Setiap pencerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Itu pula sebenarnya niatku meski pada akhirnya hanya bisa kudapatkan sebaris kalimat pengakuan bahwa aku adalah seorang penebang hutan.

Benar, tidak ada yang salah baca di sini dan aku sedang tidak keliru menulis. Aku bisa saja memulai cerita dengan slogan heroik soal hutan yang paru-paru dunia, atau semacam nostalgia puitik perihal sensasi memasukinya saat usiaku masih belasan tahun. Tapi kali ini aku tidak hendak berkisah tentang lumut yang basah ataupun segar aroma tanah. Aku sedang tidak ingin mengarang-ngarang alasan tentang apa yang sebenarnya tidak baik, tapi dibedaki sebegitu rupa hingga terlihat menjadi menarik. Tidak.

Sebagaimana pengakuan, tentu kini aku juga dihampiri oleh rasa bingung karena tidak tahu harus memulai cerita dari mana, bisa jadi karena terlalu kompleks atau karena diburu rasa bersalah. Berat, tapi biarlah kucoba mengurainya satu per satu.
Semua berawal dari sebuah pesan pendek. Banyak sekali masalah di hidupku yang bermula dari sebuah pesan pendek, kepergok selingkuh atau sekadar pemberitahuan dari provider bahwa nomorku telah habis masa tenggang. Dan saat pesan pendek itu datang, pada satu pagi cerah, aku tahu bahwa masalah yang akan kuhadapi, akan jauh lebih besar.

Pesan itu berisi ucapan selamat karena setelah menjalani serangkaian tes dan wawancara, aku berhasil diterima bekerja di kantor yang kulamar seminggu sebelumnya. Tidak ada yang aneh, belum jika ingin lebih spesifik. Perasaanku waktu itu hanya campur aduk antara bingung, tidak percaya, dan letupan semangat yang berlebih-lebih, yang ternyata mendadak padam pada hari pertama masuk kantor.

Penyebabnya bukan ketidaksesuaian lingkup pekerjaan dengan latar belakang pendidikan yang membuatku kemudian patah arang, melainkan perkara sederhana yang bertentangan dengan hati kecil. Tugasku selain merancang rumah yang bisa dibongkar pasang, juga dituntut untuk menggunakan kayu sebagai material utama, alih-alih beton atau baja. Ada ludah yang kurasakan tertelan, lalu hampir setiap malam aku tidak bisa tidur memikirkan apakah telah keliru mengambil langkah. Perlukah aku mempertahankan idealisme kuliah soal lindungi bumi demi seperiuk nasi?
Aku lantas teringat pada temanku yang pernah begitu mengutuk pertambangan karst. Baginya alam terlalu mahal untuk ditukar dengan kerusakan akibat tambang, dan ia bersumpah tidak akan berhenti memperjuangkan suaranya. Sayang ia kemudian melanggar janji, kini asap dapurnya berasal dari gaji bulanan pabrik semen. Tentu sebagaimana yang lain, ia pun sebenarnya memiliki pilihan, mengundurkan diri atau diam menerima keadaan. Nyatanya ia menyerah dengan opsi ke dua, meskipun masih terlihat setitik letih di wajahnya saat menyaksikan batu-batu kapur dikeruk tanpa ampun.

Kutemukan diriku tak berbeda dengannya, mengutuk keputusan sendiri meski tetap menjalaninya sehari-hari. Kesibukan-kesibukan baru telah memendamku begitu rupa sehingga tak ada lagi waktu luang untuk berpikir apakah yang sedang kukerjakan benar atau tidak. Aku pernah menghitung-hitung seberapa parah telah merusak hutan, dan angkanya mengejutkan. Mari kujelaskan sedikit, dalam satu kontainer pengiriman produk jadi, terdapat kurang lebih 28 kubik kayu. Dalam satu bulan, kantorku sanggup mengekspor sampai 30 kontainer, setara dengan 840 kubik kayu.
Tidak berhenti sampai di situ. Untuk memproduksi produk siap kirim, diperlukan proses panjang yang memakan rendemen sekitar 50 persen, itu berarti 840 kubik produk tadi memerlukan sawn timber sebanyak 1680 kubik. Selesai? belum. Untuk menghasilkan sawn timber, ada proses pemotongan kayu oleh saw mill yang juga memakan rendemen sekitar 50 persen. Jadi total log kayu yang sebenarnya dibutuhkan adalah 3360 kubik. Jika saja dalam satu batang pohon terdapat 3 kubik kayu yang bisa dimanfaatkan, maka total pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan ekspor adalah 1130 pohon. Angka itu untuk jumlah satu bulan, kalikan 12 jika ingin tahu total setahun.

Sungguh aku telah berhutang banyak kerusakan pada negeri ini. Di saat orang lain sibuk berkampanye tanam 1000 pohon, aku malah berlaku sebaliknya, dan itu membuatku semakin merasa tertekan.

Enam bulan berlalu, seorang rekan kerja mungkin menyadari kegelisahanku, ia akhirnya mengingatkan untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri. Selayaknya teman yang baik, ia kemudian menjelaskan tentang pembagian hutan menurut fungsinya. Aku yang awam soal pengaturan-pengaturan semacam itu tentu tak mau menyia-nyiakan pengetahuan baru tersebut. Maka kudengarkan penjelasannya dengan tenang.
Hutan di Indonesia bisa dikategorikan menjadi tiga. Masing-masing adalah hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Menurut Undang-undang no.41 tahun 1999 tentang kehutanan, kategori ketiga adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Selain itu, masih ada hutan tanaman industri yang sengaja ditanami untuk memenuhi kebutuhan kayu keras pertukangan maupun industri kertas. Mudahnya, ia menjelaskan bahwa kayu dari hutan-hutan inilah yang kita tebang untuk bisa dimanfaatkan.

Lagipula, pohon cepat atau lambat memang harus ditebang, sebab jika ia mati secara alami, entah itu tumbang tersambar petir atau karena sudah tua, maka ia akan kembali melepaskan karbon yang selama ini ditampungnya ke udara. Dan itu bukan merupakan hal yang baik. Jika kata-kata temanku itu adalah sebuah doktrin, maka bolehlah kiranya kukatakan bahwa aku telah diracunnya secara habis dan sempurna.

Di titik ini aku menarik nafas lega sambil menoleh lagi ke belakang, betapa selama ini aku telah hidup dalam perspektif tunggal dan bertahan padanya. Aku seakan mengabaikan cara pandang lain yang barangkali lebih baik. Boleh jadi banyak dari kita yang berperangai serupa, mengadili sesuatu hanya berdasarkan prasangka. Kita boleh jadi punya cara masing-masing dalam melihat, tapi untuk mengetahui lebih dalam, kadang memang diperlukan untuk masuk dan menceburkan diri.
Sejak saat itu aku berusaha keras mencintai pekerjaanku, sangat keras bahkan. Berbagai kajian tentang hutan berkelanjutan mulai kupelajari lagi. Segala macam sertifikat legalitas kayu, baik itu SVLK, FSC, SKAU, ataupun lacak balak memenuhi kepalaku. Semakin banyak waktu yang kuhabiskan untuk membaca, semakin terang kini aku memahami bahwa sustainable, seperti juga reuse, reduce dan recycle adalah istilah-istilah yang terlalu jauh dari masyarakat, hingga seringkali gagal dimengerti. Wajar kukira selama ini aku mendapat banyak sekali pertentangan sebab jarang ada orang yang paham tentang cara mengelola hutan dengan benar dan berkelanjutan.

Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui adalah sebuah kewajaran selama aspek legalitasnya terpenuhi. Apakah sawah akan lenyap jika setiap hari manusia Indonesia memakan beras yang berasal dari padi? Tidak, jika masih ada petani yang menanamnya kembali. Sekarang ubah padi dengan pohon, hutan tidak akan pernah gundul jika setelah melakukan penebangan, pohonnya ditanam kembali. Analogi yang sama dengan skala diperbesar dan waktu panen yang sedikit lebih lama. Begitulah kurang lebih prinsip sustainable forestry. Sebuah konsep yang sebenarnya bukan tidak mungkin untuk dilaksanakan.

Tentu setiap orang pasti memiliki ego untuk dipertahankan, akupun demikian. Bukan bermaksud membela diri, tapi jika ingin dikaji sedikit lebih dalam, penyebab terbesar kerusakan hutan di Indonesia bukan berasal dari sektor industri kayu, melainkan pembakaran hutan dengan sengaja untuk membuka lahan perkebunan ataupun pertambangan. Ini adalah kasus yang terlampau usang untuk dicari penyelesaiannya sedang masing-masing dari kita memilih diam dan menutup mata. Kita terlampau sibuk dengan wacana besar sampai lupa akan hal-hal sederhana mengenai pentingnya menjaga sesuatu.
Saat menulis ini, sedikit banyak aku sudah bisa berdamai dan mengakui pekerjaanku dengan kepala tegak. Lagipula tak banyak anak muda yang bekerja di industri kayu dan tentu saja ini menarik, sebab menjadi berbeda adalah laku paling berani di negeri ini.

Akulah si penebang hutan. Tugasku mengubah pohon menjadi produk kayu bernilai guna untuk kemudian menjadikannya sebagai bahan utama membangun rumah. Senang rasanya membayangkan suatu saat seluruh bangunan yang kutemui akan terbuat dari kayu. Bukankah menghutankan sebuah kota adalah ide yang tidak terlalu buruk?

——————————————————————————————————————————————————————————————————————
Tulisan ini adalah bentuk partisipasi thelostraveler.com sebagai salah satu bagian dari keluarga besar Travel Bloggers Indonesia dalam memperingati Hari Hutan Sedunia. Silakan kunjungi tulisan lainnya di:
Albert Ghana – Suatu Pagi di Hutan Desa Benowo, Purworejo
Atrasina Adlina – Bumi semakin Kerontang, Hutan sering Ditebang
Edy Masrur – Hutan Jati Sengsara Berbuah Cinta
Firsta Yunida – International Day of Forests: Stories About The Forest
Indri Juwono – Gemerisik Hutan Pinus Bandung
Liza Fatiah – Hutan Wakaf, Sebuah Inisiatif untuk Menghijaukan Aceh
Parahita Satiti – Cerita Hutan dari Tiga Perempuan
Olive Bendon – Keluh Kesah Pepohonan
Rey Maulana – Hutanku Dulu, Hutanku Kini
Shabrina Koeswologito – Sustainable Travel: A Path Toward Sustainable Forestry
Titiw Akmar – Hutan Itu Berharga. Hutan Itu Indonesia
Tracy Chong – World Forestry Day 2017: Why I Love Forest and You Should, too!

33 thoughts on “Pleidoi si Penebang Hutan”

  1. Di kampungku, mayoritas rumah juga terbuat dari kayu. Selain karena kayu mudah didapat, material utk membuat rumah daribeton sangat mahal di sana. Jadi orang2 kayalah yang punya rumah beton

    1. Di kota malah kebalikannya kak, rumah orang kaya yang terbuat dari kayu 😀
      soalnya bahan baku melewati beberapa proses, mulai dari pengawetan, pengeringan, sampai rekayasa struktur
      jadi nilai jual kayu nambah

  2. sayang banyak yang belum memahami kategori hutan itu kk, dan pengunaan istilah2 asing itu memang menjadi asing bagi sebagian orang awam

    btw suka dengan penggalan kalimatnya, menjadi berbeda adalah laku paling berani di negeri ini

    1. Nah, ya itu dia kak Olive
      bahasa-bahasa yang dipakai ga umum dipakai sama masyarakat, jadi terkesan jauh sekali, seakan ada jarak
      hhhmmm.. yaa mungkin dimulai dengan mengedukasi orang-orang terdekat dulu aja kali ya
      hehehe

      Thanks kak, such an honor 🙂

    1. jika melihat penyebab deforestasi terbesar, seperti yang udah kubilang di atas Rey
      kebanyakan yang melakukan pembalakan hutan besar-besaran adalah perkebunan dan pertambangan
      caranya si ya pemerintah harus tegas dengan peraturan
      selama izinnya ga ada, harus berani dibawa ke ranah hukum (itupun selama suap-menyuap ga dapat tempat, haha)
      ada juga sih pembalakan yang dilakukan masyarakat, paling untuk perluasan pemukiman, tapi itu ga seberapa sih

      trus apa yang bisa kita lakukan?
      mulailah cerdas memilih barang-barang yang berasal dari hutan, pastikan aspek legalitasnya terpenuhi dulu

  3. Perasaan macam itu pernah kualami juga, dulu. Aku begitu tergiur dengan profesi planter yang secara harfiah bermakna penanam. Kegiatanku yang sebelumnya bergelut dengan WWF dan Greenpeace pun kupikir juga sejalan sebagai seorang penanam. Sayang, kenyataan balik meredam ekspektasi yang kadung membuncah. Menanam yang dimaksud adalah menumbuhkan sawit. Artinya merambah hutan. Membuka lahan. Tentu aku yang sudah kolot dengan ideologi ‘mari selamatkan hutan dan isinya’, harus rela melepas pekerjaan yang dianggap kebanyakan orang begitu menjanjikan. Sementara temanku, serupa temanmu, yang dulu mengutuk perambahan hutan malah balik tergiur. Demi sebuah alasan, “Aku tak mau lagi hidup lama nelangsa.” Keputusan yang akhirnya membuat kami kini tak lagi bersapa, lantaran pro dan kontra. Beruntung jika profesimu masih bisa punya nilai baik bagi alam, walau secara umum menebang pohon bagi pemerhati flora dan fauna tetaplah perilaku yang sulit diterima.

    Ngomong² masih baikkah hubunganmu dengan sahabatmu itu, mas Yo?

    1. “walau secara umum menebang pohon bagi pemerhati flora dan fauna tetaplah perilaku yang sulit diterima”
      nah, yang ini sampe sekarang aku masih belum nemu apologinya, hehe
      iya sih, dan seberapapun legal kayu yang kita ambil, ekosistem eksisting tetap akan terganggu

      untungnya masih temenan sampai sekarang Tom, haha
      eh, adekku juga sekarang kerja di sawit loh
      katanya sih ga betah, mau resign, good boy 😀

  4. I believe we always can make a difference at the place we are stand right now.

    yeah banyak terminologi dan standar khusus untuk menghadapi pasar luar negeri tapi bukan berarti kita ga bisa make a difference as well 🙂 Mengerti dan kemudian menjelaskannya secara sederhana dengan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat itu yang lebih penting bagi masyarakat Indonesia saat ini.

    1. I believe we always can make a difference at the place we are stand right now”
      bener banget kak, sepakat, hehe
      setidaknya dengan ilmu baru, jadi punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat
      kalau secara instansi sih paling pemberian pemahamannya baru ke client, soalnya terlibat langsung
      kalau ke masyarakat yang lebih luas, paling ya mulai dari kerabat dulu aja 😀

  5. Memang saya selaku orang awam selama ini selalu berpikiran jika kayu terus menerus ditebang untuk dijadikan rumah atau produk lainnya, hutan akan habis. Tetapi setelah dijelaskan sedemikian rupa, dengan regulasi yang telah diatur, saya mulai mengerti. Memang sudah seharusnya hal – hal seperti ini disosialisasikan kepada masyarakat, agar mereka tidak salah menilai.
    Pengakuan yang baik untuk Kak Yoff. 🙂

  6. Perasaan yang sama denganku ketika bekerja di anak perusahaan pabrik semen. Tapi sayangnya, pemahaman lingkungan terhadap gunung kapur tidak ada pengelompokan sebagaimana di hutan.
    Menebang pohon harus penuh kesadaran membangun kembali..

    1. hehehehe, tapi emang dulu waktu masuk kerja gitu ga dicuci otak dulu kak?
      ga dikasi doktrin-doktrin kalo kita ambil gunung kapurnya ga banyak2 atau apapun gitu?
      aku awal masuk uda langsung diingetin 😀

  7. Hallo bang Yofa? semoga sehat. Aku pernah melihatmu di CL. Kira-kira dua tahun lalu. Aku suka tulisan ini. Selain renyah, ada pergulatan antara dirimu dengan hantu-hantu di balik tempurung kepalamu.

  8. Ah terimakasih atas tulisan ini mas. Saya mendapat ilmu dan persepsi baru tentang dunia ini, khususnya kehutanan, kayu-kayuan, dan banyak lagi.

    “sebab menjadi berbeda adalah laku paling berani di negeri ini.”, saya suka kalimat ini, tapi tentunya yang positif ya 🙂

    1. terima kasiih mbak, senang kalo ada yang suka sama tulisannya 🙂
      soal kalimat di atas, positif ataupun negatif, menjadi berbeda tetap laku paling berani
      soalnya di Indonesia, orang masih takut dengan adanya perbedaan 😛

  9. pertempuran hebat ketika memilih ego atau bertahan dengan pekerjaan.tapi saya salut ketika bang yofa bisa memilih bertahan dan mencari tahu kebenara dan mendapat ilmu lebih dalam fungsi hutan.tak ada salahnya,walau saya sempat terhanyut dalam gembar gembor ikut menyuarakan menjaga hutan tapi setelah membaca tentang si penebang ini sedikit mulai membuka mata dan cara berpikir saya

    1. iya, dulu memang sempat bingung sendiri, tapi setelah mempelajari lebih jauh, ga ada salahnya kok
      justru para pemain kayu takut banget kalau hutan habis, mereka jadi ga bisa makan
      makanya kami menjaga, mengelola dengan baik

Leave a Reply