Ada satu hal yang belakangan sering sekali kulakukan. Mengecek ponsel dan berharap ada namamu di sana. Mungkin bodoh mengharapkan sesuatu yang jelas mustahil, seperti menginginkan abu dari tungku-tungku pembakaran yang tidak pernah menyala. Tapi Puan, bukankah manusia seperti kita memang dilahirkan dengan kepala sekeras batu? Alih-alih menjadi dewasa dan berdamai dengan keadaan, aku malah memeliharanya, mengoleskan minyak agar harapan itu tetap membara.

Barangkali melankolia seperti ini mulai membuatmu kesal dan memuakkan. Barangkali jika sempat, kau akan lantang meneriaki telingaku untuk segera menerima kenyataan dengan kepala tegak. Kau boleh saja memaki sebagaimana boleh memilih untuk tidak peduli. Kau juga boleh membenciku hari ini, esok, dan seterusnya. Tapi mengertilah Puan, aku jatuh lebih dalam dari apa yang kau bayangkan.

Pernahkah kuceritakan padamu bahwa hampir sewindu aku menganggap cinta adalah remeh temeh yang melelahkan? Sampai kemudian aku menemukanmu dan percakapan pun mengalir. Pada dirimu aku menemukan kenyamanan, lantas jatuh cinta. Bukankah menyenangkan saat menemukan orang yang memiliki pemikiran serupa di tengah rimba raya manusia? Kau seperti menemukan rumahmu, menemukan tempat untuk pulang. Kita tahu, ah tidak, aku tahu, berada di samping orang yang memahamimu itu sangat melenakan.

Itu sebabnya aku mencintaimu dengan keras kepala dan tanpa logika. Siapa yang bisa masuk akal saat jatuh cinta? Siapa pula yang bisa berakal sehat saat patah hati? Lagipula untuk apa berpikir, cinta itu hanyalah kegawatan yang sederhana, dibikin besar karena endorfin yang kepalang memenuhi otak. Kau tahu itu, aku tahu itu, kita berdua menyepakatinya. Seharusnya tetap seperti itu, sampai satu waktu kau mengelak.

“Tidak sesederhana itu,” katamu. “Mungkin bagimu cinta itu sederhana, tapi buatku dan keluargaku tidak. Dari sisi budaya dan sosial harus bisa diterima.”

Kita semua mempunyai pilihan Puan, dan setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi. Hanya saja kau begitu takut pada akibat dari pilihan tersebut. Kita semua takut, aku pun demikian. Tapi satu yang harus kau tahu, kau tidak akan menjalani ketakutan itu sendirian. Kita akan menjalani ketakutan itu bersama-sama dan menakhlukkannya satu persatu. Tentu tidak mudah. Tak ada yang pernah berkata hidup akan mudah Puan, hidup yang mudah tak layak untuk dijalani. Ah, tapi apa guna bujuk rayu ini, pilihanmu bulat dan enggan surut.

Barangkali di dunia yang sempurna, setiap rindu akan dibalas, setiap perasaan akan digenapi, dan setiap cinta akan ditanggapi. Tapi kita tahu, dunia ini tidak sempurna, dan karenanya apa yang bisa kita lakukan hanyalah memperjuangkan apa yang kita yakini, sekuat-kuatnya, sebaik-baiknya. Aku meyakinimu, lantas memperjuangkanmu, perkara hasilnya kau akan memilih orang lain, itu urusan lain. Aku akan tetap mencintaimu seperti dahulu, dalam diam dan dari kejauhan.

Setelah membaca tulisan ini, kau mungkin akan menganggapku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena kehilangan balon. Terisak tidak terima sebab harus mendapat balon yang sama agar bisa diam. Benar, akulah anak kecil itu, dan aku akan tetap merengek meskipun kutahu keegoisan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan aku masih mengecek ponsel sambil berharap ada namamu di sana.

Leave a Reply

%d bloggers like this: