Kisah ini sesungguhnya adalah kisah terlarang yang tak boleh kau dengar, apalagi ditutur ulang. Oleh orang-orang tua di kampungku, yang paham benar soal hikayat, cerita ini bahkan dipendam dalam-dalam agar tak beranak pinak pada siapapun. Namun kali ini biarlah kubuat sebuah pengecualian. Aku akan menterakannya dengan ketentuan hanya boleh kau simak sekali saja. Setelah itu, pastikan lekas-lekas dibungkus dalam ingatan. Simpan rapat-rapat agar kau bisa belajar dari kejadian yang telah berlalu. Begitulah.

Pada masanya, jauh bertahun-tahun silam, terdapatlah sebuah kampung terpencil yang tak tertaklukkan di lereng bukit Tana Toraja. Kampung itu dipagari oleh gunung-gemunung tinggi menjulang. Kalaulah ada jalan keluar masuk, itu hanyalah setapak yang naik turun lembah curam berbatu kapur. Namun mujur, di sana hujan jatuh murah hati, benar-benar murah hati. Tanah lembab dan sawah yang menghijau sepanjang tahun telah menjadikan kampung itu tersohor serta panjang usia. Sejak lama, kami bersepakat menamainya dengan Kete Kesu.
Patut kau ingat, bahwa dulu di sana, tegak berdiri enam tongkonan yang selalu menghadapkan muka pada arah utara. Di depannya berderet pula dua belas alang, lumbung padi sekaligus balai tempat kami biasa bersadai saat menerima tamu. Tak jauh dari enam tongkonan yang berhadap-hadapan dengan dua belas alang, menyepi sebuah lakkien, rumah sementara menaruh mayat sebelum dilepas ke alam kubur. Sebetulnya, terdapat pula beberapa lantang yang hanya dibangun ketika menggelar pesta kematian dan dibongkar jika telah usai. Namun seberapapun bertambahnya manusia di kampung itu, jumlah rumah selalu tetap, tidak bertambah ataupun berkurang. Tata letaknya juga selalu seperti itu, berdekat-dekatan, seolah memang tercipta untuk saling menjaga satu sama lain.

Satu rumah tongkonan dihuni oleh sekeluarga besar yang masih berbagi darah. Dibangun, lalu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari cicit ke nene’, lalu ke orang tua, kemudian anak, terus ke cucu, begitu seterusnya sampai ke bawah. Maka tak perlu heran jika sempat kau bersirobok puluhan tanduk kerbau melekat di muka tongkonan. Tanduk-tanduk itu perlambang jumlah kerbau yang sudah dipotong pemilik rumah untuk upacara-upacara pemakaman dari masa moyang mereka dahulu. Semakin banyak, semakin tinggi pulalah letak namanya di masyarakat.
Bila ada tongkonan yang rusak, kami orang-orang Kete Kesu, berduyun-duyun turun tangan. Berpekan-pekan bantu-membantu. Meski cara pembuatan rumah hanya diajarkan lewat bahasa lisan, kami ingat betul bentuk serat kayu Uru yang dipilih sebagai bahan konstruksi. Pohon langka berbunga cempaka itu dulu mudah sekali ditemukan di bibir jenggala. Kami pun hapal cara melilitkan rotan, sebagaimana pacak mencungkil tiang dan balok hingga tercipta berpuluh-puluh ukiran. Kami bahkan bisa dengan mata tertutup, membelah ratusan bambu betung, lalu menyusunnya saling tindih menjadi atap agar tak tampias oleh hujan. Kami tidak boleh lupa, sebab lupa adalah kepunahan.

Tapi apalah gunanya cerita itu diungkit-ungkit kembali. Bukan itu perkara yang hendak kujelaskan. Semenjak Kete Kesu beralih rupa menjadi besi berani dan menarik orang-orang dari kota jauh, kampungku sudah ibarat mangkuk cendol yang penuh manusia. Kaum-kaum pelesir itu berbondong-bondong tiba, mengambil gambar, lalu berbondong-bondong pulang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedatangan mereka, hanya saja tidak terlalu menimbulkan banyak hal baik untuk kami. Budaya Kete Kesu berubah tak tercegah.
Orang-orang tak lagi bertani, lebih tepatnya enggan. Setelah merasa mudah cari uang dengan menjual buah tangan pada turis, kenapa harus kembali bergelut dengan lumpur sawah? Selain itu, untuk membuat kampung lebih bernuansa wisata, salah satu tongkonan kini disulap menjadi museum. Entah apa musababnya. Barangkali mereka pikir manusia yang hidup di tongkonan adalah menhir yang bisa dipajang dan ditonton oleh orang-orang yang tiada kami kenal. Banyak dari pengunjung yang datang ke Kete Kesu lantas berkoar seolah paham seluk beluk segalanya, mereka menuturkan soal kampungku yang ajek, belum lagi soal sisa-sisa kebudayaan Toraja yang pagon tak lekang waktu. Tahu apa mereka soal masa lalu Kete Kesu?

Untuk menambah-nambah pengetahuanmu yang kurang itu, baiknya kau simak baik-baik, kini tongkonan yang masih tetap dihuni hanya tinggal dua rumah saja. Itupun para pemiliknya seolah berkongsi untuk tidak lagi merawat sebagaimana dulu aku dan orang-orang kampung lakukan. Betapa tidak, tengoklah sulur-sulur yang bertumbuh di sela-sela atap tongkonan itu. Memang jika dihitung-hitung, tongkonan Kete Kesu sudah berusia tiga ratus tahun. Namun bila dijaga betul-betul, ia tidak akan doyong seperti hendak menanti waktu rubuh saja.
Ah, ada satu perkara lagi yang ingin kusampaikan. Persis di belakang kampung, jika kau berjalan sedikit ke selatan, maka akan tersingkap jalan setapak yang mengarah pada sebuah tebing kapur. Tebing nan tegak sembilan puluh derajad itu bukanlah tebing biasa sebagaimana tebing-tebing lain yang pernah kau lihat, melainkan kuburan gantung di mana penduduk Kete Kesu dimakamkan.

Namun, saban matahari terbit, semakin lapuk saja makam-makam kayu yang tergantung di sana. Pegal sudah rahangku menyoraki bujang-bujang kampung untuk selekas mungkin mengganti pasaknya agar erong yang disangga tetap bertahan. Apa boleh buat, mengharapkan mereka sama saja dengan mengharapkan abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala. Tidak ada yang mendengar teriakan orang mati. Racauanku berbalik seperti memantulkan bola pada dinding. Hingga pada satu malam berbulan setengah, pasak itu menyerah. Peti matiku yang selama ini disangganya di tubir tebing, rubuh menghantam tanah.
Awalnya ganjil juga melihat tulang-belulang sendiri terserak berantakan. Tempurung kepalaku yang hanya sebutir itu tanggal dari batang leher, menggelinding seperti buah kedondong jatuh dari pohon. Kini tengkorakku itu disusun sekenanya seperti tentara hendak baris-berbaris. Disandingkan dengan entah kepala siapa, aku tak kenal, ia mati lebih dulu, sebagaimana peti matinya, jatuh lebih dulu. Tak tahulah ke mana anak cucuku kelak akan berziarah jika tulangku bisa dengan mudahnya jadi pajuan untuk dimakan anjing lewat.

Rasa-rasanya banyak sudah peti mati yang jatuh dan remuk dari tebing itu. Tidak peduli erong kerbau untuk laki-laki atau erong babi untuk perempuan, jika sudah waktunya jatuh, maka jatuhlah. Beruntung orang-orang terpandang yang lahir dari keluarga mampu berada, yang bangkainya tidak lagi digantung dan bergelayut, tapi dibuatkan patane, sebuah makam permanen. Tegak di atas tanah, keramat betul tiada cela.
Sungguh aku tidak menaruh iri, tidak pula hendak digelarkan upacara atau disembelihkan kerbau agar erongku baru kembali. Tidak, aku tidak akan menimpakan beban seberat itu. Hanya saja tidurku agak terganggu dengan kedatangan turis-turis dadakan yang kusebut tadi. Makam Kete Kesu sekarang sudah jadi wahana tempat orang-orang bersuka ria. Tak sampai akalku kenapa bisa demikian, padahal tengkorak bukanlah pemandangan yang sedap jika dipandang lama-lama, apalagi sampai disentuh dan diajak berfoto bersama.

Larisnya Kete Kesu, di sisi lain juga membuat banyak maling datang bertandang. Meskipun sudah sengaja disurukkan ke liang-liang goa, puluhan tau-tau (patung manusia yang mewakili orang mati) laku jadi sasaran curi untuk kemudian dijual di pasar gelap. Agaknya orang-orang mulai tahu bahwa budaya Toraja mahal harganya dan jual-beli patung mayat bisa jadi penghasilan yang tak sedikit. Kini ceruk-ceruk yang berisi tau-tau itu dipasangi jeruji besi. Jenaka betul, tau-tau yang dipercaya dapat melindungi keluarga yang masih hidup justru harus dilindungi dari para pencuri.
Pada akhirnya wisata hanya akan menggerus nilai-nilai yang susah payah dijaga oleh kampungku dulu. Pendatang-pendatang itu langsung maupun tidak telah menyiarkan cara-cara baru dalam berpakaian, dalam berjalan, dalam berbicara, dan sebagainya. Kampungku, sebagaimana kampung-kampung lain yang diserang oleh masifnya pariwisata, hanya bisa bertahan sambil pelan-pelan terjebak dalam pergeseran makna budaya.

Begitulah, ya begitulah kiranya kisah terlarang yang tak boleh kau dengar.

Ah, sehabis ini kau pasti bertanya-tanya apa hal yang membuat cerita itu begitu keramat hingga tak boleh diceritakan. Sesungguhnya, adalah tabu menyebarkan aib kampung sendiri pada orang lain, apalagi pendatang sepertimu. Namun kau pasti bertanya-tanya kembali, mengapa pula akhirnya cerita terlarang itu kuungkap. Mengenai hal itu, aku yakin kau akan menyimpannya sendiri, sebab orang lain pasti akan menganggapmu safih jika mengaku pernah mendengar cerita dari orang yang sudah mati, apalagi sampai menuturkannya kembali.

30 thoughts on “Hikayat Orang Mati”

  1. Ah, Abang idolaku satu ini… Lama kali ini tulisan dikeluarkan. Sudah lama dinanti! *masih inget babi kecap*

    Menarik, Bang. JAdi inget tulisan di salah satu majalah travel (kayaknya Natgeo Traveler, lupa) soal gimana pariwisata mengubah kehidupan masyarakat di Wae Rebo. Lebih jelasnya, ‘men-desakralisasi’ upacara-upacara adat di sana. Penulisnya wawancara orang-orang yang dia temuin di sana, dan ternyata, mereka merasa tarian adat di sana jadi ga seskral dulu karena udah menjelma jadi tarian penyambut turis. Duit turis, tepatnya.

    Oh iya, soal Toraja ini pernah baca juga tulisan Bang Cristian Rahadiansyah. Silakan kalau mau baca: http://destinasian.co.id/transformasi-toraja/

    1. Hehehehe, sorry bang, baru sempet nulis 😀
      Nah, betul, pariwisata itu ibarat pisau bermata dua,
      kalau ga bisa dikelola dengan baik ya bukan tidak mungkin malah ngerusak nilai-nilai lokal

      link yang kamu bagiin bagus banget bang
      nambah bacaan bermutu nih, hehehe
      makasih makasih

  2. Harusnya cerita ini bernuansa seram, tapi jadi lawak gegara roh leluhur yang dipercaya bisa melindungi malah ga bisa lindungin diri sendiri. Apa ini yang namanya “zaman udah terbalik?” Jarang2 ada yg lucu di tulisan thelostraveler.
    Itu peti matinya dari kayukah?

    Masih ada lanjutan ceritanyakan?

    1. hhhmmm… bukan serba salah juga sih kak
      cuma sebaiknya pihak yang mengelola wisata lebih menjelaskan lagi aturan-aturan mana yang harus ditaati oleh pengunjung
      jangan sampai berkembangnya suatu tempat malah melukai nilai-nilai budaya yang udah ada

  3. menarik… kebetulan saya lagi bikin tesis tentang hubungan antara pariwisata dgn lingkungan n penduduk setempat.. lumayan juga ni bisa jadi sudut pandang baru..

    1. hehehe, aku juga skripsinya mirip-mirip sama ini bang
      dulu sih nulis tentang pengaruh pergeseran makna budaya terhadap pola ruang pemukiman
      dan wisata adalah salah satunya

  4. Miris juga membaca cerita nya ya Kak, kadang memang dampak kemajuan pariwisata tidak semuanya sesuai yang diharapkan, ada kalanya seperti cerita yang tak boleh aku dengar ini ya. Ya semoga ke depannya bias lebih baik, jika memang memungkinkan.

    Btw aku baru follow Instagram nya. follback ya kakak. terimakasih

    1. iya kak, bener banget
      emang sih di satu sisi bisa ningkatin perekonomian warga lokal
      tapi di sisi lain kalau tidak dikelola dengan baik ya malah kebablasan

  5. Budaya Toraja itu memang unik, banyak beda dari budaya Indonesia yang berbasis Melayu. Tidak heran bila mereka membuka diri kemudian turis berbondong-bondong masuk, memenuhi rasa ingin tahu, dan menemukan sesuatu yang unik untuk diceritakan. Sebenarnya kalau menurut saya tidak mengapa kete kesu dibuka untuk tourism. Hanya saja memang perlu pengawasan khusus oleh siapa badan agar tempat tersebut tidak berubah oleh arus wisatawan. Dan itu tentu saja membutuhkan rencana dalam dan besar. Mungkin itu yang tidak dipunyai oleh Kete Kesu khususnya maupun wisata budaya Toraja umumnya…

    1. Tidak ada yang ngelarang kok mbak
      semua tempat emang bebas terbuka untuk wisata (Kecuali daerah-daerah cagar alam dan konservasi ya) termasuk Kete Kesu
      namun balik lagi, harus ada peraturan-peraturan yang jelas dan terkelola,
      agar bertambahnya wisata tak hanya meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal
      tapi juga ikut menjaga tradisi yang udah mereka lakukan dari zaman nenek moyang

  6. aih,,, mau sampai kapan budaya Toraja berhenti menghantui kehidupoanku ya. wkwkwk…

    kerasa mistis banget kayaknya ya ngeliat tengkorak berceceran kak.. jadi makin semangat eksplor daerah sendiri, lalu kalo dah kelar bener2 fokus jalan2 ke kota lain dan pulau di luar jawa..

    btw, itu atap yang ditumbuhi paku seru juga… keliatan adem

  7. Hallo..Udah lama banget gak mampir ke blog mu haha. Fotonya makin cakep2 aja. Seriusan itu tengkoraknya dicuri dan dijual kembali? Hmm.. susah juga ya. Pariwisata pasti ada sisi positif dan negatifnya sih. Tapi tergantung lagi gimana orang2nya bisa menyadari bahwa kebudayaan asli mereka penting untuk dijaga dan diberdayakan agar dapat mencukupi kebutuhan hidup juga. Dan harus ada edukasi juga untuk turis-turis harus menghargai kebudayaan lokal. Soalnya gimanapun juga globalisasi and modernisasi gak bisa kita hindari sih, bukan hanya ditempat wisata doank, dimana2 juga begitu.

    1. hehehe, welcome back kak 🙂
      kamu siiih, kebanyakan main, keluyuran terus 😛
      littlenomadid nya diupdate lagi kak

      hhmm.. nah bener, itu yang penting, harus ada edukasi.
      karena emang seperti yang kamu bilang kak, perubahan itu pasti, dan kita ga bisa menghindar
      tapi paling enggak, gimana perubahan itu ga terlalu cepat mengikis kebudayaan lokal

  8. Menarik. perdebatan tentang gesekan antara budaya dan wisata memang ada dan akan terus ada. entah sampai kapan.
    saya pun masih bingung kalau misalnya ditanya; bagusnya bagaimana?

    ini juga yang jadi alasan kenapa saya menahan-nahan diri untuk tidak mendatangi tempat-tempat yang sudah terlalu ramai dan menawarkan atraksi budaya. takut jadi salah satu pelaku yang akhirnya menggeser kesakralan sebuah budaya

    1. hehe, sebenarnya ga harus sampe nahan-nahan diri mas
      cukup mematuhi peraturan adat setempat saja
      yang lebih penting justru memberikan pemahaman terhadap masyarakatnya sendiri
      pemberian edukasi untuk desa wisata itu perlu
      jangan sampai datangnya turis malah justru jadinya mengorbankan budaya mereka

  9. Ah kete kesu! Belum kesampaian kesana nih kak. Memang pariwisata bagaikan pisau bermata dua. Di sisi lain banyak org jadi tahu adanya budaya Indonesia yg unik seperti ini. Sementara itu, warga lokal terbawa arus wisatawan 🙁

    Regards,
    Dee – heydeerahma.com

    1. hehehe, aku juga udah lama pengen ke sana, baru kesampean beberapa bulan yang lalu
      emang sih, kalo ga bisa membentengi diri, bakal terkikis dengan sendirinya
      Bali yang basis budayanya kuat aja masih harus megap-megap dihajar wisatawan

    1. iya kak, banyak yang dicuri, harganya mahal kalo dijual lagi
      kasusnya sama aja kaya situs percandian, jika tidak dipelihara, banyak pencurian juga khan?

  10. Pertama, aku menikmati sudut pandang yang kau pakai untuk tulisan ini bang. Aku jadi seperti menjadi sang orang mati yang memandang lesu kepada desa yang telah banyak berubah.

    Sedih ya, sudah terjadi pergeseran makna budaya 🙁

  11. Love your thought! Selalu ada dampak “miring” dari perkembangan wisata ya. Saya terakhir ke Toraja 6 tahun lalu… masa kecil saya lama di Sulsel, membuat sering kesana. Tapi gak tau perkembangannya skrg sdh seperti apa…

  12. Betapa luar biasa Indonesia dengan segala kebudayaannya. Bahkan buat pemakaman saja ada banyak cara sesuai adat istiadatnya setempat. Saya sih agak penakut, kalau liat tengkorak diluar makam agak ngeri juga ya

Leave a Reply

%d bloggers like this: