Saat matahari tengah tegak-tegaknya di atas kepala, sebuah kapal cepat berlari di atas Laut Sulawesi. Tuas kemudi diserongkan sebanyak 150 derajad ke arah selatan. Tujuannya satu, kepulauan Derawan, sebuah kompleks lazuardi nan terletak di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau. Secara jarak, memang akan lebih mudah mengunjungi Derawan dari Kabupaten Berau, namun karena perjalananku kali ini menggunakan jasa agen wisata, maka pilihan menyeberang laut selama dua jam menjadi pilihan utama

Konsekuensinya, di kursi depan badanku meringkuk. Hal serupa juga dialami oleh lima belas peserta lain yang duduk di kursi belakang. Sejak kapal bertolak dari Tarakan, semua tampak menyenangkan. Tak ada tanda-tanda bala ini akan bermula, langit cerah benderang, dan gelombang tidak besar. Namun satu yang tak diperhitungkan, kecepatan sekitar tiga puluh knot di atas laut ternyata memiliki sensasi yang sama dengan mengendarai mobil berkecepatan seratus di atas jalan berlubang. Perutku serasa ditinju berkali-kali, semuanya terhuyung-huyung. Bukan awalan yang bagus untuk memulai liburan.

Pukul 14.44 kami tiba di Derawan. Sementara sang nakhoda melego jangkar, penumpangnya berbahagia karena telah menginjak daratan. Sebuah gerbang dengan tulisan ‘Selamat Datang” menyambut. Jika dilihat dari lokasi geografis, aku sempat membayangkan Derawan sebagai pulau yang terpencil dan membeku dalam arus waktu. Ia tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain di sekitarnya. Namun kenyataan berbicara lain, mesin-mesin pariwisata telah menancapkan cakarnya di sini. Sejumlah resort bertaburan di tepi pantai, turis berseliweran, rumah makan merekah, dan tour operator tumbuh bak cendawan di musim hujan. Sepintas kulihat Derawan bagai Gili Trawangan di Lombok sana.

Setidaknya, kepulauan Derawan memiliki 31 pulau nan jelita, mulai dari yang dihuni manusia, hingga yang hanya ditumbuhi pohon kelapa. Ada 4 pulau utama yang begitu terkenal dan tak bosan-bosan dijual dalam katalog pariwisata Kalimantan Timur, mereka adalah Derawan itu sendiri, Sangalaki, Maratua, dan Kakaban. Esok kami akan mengunjunginya satu-persatu, tapi kini waktunya menuju penginapan. Aku mendapatkan kamar yang terpancang di atas laut, bertiga dengan Audi Rakhmadan dan Raka Yogaswara. Agenda untuk hari ini adalah tidak melakukan apa-apa, hanya beristirahat, dan menunggu matahari runtuh di lautan.

Namun aku yang terlampau bersemangat, memang tak bisa disuruh diam di dalam kamar. Bertiga dengan Ryan dan Icha, kami memutuskan untuk berenang di kawasan dermaga. Keputusan yang berakhir dengan badan menggigil serta hati yang kecewa karena kondisi perairan sekitar dermaga penuh oleh berbagai macam sampah. Membuktikan bahwa surga memang tak selalu semanis gula. Kesalahan pertama, jangan berenang saat senja menukik di dermaga Derawan, laut itu dingin dan bawah airnya bagai tempat pembuangan limbah.

Hari kedua, kapal kembali menjadi cocktail shaker dan perut kembali dikocok dengan semena-mena. Berbeda dari kemarin, sekarang ombak lebih tinggi, gerimis jatuh, dan laut menjelma angkara murka. Belajar dari pengalaman, aku menghindari ruang depan sejauh mungkin. Di bagian belakang hentakannya sedikit berkurang, meski sensasinya masih serupa offroad di atas laut. Wajah tiap-tiap penumpang kulihat sudah berubah pucat pasi, kecuali Ryan. Kawanku yang berbadan besar itu masih terbahak-bahak, menyebabkan Adjani muntab dan meradang. Wajar saja, kecelakaan tentu adalah hal yang paling tidak diharapkan dalam kondisi seperti ini.

Satu jam lamanya kami menghadapi amuk laut sebelum akhirnya ia melunak dan mereda. Untaian doa-doa telah usai dan sebelum matahari meninggi, pemberhentian pertama terbentang di depan mata, tambak ikan Talisayan. Mesin dimatikan, kapal mengambang di permukaan laut tenang. Tak ada yang istimewa dari tambak tersebut, karena memang bukan itu alasan kami rela menempuh badai, destinasi utama justru terletak di bawah laut. Aku langsung membuka baju dan melompat ke dalam air.

Di sanalah kemudian raksasa penghuni samudera tersebut berada. Hiu jinak dengan totol-totol putih berenang hilir mudik. Berkat ukurannya yang masif, ia diberi nama hiu paus, nama yang mengkhianati spesiesnya sendiri. Bagi nelayan Jawa, ikan ini lebih dikenal dengan sebutan geger lintang, karena punggungnya bercorak serupa bintang di langit. Sejak beberapa tahun lalu, hiu paus memang muncul di sekitar bagan-bagan penangkap ikan Talisayan. Kebiasaan nelayan membuang ikan yang tidak dikehendaki ke laut, terutama ikan tembang, telah menyebabkan hiu paus tertarik dan mendekat.

Bagi para nelayan, kehadiran ikan pemakan plankton itu merupakan nasib baik karena biasanya kemunculan hiu paus diikuti dengan hasil tangkapan yang banyak. Bagi beberapa kalangan, khususnya tour operator, perihal demikian merupakan kesempatan untuk mempromosikan pariwisata dan meraup keuntungan. Atraksi utamanya, berenang dengan hiu paus.

Hiu-hiu kemudian seolah dipelihara. Acap kali, demi mempertahankan hiu tersebut tetap berada di kawasan Talisayan, para nelayan rutin memberinya makan. Akibatnya fatal, Hiu Paus lena dan lupa bermigrasi. Dengan pemberian makan yang terus-menerus, hiu paus juga akan mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan, membunuh insting berburu mereka secara perlahan, persis seperti apa yang dialami oleh singa di kebun binatang.

Selain itu, interaksi antara hiu paus dan manusia acapkali tidak terkendali. Aturan-aturan perlindungan satwa tak berlaku di sini. Tanpa tersentuh edukasi, para pengunjung bahkan dengan sengaja memegang dan mengejar hiu paus yang masuk dalam kategori appendix 2 dan dilindungi penuh oleh pemerintah tersebut. Kejadian itu persis seperti yang tengah berlangsung di hadapanku kini, serupa ikan remora, hiu paus juga diikuti oleh puluhan turis yang penasaran. Di laut yang luas ini, mereka berkerumun di satu tempat, berdesakan mengelilingi hiu paus yang menjadi pusat perhatian.

Bukan untuk melarang, aku sendiri begitu menikmati berenang bersebelahan dengan hiu paus dan tak ingin momen itu cepat berakhir. Namun alangkah baiknya jika kegiatan pariwisata berbasis hiu paus mulai mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Sejak tahun 2014, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan pedoman bagi wisata hiu paus. Sudah seharusnya para pengelola wisata di Talisayan belajar dan mematuhi pedoman tersebut, berikut sebelas di antaranya:

  1. Jumlah perahu/kapal yang akan berinteraksi dengan kelompok hiu paus harus dibatasi. Kapal yang boleh digunakan adalah kapal yang telah memiliki izin resmi dari pengelola.
  2. Kecepatan maksimum perahu/kapal ketika mendekati kelompok hiu paus harus dibatasi. Kecepatan maksimum adalah 10 knot pada jarak 1 mil dari kelompok dan 2 knot pada jarak 50 m dari kelompok hiu paus. Hal ini dimaksudkan agar kedatangan kapal pengunjung tidak mengganggu tingkah laku hiu paus.
  3. Perahu/kapal yang membawa wisatawan harus berhenti pada jarak minimum 30 meter dari hiu paus. Hal ini agar kehadiran kapal tidak mengganggu tingkah laku hiu paus dan menyebabkan kepanikan.
  4. Jumlah maksimum pengunjung yang diperkenankan untuk diving dan swimming adalah 7 (tujuh) orang yang terdiri atas 6 (enam) orang wisatawan dan satu orang pemandu. Posisi penyelam dan perenang tidak boleh berada di depan kepala hiu paus dan hanya boleh berada di belakang dan samping hiu paus. Hal ini untuk keamanan wisatawan dan menghindari kemungkinan stress yang akan dialami oleh hiu paus.
  5. Pemandu masuk ke air terlebih dahulu secara perlahan sehingga tidak menimbulkan bunyi air yang berlebihan, kemudian diikuti oleh pengunjung.
  6. Durasi untuk berinteraksi dengan cara diving dan swimming dengan hiu paus maksimum 15 menit untuk setiap grup.
  7. Durasi untuk melihat hiu paus maksimum 60 menit untuk setiap kapal.
  8. Pengunjung tidak diperkenankan menyentuh hiu paus.
  9. Pengunjung tidak diperkenankan memberi makan hiu paus.
  10. Pengambilan foto hiu paus harus dilakukan tanpa bantuan lampu kilat (blitz). Adanya kilatan cahaya dapat mengganggu tingkah laku dan dapat menyebabkan stress pada hiu paus.
  11. Pengunjung harus mengikuti seluruh petunjuk dan arahan pemandu

Tapi di Indonesia, sebaik-baiknya peraturan hanya akan berakhir menjadi sebuah kesia-siaan. Sebab, bukankah masyarakat kita adalah masyarakat yang gemar melanggar sesuatu?

One thought on “Lazuardi di Semenanjung Utara Berau”

  1. Wahh bener nih, Mas. Aku pernah dengar dari seorang teman yang bekerja di perusahaan perikanan di sulawesi sana. Kebiasaan warga sekitar juga sama, gemar sekali membuang kepala udang ke laut. Kepala udang itu adalah makanan sehari-hari bagi beberapa spesies raksasa lautan, seperti hiu paus ini. Jadinya spesies itu seakan lupa pulang. Ia menjelma hewan peliharaan seperti kucing atau anjing yang siap dipanggil sewaktu-waktu. Cukup ketukkan atau buat percikan air, ia kemudian muncul, siap untuk diberi makan. Kalau kata guru Biologi masa aku SMA, ini nggak baik. Sama seperti yang Mas Yo sampaikan menjadi kehilangan insting hewan liarnya.
    Cuma katanya sih di sana itu sudah dikurangi, spesies raksasa itu kembali menjadi liar, ia berkelana dan kembali ke tempat itu pada musim tertentu saja.

Leave a Reply

%d bloggers like this: