Sepanjang hidup, ini adalah tulisan yang paling kutakuti. Bagaimana jika aku harus berpisah dengan Ibu? Sampai kemudian, waktu itu tiba jua.

17 July 2022, pukul 21.26
Aku masih di kantor waktu adikku menelepon, “Bang, Mama pingsan, sekarang di rumah sakit.”

Belum sempat kujawab kabar tersebut, dia sudah memburuku dengan pertanyaan, “pulang kita, Bang?”

Ibu memiliki tiga anak, dan selepas SMA, semuanya merantau ke tanah Jawa untuk berkuliah. Kini aku di Jakarta, adikku yang kedua berada di Banten, sedangkan yang terakhir di Yogyakarta. Dipisah ratusan kilometer menjadikan komunikasi kami hanya mungkin dilakukan lewat telepon.

Aku masih mencerna apa yang terjadi, “jangan panik dulu, gimana ceritanya?” Aku mencoba menggali informasi.

Setelah menceritakan kronologisnya, aku menenangkan adikku. “Jangan terburu-buru, kita lihat keadaan malam ini, jika makin buruk, besok kita pulang. Tapi buat sementara, doakan yang terbaik buat Mama.” Aku tahu adekku mengangguk di seberang sana. Sambil sesenggukan ia pamit untuk menjalankan shalat dan berdoa.

3 Bulan sebelum malam itu, ibuku divonis mengalami gagal ginjal akut dan diharuskan cuci darah sekali seminggu oleh dokter. Semenjak itu Ibu menjadi semakin sering letih, ia mengeluh bahwa badannya tidak sesehat dulu, kondisinya menurun drastis. Ia juga seperti anak kecil, semakin sering merengek dan meminta perhatian. Pernah suatu kali Ibu meneleponku di saat jam kerja, hal yang tak pernah dilakukannya jika bukan dalam keadaan genting. Dengan suara getir ia hanya ingin bilang ia rindu.

Sebulan setelah Ibu rutin menjalani terapi cuci darah, aku pulang ke Padang. Ada pemandangan yang berbeda dengan kepulangan-kepulangan sebelumnya. Badan Ibu menjadi lebih ringkih, dan setengah dari kepulanganku itu dipenuhi dengan rumah sakit, menunggui Ibu opname dan Hemodialisis. Sejujurnya aku benci rumah sakit, di sana tidak ada kebahagiaan, hanya ada harapan, yang entah akan dikabulkan atau tidak. Tapi aku setia menemaninya sepenuh-penuh waktu.

Tak tega rasanya melihat jarum menusuk nadi Ibu yang sudah lunak, menyedot darahnya ke luar melalui selang steril, dimasukkan ke dalam mesin filterisasi, racun-racun dibilas, hingga kemudian darah tersebut dipompakan kembali ke dalam tubuh. Membayangkannya saja aku ngilu. Ingin rasanya kutukar satu ginjalku agar Ibu baik-baik saja, tapi prosesnya tentu tak semudah itu. Puluhan teman dokter yang kukenal juga menyatakan bahwa cangkok ginjal, tidak sesederhana yang kubayangkan.

Ingin sekali kutampik pikiran-pikiran negatif dalam kepalaku. Namun bagi orang yang terbiasa dengan segala kemungkinan, aku tahu Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Anggap aku gila, tapi dengan cara seperti ini aku menyiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk. Aku adalah orang paling realistis, sejak dulu kepalaku mahfum bahwa konsekuensi dari hidup adalah kematian.

3 minggu lamanya aku menemani Ibu di Padang. Saat akan kembali ke Jakarta, Ibu memaksa untuk ikut mengantarku ke bandara. Ia juga memintaku foto bersama, sedikit ganjil karena kami bukan keluarga yang gemar bergaya di depan kamera. “Buat kenang-kenangan” ucapnya sambil mengelap air mata perpisahan.

Ponselku tiba-tiba berdering, sebuah panggilan membuyarkan lamunanku. Di layar bukan nama adikku yang tertulis, gantian Bapak yang menelepon.

“Halo, Pa.”

“Halo,” di ujung sambungan, suara bapak bergetar. “Nak, yang sabar ya, Mama sudah tidak ada.” Ia kemudian tidak bisa membendung tangisan, itu pertama kalinya dalam hidup aku mendengar bapak menangis. Ia yang selama ini memiliki hati sekeras cadas, sekarang menunjukkan bahwa di satu titik, kita semua boleh menjadi rapuh juga.

Dengkulku lemas, pikiranku kosong, rasanya saat itu ingin sekali kubenturkan kepalaku ke dinding. Tapi aku adalah anak pertama, aku harus kuat, tidak menunjukkan lemah sedikitpun. Aku mendengarnya dengan kepala tegak.

Begitulah, tiap orang memiliki panggilan masing-masing yang membuat dirinya pulang. Malam itu aku langsung menghubungi keluarga dan memesan tiket pertama pulang ke Padang.

Selama perjalanan, aku tak henti melamun. Ada banyak pengandaian yang melintas di kepalaku, andai Ibu tidak sakit, andai aku pulang lebih awal, dan beragam andai lainnya. Apa lagi yang harus kusemogakan sekarang? Kini segalanya sudah mencapai titik, yang tersisa ke depan hanya nostalgia-nostalgia dan melankolia.

Sesampai di rumah aku bergegas ke ruang tengah, ruangan yang biasanya kami gunakan untuk berkumpul itu sudah ramai, beberapa kukenal, beberapa lagi asing di mataku. Di tengah ruangan, Ibu tidur dengan tenang, badannya terbungkus kain. Aku bersimpuh di sampingnya, belum menangis.

Saat membuka kain penutup muka, kulihat ibu tersenyum. Melihat itu barulah tangisku meledak-ledak bagai kembang api di angkasa. Kupeluk Ibu erat-erat. Kuciumi pipinya, kuciumi keningnya, dingin. Badanku bergetar hebat, tak bisa kusembunyikan haru yang kutahan-tahan sejak menerima berita kepulangan Ibu. Beberapa hari setelah ibu berpulang pun aku hanya bisa merenung.

Ada kekosongan yang sangat dalam di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Awalnya aku berupaya untuk mengisi kekosongan itu, tapi lama kelamaan kusadari mungkin kekosongan itu memang tak akan pernah bisa diobati. Kekosongan itu adalah ruang khusus untuk Ibu yang akan terus kubawa.

Kehilangan tetaplah kehilangan, ia bisa membuatmu seperti manusia berdaging tanpa semangat hidup. Itulah kenapa butuh waktu lama bagiku untuk sekadar berani memulai obituari ini. Beberapa kali aku mengurungkan niat untuk menyelesaikannya. Ada air mata yang terus kulawan, sebab tulisan ini adalah upayaku untuk mengenang, untuk mencintai lagi kehidupan, walau tanpa ibu.

Begitulah jalannya hidup, roda akan terus berputar dan aku mungkin akan bertemu dengan kehilangan-kehilangan lain.

Bu
Yofa sayang Ibu
Kau adalah wanita terkuat di alam semesta, sekarang beristirahatlah
Tenang di sana ya bu

9 thoughts on “Ibu, Aku Pulang (2)”

  1. Penulisku datang, mengabarkan perempuan yang telah pulang. Dari pulau seberang, doaku lantang ke telinga Tuhan. Semoga Ibu tenang, semoga Ibu senang. Amin.

Leave a Reply