjadi beberapa alternatif.

13. Subjek tak harus “Aku”
Lebih jauh lagi, akan sangat menarik jika bercerita dengan sudut pandang subjek yang berbeda, jangan selalu memakai cerita dari sudut orang pertama tunggal atau jamak. Berperan sebagai orang lain dalam menceritakan sesuatu akan memberikan warna berbeda. Perspektif itu penting, jangan terperangkap dengan hal yang sudah biasa, berfikirlah secara lateral, berfikirlah out of the box.

14. Ciptakan karakter sendiri.
Sebagian orang menulis untuk memperlihatkan diri mereka kepada dunia, sebagian lagi untuk memperlihatkan dunia dalam diri mereka. Ada yang menulis dengan kalimat jenaka, sebagian lain menggunakan bahasa yang puitis, berat, berfilsafat. Banyak cara dan gaya untuk bercerita. Cari dan temukan identitas tulisanmu sendiri, ini yang membuat karyamu berbeda. Jika karakter yang kamu ciptakan telah melekat kuat, para pembaca akan bisa langsung mengenali karyamu tanpa harus mencantumkan nama penulis.

15. Banyak jalan, banyak baca, banyak nulis.
Perbanyak perjalanan, pengalaman adalah hal yang membedakan antara satu penulis dengan yang lainnya. Isi kepala dengan sesuatu yang baru, perbanyak bahan bacaan. Dengan luasnya wawasan, cerita bisa menjadi lebih menarik dan bervariasi. Memasukkan unsur-unsur ilmu astronomi dan perbintangan ketika berbicara navigasi gunung tentu akan mempunyai nilai lebih dari cuma sekedar curhat tentang capek dan susahnya medan ketika mendaki.
Yang terakhir dan yang paling penting adalah terus berusaha. Perbanyak menulis, janganlah membunuh waktu dengan menunggu inspirasi, mulailah menulis dan inspirasi akan datang dengan sendirinya.

48 thoughts on “Learn To Travel, Travel To Learn”

  1. kak, aku suka banget tulisanmu inii…
    sama-sama belajar, harus banget ini dishare supaya bisa dapat lebih banyak sudut pandang yang kaya.
    btw, logo TBI-mu kok cantik sendiri…

    1. welcome kak indri, hehe, kunjungan perdana yah?
      makasiii, masih terus belajar nulis juga
      mampir2 di tulisanku yang lain juga kak :p
      eeh.. iya nih, logonya beda sendiri, gpp khan ya?

  2. wahh, keren banget tulisan.a mas, inspiratif, motivatif, gairatif, pokok.a +++++++++++++++ deh buat mas,,
    salam kenal dan isin share mas, mudah2han aku ketularan,
    hehehe..

  3. lha ini yang kadang masih susah, kebanyakan tulisanku juga cuma semacam catatan perjalanan jadinya.
    pas mau ngebahas hal lain yang ada di situ kayak di poin 2, eh ternyata foto2nya kurang atau malah nggak ada foto sama sekali 🙁

Leave a Reply

%d bloggers like this: