Collective Post

Photography

Contact

Hikayat Orang Mati

Kisah ini sesungguhnya adalah kisah terlarang yang tak boleh kau dengar, apalagi ditutur ulang. Oleh orang-orang tua di kampungku, yang paham benar soal hikayat, cerita ini bahkan dipendam dalam-dalam agar tak beranak pinak pada siapapun. Namun kali ini biarlah kubuat sebuah pengecualian. Aku akan menterakannya dengan ketentuan hanya boleh kau simak sekali saja. Setelah itu,…

Berkenalan dengan Rantepao

Pagi buta, sebuah bus yang sudah terlambat setengah jam tampak bergegas memasuki terminal. Bukan sungguh-sungguh terminal dalam arti sebenarnya, melainkan hanya seruas jalan di mana bus dapat berhenti dan mengeluarkan penumpang. “Pemberhentian terakhir,” teriak kondektur sambil kemudian membukakan pintu samping. Laung singkat itu ibarat lonceng yang membuat semua orang tiba-tiba sibuk mengemasi barang. Aku yang…

Dua Museum yang Mencintai Kesunyian

Aku tidak begitu terkejut saat menyadari bahwa hari itu menjadi pengunjung satu-satunya di Museum Kota Makassar. Dari buku tamu kemudian kuketahui pengunjung terakhir, yang kebetulan datang kemarin, juga berjumlah satu orang. Kemarinnya lagi, satu orang. Bahkan dua hari sebelumnya, nihil belaka. Barangkali benar jika museum boleh disebut sebagai tempat paling sunyi di Makassar, setelah perpustakaan…

Hutang Lama yang Tertebus

Dulu. Dulu sekali, saat masih belum mengenal sekolah, senja bagiku adalah waktu yang paling menyiksa. Terlebih ketika berserah-terimanya azan dan ikamah magrib. Aku akan sekuat tenaga diseret ke kamar mandi, ditelanjangi, dimandikan paksa, dipakaikan baju longgar, dan tiada peduli tangisku meraung, bedak itu, yang sampai sekarang masih kuingat baunya itu, akan ditaburi ke mukaku tanpa…

Kota yang Tahu Cara Bersenang-senang

“May I take a picture?” Tanyaku akhirnya memberanikan diri. “Yeah, sure. It’s legal, you can take any pictures.” “Thanks,” balasku bahagia mendengar jawabannya. “Please, tag us on facebook, if you don’t mind.” Sepuluh menit sebelum percakapan itu terjadi, aku masih gamang memutuskan apakah masuk atau surut sama sekali. Dari luar, bangunan bercat putih itu terlihat…

Di Dalam Pesawat

Aku menulis catatan ini sebagian besar di lambung pesawat saat berada dalam perjalanan panjang menuju Taiwan, kemudian disambung lagi saat membelah langit yang terentang di atas samudera Pasifik menuju San Francisco. Ini adalah perjalanan panjang ke duaku setelah Australia. Mungkin bagi sebagian orang, terkurung dalam perjalanan berbelas jam dengan telepon yang tidak berbunyi dan internet…

Pleidoi si Penebang Hutan

Setiap pencerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Itu pula sebenarnya niatku meski pada akhirnya hanya bisa kudapatkan sebaris kalimat pengakuan bahwa aku adalah seorang penebang hutan. Benar, tidak ada yang salah baca di sini dan aku sedang tidak keliru menulis. Aku bisa saja memulai cerita dengan slogan heroik soal hutan yang paru-paru dunia,…