Pernah suatu ketika ada teman bertanya tentang cinta dan perjalanan. Tak butuh aku melamun terlalu, karena akan selalu ada saja yang masih segar dalam ingatan. Seperti beberapa tahun lalu di dalam sebuah gerbong bising yang melengking tak beraturan. Hentakan roda pada sambungan rel membuat kereta bergoyang semaunya.

Kita duduk disebuah kursi keras yang tegak sembilan puluh derajat. Punggungku nyeri, punyamu juga, tapi semua tak terasa kala petak sawah yang bergerak cepat diluar jendela membuatmu lupa akan segala. Senyummu mengembang, “Inilah indonesia” ucapku. Rabu cerah pertengahan bulan September. Kahuripan bergerak cepat menuju Yogjakarta, bersiap mengukirkan cerita.
tuguDi stasiun Lempuyangan, senja telah hilang, malam tiba menyapa. Kita berjalan bergandengan, sepanjang jalan ke Malioboro kau menggenggam jemariku. Merasakan jantung kita berkedut kecil di sela telapak tangan. Ketika aku diam, kau menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Kau tersenyum menyadari jantung kita adalah penyanyi dan musik pengiring yang serasi. Kala itu, senyummu begitu menyenangkan.

Malioboro tetap dengan riuhnya yang tak habis. Kita menyeberang jalan-jalan sempit dengan kendaraan penuh yang saling menjepit. Aku berjalan di sisi kanan, agar aman dirimu melintas jalan. Meneruskan langkah ke utara, kita bertemu si tugu Jogja, sedari dulu tetap begitu, masih mematung tak bersuara. Sesekali derap mobil melewatinya, dia tetap diam, menjadi mahkota di perempatan. Lampu jalan redup perlahan, malam menghabiskan diri dengan dingin.
kudaKeesokan paginya, ketika terik matahari terbit, kita melanjutkan kisah. Sesudah larik siang menjemu, kita bergerak ke selatan. Melangkahkan kaki ke bibir laut. Samudera selatan memperlihatkan kuasa, udara menderu tak usai di Parangtritis. Ombak masih setia menjenguk pantai, walau hancur berderai dan hanya meninggalkan buih, namun ia akan selalu datang kembali. Kita terkesima, aku merapikan rambutmu yang dibelai angin. “Duice est desipere in loco” ucapku menirukan Horace, adalah menyenangkan untuk sesekali membebaskan diri sendiri.
jump runMasih dengan warna langit dan laut yang beradu biru, kita duduk di tepian pantai, aku menyalakan sebatang rokok. Banyak sekali kenangan di kota tersebut, tak cukup diceritakan sekali waktu. Belum tentang megahnya Tamansari yang dahulu dipakai para diraja sebagai tempat pemandian. Belum tentang Alun-alun selatan yang berberingin ratusan tahun. Belum tentang Prambanan tempat kita menghabiskan hari dan menikmati langit sore merah merona. Aku menjentikkan abu dari ujung rokok, meneruskan menghisapnya dan perlahan membiarkan asap putih melambai di udara.
taman sari candi beringinKau merangkulku, seakan tak mau lepas bahkan dari lajunya waktu. Sedetik kemudian bibirmu telah menempel di telingaku dan berbisik “Aku mencintaimu”. Aku tersenyum tak membalas, hanya kata terimakasih dan sebuah kecup di keningmu yang mampu kuberi kala itu. Di pangkuan Yogya, kita menyisipkan harapan di celah ingatan.

Kepada Yogyakarta, kota yang tetap istimewa dengan segala kenangan, kutitipkan rinduku padamu. Rindu yang tak biasa. Rindu yang tak terlalu perlu jawaban. Rindu yang tak tergesa-gesa meminta sebuah pertemuan. Jogja tidak meninggalkan apa-apa buatku, aku yang telah meninggalkan hatiku disana.
meSampai jumpa di lain pertemuan.

50 thoughts on “Ada Cinta Di Yogyakarta”

  1. Jujur ngak begitu suka wisata sejarah semacam candi, kraton dll tapi selalu ada cinta buat jogja. menikmati keramahan warga nya membuatku selalu kembali ke jogja 🙂

    btw cerita nya menarik

  2. Ceritanya keren bang. .
    Di tunggu story berikutnya ya. Thelostraveler berhasil ngeracunin gw. Haaha. .
    Salam kenal :).

    1. aaaahhhh, langsung dikomen sama orang jogja
      salamnya diterima mas, dan balas salam juga dari malang
      hehe, jogja memang kota dengan berjuta kenangan, bukan hanya bagi saya, namun juga buat semua orang yang mengunjunginya

        1. matiiihhhh, haha, salah
          maap, maap mbak 😀
          hhmmm, kapan ke jogja lagi?
          saya sampai sekarang masih sering bolak balik jogja kok
          tapi akhir-akhir ini lagi menyibukkan diri dulu dengan urusan perkuliahan, hehe 😀

    1. hahaha, nulis tentang mantan khan bukan berarti belum bisa move on 🙂
      itu artinya kita menghargai setiap kenangan, apapun bentuknya
      ceileee… hahaha
      benar, jogja memang penuh cerita

    1. terimakasih 🙂
      berpisah tak selamanya berarti melupakan
      setiap orang berhak hidup di ruang yang bernama kenang
      bukankah karena itu tuhan menciptakan ingatan?

  3. Like this.
    Suka baca blog’nya. Sampe temen2 gua ketagihan.
    Ditunggu epidose yg d lampung selanjutnya.

  4. Mantab mas brooo,,,, q jg pux crta tu d jogja,,,,
    Q kira ni blok yg skdr tulis pnglman pribadi dg tulisan asal njeplak dg bhasa ank mudah skrg, tp trxta ni beda,,,,
    So sweet tulisanx, n fotox jg,,, keren juga gimbalx,,,, slm knal,,,,

    1. aduuuhhh, haha, maaf maaf, kebiasaan nih
      gak bisa ngebedain orang 😀
      hhmmm, aku ngambilnya pake kamera DSLR, canon 500D
      masalah bagus ato enggak itu perspektif dari masing-masing orang
      toh, foto di blog ku juga asal njepret, hehe 😛

  5. Hahahahahahaha 😀 gpp, mgkin namaq jg yg aneh,,,hehehe
    Ow pyn pkai canon sip sip sip,,,, tp kabeh opo jare tangane,,, hehehehe kata org jawa gto,,,
    0k q tunggu crt2 bolang terbaru pyn mas,,,

  6. ahhhh ceritanya ngena banget, pas banget dengan cerita saya dengan ma*tan,
    jln2 di jalan sempit, malam2 ke parang tritis, ahhhh mengingat itu rasanya nyesek mas, tapi sayang, masa itu hanya 20 hari, di karenakan aku yg hanya ikut pelatihan 1 bulan.
    jogja, i love you, saya dari jawa timur tapi sangat mencintai kota istimewa yg memberi kesan pertama yg tak mgkin bisa kulupakan, tggu aku, aku akan kesana lagi kota istimewa.

  7. Keren banget kak kata” nya (0.0)
    Suka suka banget, aku lahir di kota yang istimewa tapi aku meninggalkannya dan entah kapan akan kembali ngingetin banget sama jogja makin rindu, postingan lama tapi baru baca gpp ya kak 😀
    Skali lagi keren banget (y)

    1. Terima kasih arra, sudah senang dengan tulisannya
      wah, kamu lahir di jogja? beruntung sekali
      tapi memang baiknya seperti itu
      jika kamu tidak pergi, maka rindu akan jogja itu tidak akan pernah ada, bersyukurlah 🙂

  8. Hihi iya kak sama”, tulisannya bagus banyak tulisan yang aku baca tapi baru ini yg ngena bgt di aku, singkat. Pendek. Sederhana ceritanya sebenarnya tapi dikemas dg bahasa yang apik jadi keren banget kak 😀 sukses selalu kak 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: