“Ziarah itu memerlukan iman, jika tidak, kau hanya akan berakhir menjadi turis yang memandangi reruntuhan batu”
-Lama Zopa Timpoche

Iman itu pula yang menyeret I-Tsing, seorang peziarah dari Tiongkok, untuk berjauh-jauh meninggalkan kampung halamannya di Canton dan berangkat menuju India pada tahun 671. Bukan perjalanan yang biasa karena tak lagi ditempuh melalui Jalur Sutera. Alur niaga yang tersohor itu telah lumpuh akibat kepungan prajurit dinasti Umayyah. I-Tsing memiliki jalurnya sendiri. Alih-alih menggunakan keledai atau kuda, ia menaiki kapal Persia dan berlayar meniti Laut Cina Selatan.

Pada hari kedua puluh berada di lautan, kapalnya berkelok ke celah sempit Selat Malaka. Sambil menunggu pola angin untuk bertolak kembali ke utara, ia memutuskan singgah di sebuah kota asing dan telak dibuat terkesima. Dalam catatan perjalanannya, disebutkan bahwa kota yang terletak di pulau Fo-che itu dikelilingi benteng bertubuh batu bata dan memiliki pelabuhan ramai oleh kapal niaga. Penduduknya memproduksi arak dari bunga, kelapa, pinang, maupun madu. Mereka juga meracik musik dengan mengentakkan kaki ke tanah seraya bernyanyi. Di sana tinggal pula lebih dari seribu biksu yang mempelajari segala hal yang juga dipelajari oleh kerajaan tengah. Bertebaran di luar kota, berbahagia, dan tidak membayar pajak.
Tiga setengah abad kemudian, seorang peziarah lain dari India bernama Atisha mengikuti jejak I-Tsing. Bersama dengan 125 orang murid, ia berlayar selama 14 bulan dan menginjakkan kaki di tanah yang sama. Orang-orang kemudian menyebut tanah itu dengan nama Zhanbei. Catatan lain kadang menyebutnya San-bo-Zhai. Kini kita mengenal kompleks ziarah tersebut dengan nama Muaro Jambi. Terletak di Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi bergeming persis di tepian sungai Batang Hari. Ke sanalah aku meluncur, 26 kilometer berkendara ke arah timur Kota Jambi.

Aku memilih menggunakan ojek daring karena memang tak ada kendaraan umum yang memiliki trayek ke sana. Entah karena memang pemerintah sedemikian ingin agar tempat itu terjaga hingga tak satupun akses dibuat, atau malah sebaliknya, mereka tak peduli sama sekali. Apapun alasannya, satu yang pasti, bagi yang ingin melawat ke Muaro Jambi harus membawa kendaraan sendiri.

Sampai di kompleks Muaro Jambi, kutemukan dunia yang sama sekali berbeda dengan bayanganku di kepala. Muaro Jambi menua sebagai kota yang renta, lusuh, dan menunggu ajal. Sulit menemukan candi yang masih utuh, jika tidak rusak, maka hancur lebur. Sebagian reruntuhan belum dipugar, terbengkalai dalam wujud onggokan batu bata yang rata-rata menghadap ke timur. Berbeda dari candi di Jawa, percandian di tanah Sumatera hampir seluruhnya menggunakan batu bata sebagai material utama. Sebutlah Candi Bahal di Padang Lawas atau Muaro Takus di Riau. Itulah penyebab candi-candi tersebut kewalahan berjuang melawan waktu. Mayoritas rusak digerinda alam. Melihat keadaannya sekarang, sulit bagiku membayangkan bahwa Muaro Jambi pernah menjadi pusat peradaban paling maju di jantung pulau Andalas.
Di depanku kini hanya teronggok sebuah bangunan yang terlalu sederhana jika disebut candi, namun terlalu rumit jika hanya disebut gundukan tanah. “Mungkin tempat ibadah,” kata seorang pemuda. “Mungkin tempat berkumpul,” timpal yang lain. Tidak jelas. Masyarakat yang hidup di sekitar kompleks Muaro Jambi tak ambil pusing atas kehadiran situs agama di kampung mereka. Wajar belaka, sampai sekarang belum ada satupun arkeolog yang berani menyebutkan fungsi utama dari Muaro Jambi. Beberapa masih berspekulasi bahwa kompleks ini dulunya adalah sebuah universitas karena bentuknya sangat mirip dengan kampus di Nalanda, India.

Jika memang demikian, pastilah kawasan ini teramat megah pada masanya. Sistem kanal diperkenalkan agar kapal-kapal dapat dilabuhkan. Ribuan biksu berdatangan dari seluruh penjuru, bagai serangga yang terpikat pada neon. Muaro Jambi menjelma menjadi destinasi, bukan cuma sebagai kampus untuk belajar agama Buddha, tapi juga sebagai rujukan, khususnya di kawasan Asia Selatan. Namanya bersinar dalam peta penyebaran agama. Dicatat sebagai salah satu kerajaan melayu kuno yang pernah jaya. Namun itu semua masih asumsi. Sulit menemukan satu dokumen utuh mengenai sejarah Muaro Jambi. Kisah-kisah peradaban di Muaro Jambi selalu saja terserak dan literatur yang membahasnya jarang berlandaskan kajian ilmiah. Sebenarnya di abad 15, Tome Pires, sang pengelana yang diutus Portugis, pernah berkunjung ke Jambi. Tapi ia hanya mampir sejenak dan mencatatnya dengan tergesa-gesa. Dalam bukunya, Suma Oriental, Tome Pires menyebutkan bahwa tanah Jambi berdempetan dengan tanah Tongkal di satu sisi dan tanah Palembang di sisi satunya. Berada dalam kekuasaan Minangkabau, dan berseberangan dengan Pulo Berhala. Jambi disebutkan pernah memiliki penguasa, namun sejak Jawa mulai melakukan invasi dan mengambil alih Palembang hingga Jambi, tanah itu kemudian disebut tanah tanpa raja.

Sriwijaya kemudian menjadikannya sebagai kota lapis dua setelah Palembang diserang Raja Chola dari India. Namun keadaan tenang tak berlangsung lama, penyerbuan bergeser ke utara, Jambi luluh lantak. Sejak itu Muaro Jambi tak pernah benar-benar kembali ke masa kejayaan. Ia terpendam beratus-ratus tahun, sampai kemudian ditemukan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris saat melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Barangkali Muaro Jambi bisa lebih baik jika pemerintah setempat tak menutup mata. Namun seperti yang kita tahu, nostalgia menuntut biaya, dan untuk kasus Muaro Jambi, harga yang mesti dibayar kadang tak tertanggungkan. Kondisi ini turut diperparah dengan adanya industri sawit dan batubara. Beberapa candi bahkan berada persis di tengah-tengah lokasi pabrik maupun areal penimbunan batubara. Tak jarang komplek Muaro Jambi juga digunakan sebagai lokasi pasar malam. Komidi putar dan tong setan bahkan dipasang di tengah candi.

Untunglah masih terdapat berita baik. Sejumlah inisiatif kini mulai bermunculan. Meski belum lagi dimasukkan ke dalam rencana tata ruang kabupaten dan provinsi, beberapa ekskavasi sudah dilakukan guna menyelamatkan warisan sejarah seluas 260 hektar itu. Sudah terdapat delapan candi yang dihidupkan kembali. Pekerjaan masih banyak, masih ada setidaknya 53 menapo lagi yang menunggu untuk dilekangkan dari kepunahan. Dan itu merupakan hutang masa lalu yang meminta untuk segera dilunasi.

12 thoughts on “Ziarah Di Tepi Batang Hari”

  1. Jadi teringat Candi Abang di Yogyakarta yang diberi nama begitu karena candi yang berwarna merah sebab dibangun menggunakan batu bata. Jangan harap berbentuk candi, yang ada hanya sebuah gundukan tanah mirip bukit Teletubbies. Dari literatur yang pernah aku baca, candinya itu ya gundukan tanah itu alias ia sudah tertimbun tanah. Tempatnya memang sekarang banyak yang berkunjung untuk berfoto ria, mereka berada di atas gundukan itu. Mungkin nggak sadar kalau itu sebenarnya candi. Aku juga begitu sih sebetulnya. Haha.

    Mengingat minat wisata sekarang ke arah instagram, aku tak menampik bahwa mungkin cara yang paling mudah ya membuat foto bagus yang diviralkan melalui Instagram.

    Waktu tes CPNS kemarin, aku belajar sejarah dan sempat membahas soal Muaro Jambi. Setelah aku belajar, rasanya aku ingin hidup seperti ITsing, berjalan dan mencatat apa saja yang aku temui. Seru sepertinya.

    1. Biasanya candi di Jawa yang sudah menggunakan batu bata lahir di zaman Singosari dan setelahnya
      banyak yang masih bertahan, banyak juga yang sudah rusak 😀
      lagipula pengelolaan candi di Indonesia terkesan ga serius, makanya jarang ada yang tertarik sama wisata satu ini

      hwahaha,
      berjalan dan mencatatnya
      sepertinya menyenangkan
      yok jalan-jalan

    1. Benar, candi di Jawa Timur juga ada yang menggunakan batu bata
      umur candi yang pakai batu bata bisa dibilang relatif baru jika dibanding sama candi yang menggunakan batu kali
      makanya, rata-rata candi batu bata digunakan Majapahit

  2. Sedih ya liat kondisinya, padahal katanya kompleks Candi Muaro Jambi ini aslinya lebih gede daripada kompleks Angkor Wat lho. Mudah-mudahan pemerintah setempat lebih peduli ya, sayang banget kalo tempat bersejarah seperti ini diabaikan.

    1. kabarnya gitu sih kak
      Angkor Wat itu gede banget, dan kabarnya di Muaro Jambi lebih gede lagi
      ga kebayang kalo bisa dipugar semua
      bukan ga mungkin mendatangkan sumber pemasukan baru bagi pemerintah dari sektor wisata

  3. Hmm, andaikata istana/keraton kerajaan Sriwijaya, Singosari dan Mojopahit ditemukan bisa dibayangkan betapa megah dan akan membuat kagum bagi siapa saja yang melihat. Jika melihat kisah nya yang begitu masyhur di nusantara. Barangkali akan lebih “wah” daripada Istana Versailles di Prancis.

  4. Nostalgia menuntut biaya. Benar, tapi terasa getir. Negeri seluas ini memang masih menomor sekiankan untuk urusan nostalgia ataupun sejarah macam ini. Masih banyak hal yang harus diurus, masih banyak yang membutuhkan biaya tak sedikit.

    Tapi bagaimanapun, peninggalan2 masa lampau seperi Muaro Jambi ini sebenarnya adalah jati diri bangsa. Salah satu tonggak sejarah sebelum negeri ini berdiri, rasanya sangat disayangkan bila tak terurus.

  5. runtutan sejarahnya lengkap banget dan detail bang, aku yg orang Jambi aja malah gak tau mas, pernah sih beberapa kali kesana nganter temen blogger, tapi ya gak kepikiran kalo I Tsing awalnya gak sengaja niat kesitu, terimakasih infonya bang

Leave a Reply

%d bloggers like this: